Juventus Punya Pertahanan Terbaik Ketiga Serie A, Mengapa Juventus Tetap Mengganti Kiper?

21.08.2026
Juventus Punya Pertahanan Terbaik Ketiga Serie A, Mengapa Juventus Tetap Mengganti Kiper?
Juventus Punya Pertahanan Terbaik Ketiga Serie A, Mengapa Juventus Tetap Mengganti Kiper?

Juventus memasuki musim baru dengan keputusan yang sekilas bertentangan dengan statistik karena mereka mengganti hierarki penjaga gawang setelah hanya kebobolan 34 gol sepanjang Serie A 2025/26. Catatan tersebut merupakan angka terbaik ketiga di kompetisi, hanya kalah dari Como dan Roma.

Como menutup musim dengan hanya 29 gol kemasukan, sementara Roma kebobolan 31 kali dan Juventus berada tepat di belakang keduanya dengan 34 gol. Bahkan jumlah kebobolan Bianconeri masih lebih sedikit dibandingkan Inter yang menjadi juara meski kemasukan 35 gol.

Paradoks itulah yang membuat keputusan Luciano Spalletti menarik untuk dianalisis karena Michele Di Gregorio kini tidak lagi berada dalam posisi nyaman sebagai pilihan utama. Juventus justru mendatangkan Guglielmo Vicario dari Tottenham Hotspur untuk meningkatkan persaingan sekaligus mengubah susunan penjaga gawang mereka.

Juventus resmi mendapatkan Vicario dengan status pinjaman selama satu musim disertai opsi pembelian permanen. Kesepakatan tersebut dikonfirmasi kedua klub dan memberikan Bianconeri ruang mengevaluasi sang kiper tanpa langsung melakukan investasi besar.

Vicario tiba di Turin dengan pengalaman 117 pertandingan bersama Tottenham sejak pindah dari Empoli pada 2023 dan mencatatkan 29 clean sheet. Kiper berusia 29 tahun tersebut juga menjadi bagian skuad Spurs yang menjuarai Liga Europa 2025 setelah penantian panjang selama 17 tahun.

Jika hanya berpatokan pada jumlah kebobolan, keputusan Juventus mengubah penjaga gawang utama memang terlihat tidak mendesak karena struktur pertahanan mereka sudah termasuk paling efektif. Namun angka kebobolan merupakan hasil kolektif dan tidak selalu menggambarkan seluruh kualitas individu seorang kiper.

Spalletti kemungkinan tidak hanya melihat berapa kali bola masuk ke gawang, tetapi juga bagaimana seorang penjaga gawang bereaksi ketika struktur pertahanan berhasil ditembus lawan. Distribusi, komunikasi, penguasaan ruang, keberanian keluar, serta konsistensi keputusan menjadi aspek penting dalam sistem modern.

Di Gregorio sendiri sebenarnya tidak menjalani musim buruk dan tetap memberikan kontribusi penting sepanjang perjalanan Juventus di Serie A. Namun kualitas pertahanan kolektif yang kuat bisa membuat beberapa kekurangan individu tidak terlalu terlihat ketika volume peluang berbahaya lawan berhasil ditekan.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa 34 gol kebobolan tidak otomatis membuat posisi Di Gregorio aman untuk musim berikutnya. Juventus tampaknya menilai masih terdapat ruang peningkatan jika ingin mengembangkan permainan yang lebih agresif di bawah arahan Spalletti.

Vicario menawarkan pengalaman yang berbeda setelah tiga musim bermain di Premier League, kompetisi yang menuntut penjaga gawang menghadapi tekanan, duel udara, dan transisi cepat. Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah ketika Juventus membutuhkan kiper yang berani menjaga ruang di belakang garis pertahanan tinggi.

Karakter seperti itu sangat penting apabila Spalletti ingin membuat Juventus lebih dominan dengan jarak antarlini lebih rapat dan pressing lebih berani. Penjaga gawang dalam sistem tersebut tidak hanya bertugas menyelamatkan tembakan, melainkan menjadi bagian aktif dari struktur pertahanan dan fase membangun serangan.

Vicario juga telah menembus tim nasional Italia setelah memperoleh panggilan senior pertamanya pada Maret 2024 dan mengoleksi lima caps. Pengalaman internasional memperkuat profilnya sebagai kiper yang dianggap siap menghadapi ekspektasi besar di klub sebesar Juventus.

Keputusan mendatangkan Vicario melalui pinjaman dengan opsi permanen juga menunjukkan pendekatan yang relatif aman dari sisi finansial. Juventus mempunyai waktu sepanjang musim untuk menilai apakah sang kiper benar-benar mampu memberikan peningkatan signifikan dibandingkan Di Gregorio dan pilihan lain.

Namun perombakan tersebut ternyata tidak berhenti pada persaingan antara Vicario dan Di Gregorio karena Juventus juga mempertimbangkan perubahan pada posisi kiper kedua. Situasi Mattia Perin kemudian membuka kemungkinan menarik bagi Emil Audero untuk kembali ke klub tempat ia berkembang sejak usia muda.

Emil Audero Masuk Skenario Perombakan Kiper Juventus

Nama Emil Audero muncul dalam rencana Juventus apabila Perin memutuskan meninggalkan Turin pada jendela transfer musim panas ini. Kiper Indonesia tersebut diproyeksikan menjadi salah satu kandidat pelapis Vicario jika posisi penjaga gawang kedua akhirnya kosong.

Laporan jurnalis transfer Italia Nicolo Schira menyebut Juventus telah mencapai kesepakatan prinsip dengan Emil Audero. Como juga disebut bersedia membuka pintu transfer dengan nilai sekitar tiga juta euro apabila seluruh kondisi kepindahannya terpenuhi.

Situasi itu membuat masa depan Emil Audero tidak hanya bergantung pada Juventus, tetapi terutama pada keputusan yang akan diambil Perin. Sang kiper disebut mendapat tawaran kontrak tiga tahun dari Palermo, tetapi keinginannya justru mengarah pada kemungkinan bertahan di Turin.

Perin dilaporkan meminta kontrak baru hingga 2028 karena masih ingin menjadi bagian dari proyek Juventus pada musim mendatang. Apabila permintaan tersebut menemukan kesepakatan, kebutuhan klub untuk membawa Emil Audero sebagai pelapis Vicario otomatis menjadi jauh lebih kecil.

Sebaliknya, jalur kepulangan Emil Audero akan terbuka lebar apabila Perin akhirnya menerima tawaran dari Palermo dan meninggalkan Juventus. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa klub sedang menyusun beberapa skenario sekaligus untuk memastikan kedalaman sektor penjaga gawang tetap terjaga.

Bagi Emil Audero, peluang kembali ke Juventus memiliki dimensi emosional karena ia merupakan produk akademi klub dan pernah menembus tim utama sebelum menjalani perjalanan panjang. Ia kemudian memperkuat Venezia, Sampdoria, Inter Milan, Como, serta menjalani periode peminjaman bersama Cremonese.

Kiper berusia 29 tahun tersebut masih terikat kontrak dengan Como sampai 30 Juni 2028 sehingga Juventus tetap membutuhkan kesepakatan dengan klub pemiliknya. Harga sekitar tiga juta euro yang dilaporkan membuat Audero menjadi opsi relatif terjangkau jika Perin benar-benar meninggalkan Turin.

Masuknya Emil Audero dalam pembicaraan sekaligus menunjukkan bahwa perubahan di bawah mistar Juventus bersifat struktural, bukan sekadar mengganti satu nama dengan nama lainnya. Spalletti terlihat ingin memastikan posisi kiper utama dan cadangan memiliki karakter sesuai kebutuhan sistem permainan barunya.

Pada skenario pertama, Vicario menjadi nomor satu dengan Perin bertahan sebagai pelapis berpengalaman dan Audero tidak perlu direkrut. Pada skenario kedua, Vicario tetap menjadi pilihan utama, Perin pergi, lalu Emil Audero kembali ke Turin untuk mengisi posisi penjaga gawang kedua.

Di tengah dua kemungkinan tersebut, posisi Di Gregorio justru menjadi semakin menarik karena ia sebelumnya merupakan penjaga gawang utama Juventus. Kedatangan Vicario dan pembicaraan mengenai Audero memperlihatkan bahwa klub tidak sepenuhnya puas mempertahankan struktur lama tanpa melakukan perubahan.

Juventus juga sempat dikaitkan dengan nama Vanja Milinkovic-Savic sebagai alternatif lain apabila mereka membutuhkan opsi tambahan di posisi penjaga gawang. La Gazzetta dello Sport melaporkan kemungkinan skema peminjaman dengan opsi pembelian sempat masuk pertimbangan klub asal Turin tersebut.

Banyaknya nama yang beredar memperlihatkan Juventus sedang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sektor yang sebenarnya tampak aman berdasarkan statistik. Spalletti tampaknya tidak ingin terjebak oleh angka 34 kebobolan jika ia merasa masih ada bagian yang dapat ditingkatkan secara teknis.

Pertahanan Bagus Belum Tentu Kipernya

Statistik pertahanan sebuah tim dapat terbentuk dari kombinasi kualitas bek, struktur pressing, penguasaan bola, dan kemampuan membatasi lawan memasuki area berbahaya. Karena itu, sedikitnya jumlah kebobolan tidak berarti otomatis setiap pemain bertahan sudah mencapai level maksimal.

Sebuah tim yang menguasai bola lebih lama dan mempertahankan organisasi dengan baik biasanya membuat kiper menghadapi lebih sedikit tembakan berkualitas tinggi. Situasi seperti itu memungkinkan sebuah tim mencatat angka kebobolan rendah meskipun penjaga gawangnya masih memiliki beberapa aspek untuk diperbaiki.

Spalletti juga dikenal menuntut penjaga gawang terlibat dalam fase awal pembangunan serangan dan tidak sekadar berdiri menunggu tembakan. Dalam konteks tersebut, kemampuan memainkan bola dan menjaga ruang dapat memiliki nilai hampir sama pentingnya dengan refleks melakukan penyelamatan.

Vicario dianggap menawarkan paket yang lebih sesuai untuk kebutuhan tersebut berkat pengalaman menghadapi sepak bola cepat selama membela Tottenham. Juventus tampaknya berharap kehadirannya dapat meningkatkan rasa aman sekaligus membuat garis pertahanan berani mengambil posisi lebih tinggi.

Meski demikian, transfer ini tetap mempunyai risiko karena performa Vicario di Inggris juga tidak selalu sempurna dan ia pernah melewati periode sulit. Kembalinya sang pemain ke Serie A berarti Juventus tetap membutuhkan proses adaptasi sebelum mengetahui apakah keputusan tersebut benar-benar menghasilkan peningkatan.

Sementara itu, Di Gregorio memiliki keuntungan berupa pemahaman terhadap lingkungan klub, karakter Serie A, serta hubungan yang sudah terbentuk dengan para pemain bertahan. Karena alasan tersebut, persaingan penjaga gawang Juventus berpotensi tetap terbuka apabila performanya mampu memaksa Spalletti mempertimbangkan kembali hierarki.

Perin pun masih menjadi figur penting karena keputusannya secara langsung dapat menentukan apakah Emil Audero akan benar-benar kembali ke Turin. Satu keputusan dari penjaga gawang berusia senior tersebut bisa mengubah komposisi keseluruhan sektor kiper Juventus pada musim 2026/27.

Situasi ini membuat perombakan Juventus jauh lebih menarik daripada sekadar narasi Vicario menggantikan Di Gregorio di bawah mistar. Ada empat nama yang saling berkaitan, yakni Vicario, Di Gregorio, Perin, serta Emil Audero dengan skenario masa depan berbeda.

Vicario berada di posisi terdepan untuk menjadi nomor satu, sementara Perin berpeluang bertahan sebagai cadangan jika kontraknya diperpanjang. Jika Perin pergi, Audero dapat kembali, sedangkan Di Gregorio menghadapi pertanyaan terbesar terkait perannya setelah sebelumnya menjadi pilihan utama.

Pada akhirnya, keputusan Spalletti memperlihatkan bahwa statistik 34 kebobolan tidak dianggap sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki skuad. Juventus ingin mencari kualitas tambahan bahkan dari sektor yang secara angka sudah menjadi salah satu bagian terbaik mereka sepanjang musim lalu.

Paradoks tersebut justru menjadi gambaran ambisi Juventus menuju musim baru karena klub tidak ingin hanya puas mempunyai pertahanan terbaik ketiga di Serie A. Mereka ingin memastikan setiap posisi, termasuk penjaga gawang, mampu mendukung target kembali bersaing serius di level tertinggi.

Jika Vicario berhasil menjadi peningkatan nyata dan Emil Audero akhirnya kembali untuk memperkuat kedalaman skuad, strategi tersebut dapat terlihat sebagai langkah visioner. Namun jika perubahan tidak memberikan dampak berarti, keputusan menyingkirkan Di Gregorio setelah hanya kebobolan 34 gol akan terus dipertanyakan.

Scr/Mashable





Don't Miss