Hitung mundur pesta sepak bola terbesar di jagat raya, Piala Dunia 2026, kini tinggal menyisakan beberapa hari lagi. Kompetisi akbar yang akan berlangsung mulai 12 Juni hingga 20 Juli 2026 tersebut memancing perhatian komika sekaligus pencinta sepak bola tanah air, Mamat Alkatiri, untuk membagikan prediksinya.
Saat ditanya mengenai tim mana yang paling berpeluang mengangkat trofi emas, pria asal Fakfak ini tanpa ragu langsung menunjuk satu nama.
“Aku sih dari awal menjagokan Portugal ya. Karena skuadnya di tahun ini tuh udah matang. Generasi emas ya,” ujar Mamat Alkatiri, kepada awak redaksi Mashable Indonesia.
Kendati demikian, Mamat memberikan catatan kritis yang bisa menjadi batu sandungan bagi Selebritis Eropa. Ia menyoroti sosok sang pelatih, Roberto Martinez, yang dinilai memiliki rekam jejak kurang meyakinkan saat menangani tim bertabur bintang.
“Nah, tergantung Martinez ya, pelatihnya aja. Ini kan pelatih udah terbukti gagal di Belgia ya. Padahal Belgianya generasi emas juga. Sekarang dia punya generasi emasnya Portugal. Bisa gak? Gitu,” cetusnya.
Ekuador dan Turki Jadi Kuda Hitam, Brasil ‘Enggak Dulu’
Selain tim unggulan utama, Mamat juga mengantongi dua negara yang ia prediksi bakal tampil mengejutkan dan mengacaukan peta persaingan di Piala Dunia 2026 nanti.
“Kalau kupantau ya, aku sih Turki, sama satu lagi Ekuador kayaknya. Karena Ekuador lini belakangnya tuh, gila-gila sih,” jelas Mamat mengenai peta tim kuda hitam versinya.
Menariknya, Mamat justru mencoret nama raksasa Amerika Selatan, Brasil, dari daftar kandidat kuat juara. Meski Tim Samba kini dinakhodai oleh pelatih top sekelas Carlo Ancelotti, ia menilai masalah internal berupa ego pemain yang tinggi akan menyulitkan langkah mereka di panggung dunia.
“Brasil dengan Ancelotti ya sebenernya tuh dua hal yang cocok banget. Tapi ya, Brasil itu egonya tinggi-tinggi ya. Emang sih Ancelotti spesialis buat pemain-pemain kayak gini, tapi untuk ukuran Piala Dunia ketemu dengan tim yang matang kayak Portugal, Prancis, Spanyol,” paparnya.
Mamat menambahkan bahwa kestabilan taktik negara-negara Eropa akan menjadi tembok besar bagi Brasil.
“Apalagi Spanyol juga matang plus organisasinya bagus banget kan. Permainannya, pelatihnya juga bagus. Jadi kayaknya Brasil, enggak dulu deh,”sambungya.
Taktik Baru Inggris: Bisa Kelewat Jelek atau Bikin Kejutan
Beralih ke daratan Britania, Mamat ikut memberikan analisis tajam mengenai Timnas Inggris yang kini memasuki era baru. Di bawah asuhan Thomas Tuchel, The Three Lions mencoba mendobrak tradisi bermain bertahan yang sebelumnya mendarat kuat di era Gareth Southgate.
“Nah ini jadi perbincangan sengit. Inggris dibawa Southgate dua kali final Euro (2020 dan 2024). Di Piala Dunia sebelumnya juga bagus. Tapi, mereka dengan Southgate itu bermain bertahan,” kata Mamat membuka analisisnya.
Perubahan gaya main menjadi menyerang di tangan Tuchel dipandang Mamat sebagai pisau bermata dua bagi skuad Inggris yang kerap dicap minim mental juara di turnamen besar.
“Kalau Tuchel bermainnya menyerang. Jangankan yang skuad sekarang, dari generasi Scholes, Gerrard, Lampard juga udah dream team itu, tapi ya dengan cara main kayak begitu ya nggak punya mental gitulah,” tuturnya.
Ia pun memprediksi performa Harry Kane dan kolega akan sangat dinamis dan sulit ditebak akibat transisi strategi yang radikal ini.
“Kalau sama Southgate cocok tuh, tapi main bertahan. Sekarang berubah kan? Karena berubah strategi itu mainnya bisa jelek banget, bisa juga mengejutkan,” pungkas Mamat.
Scr/Mashable

















