Nama Roberto Carlos mendadak kembali menjadi perbincangan dunia, bukan karena tendangan bebas spektakuler atau cerita kejayaannya bersama Real Madrid. Legenda Brasil tersebut dikabarkan memeluk Islam setelah sebelumnya menikahi perempuan keturunan Maroko bernama Souhaila Ettahiri.
Kabar tersebut tentu menjadi perhatian karena Roberto Carlos merupakan salah satu pesepak bola paling populer pada generasinya. Selama puluhan tahun, wajah, kaki kiri, dan nomor punggung tiga miliknya identik dengan Real Madrid serta tim nasional Brasil.
Namun, berita tentang perpindahan keyakinannya masih perlu ditempatkan sebagai sebuah klaim. Carlos sendiri belum mengeluarkan pernyataan langsung kepada publik untuk membenarkan bahwa dirinya telah mengucapkan syahadat dan resmi menjadi Muslim.
Di tengah kabar yang masih menunggu konfirmasi tersebut, perhatian publik akhirnya kembali tertuju kepada perjalanan panjang sang legenda. Lantas, siapa sebenarnya Roberto Carlos, pemain bertubuh mungil yang pernah menjelma menjadi salah satu bek kiri paling menakutkan dalam sejarah sepak bola?
Roberto Carlos Dikabarkan Memeluk Islam
Dilansir GOAL, Rabu (19/08/2026) media Turki memberitakan Roberto Carlos disebut telah memeluk Islam sekitar empat pekan sebelum kabar tersebut mencuat. Mantan pemain Real Madrid itu diklaim mengucapkan dua kalimat syahadat ketika menemui Syekh Jihad Hamada di Brasil.
Kisah tersebut kemudian semakin luas setelah anggota parlemen Turki dari Partai Keadilan dan Pembangunan, Ali Şahin, mengungkapkan informasi yang diterimanya. Şahin menyatakan Syekh Jihad Hamada menceritakan pertemuannya dengan sang legenda ketika keduanya berada di Brasil.
Menurut cerita yang disampaikan Şahin, Carlos sebelumnya sudah cukup lama menjalin komunikasi dengan Hamada sebelum melakukan kunjungan sekitar empat pekan lalu. Dalam pertemuan itulah pemain legendaris Brasil tersebut disebut mengucapkan syahadat dan memilih untuk memeluk Islam.
Brezilya’da İslam Toplumları Temsilcileri İle Bir Araya Geldik
Efsane Futbolcu Roberto CARLOS Müslüman Oldu…
Brezilya’nın São Paulo şehrinde yaşayan ve İslam coğrafyasının en etkili 500 isminden biri olarak gösterilen Sheikh Jihad Hammadeh ile Brezilya İslami Hayırsever… pic.twitter.com/usYFJXdpgZ
— Ali ŞAHİN (@AliSahin501) August 17, 2026
Meski kabarnya menyebar cepat, satu detail penting tidak boleh diabaikan karena menyangkut keyakinan pribadi seseorang. Hingga berita tersebut berkembang, belum terdapat konfirmasi langsung dari Roberto Carlos sehingga informasi mengenai keislamannya masih menunggu penegasan resmi.
Menikahi Souhaila Ettahiri, Agen Sepak Bola Berdarah Maroko
Kabar itu muncul tidak lama setelah foto pernikahan Roberto Carlos dan Souhaila Ettahiri kembali ramai beredar melalui media sosial. Souhaila merupakan agen sepak bola berdarah Maroko yang berbasis di Spanyol dan berkecimpung dalam industri representasi pemain.
Morocco World News melaporkan foto pernikahan pasangan tersebut kembali viral pada 17 Agustus 2026 sehingga sebagian pengguna media sosial menganggap pernikahan mereka baru berlangsung. Padahal, hubungan dan pernikahan keduanya telah diberitakan sebelum foto tersebut kembali menyebar.
Bahan pemberitaan yang menjadi dasar artikel ini menyebut hubungan mereka bermula dari lingkungan profesional sebelum berkembang menjadi hubungan pribadi. Keduanya disebut memiliki keterkaitan pekerjaan melalui proyek pengelolaan karier pemain dan kegiatan sepak bola antara Brasil dengan Eropa.
Pernikahan dengan perempuan berlatar Maroko itu kemudian berdekatan dengan munculnya kabar bahwa Carlos menjadi Muslim. Meski demikian, pernikahan tersebut tidak dapat digunakan sebagai bukti perubahan agama karena klaim keislamannya bersumber dari pernyataan pihak ketiga.
روبرتو كارلوس يدخل القفص الذهبي 💍❤️
أسطورة ريال مدريد والبرازيل يتزوج من سيدة الأعمال ووكيلة اللاعبين المغربية اللبنانية سهيلة الطاهري ✨🇧🇷 pic.twitter.com/HbVoJ0oUDx
— GOAL Arabia (@GoalAR) August 17, 2026
Mengenal Roberto Carlos, Lahir dari Garça di Brasil
Jauh sebelum menjadi ikon Real Madrid, Roberto Carlos da Silva Rocha lahir di Garça, negara bagian São Paulo, Brasil, pada 10 April 1973. Dengan tinggi sekitar 1,68 meter, fisiknya tidak menggambarkan stereotip seorang bek tangguh berukuran besar.
Keterbatasan tinggi badan justru tidak pernah menghambat permainannya karena kekuatan terbesar Carlos terdapat pada kecepatan, stamina, dan kaki kirinya. Real Madrid mengenangnya sebagai pemain dengan kecepatan luar biasa sekaligus memiliki kekuatan tembakan yang menjadi ciri khas sepanjang karier.
Karier profesionalnya dimulai bersama União São João sebelum memperoleh kesempatan memperkuat Atlético Mineiro dengan status pinjaman. Perjalanan tersebut menjadi bagian awal sebelum namanya mendapatkan panggung lebih besar bersama Palmeiras pada awal dekade 1990-an.
Bersama Palmeiras, sang bek kiri mulai merasakan atmosfer menjadi juara dan membangun reputasi sebagai salah satu talenta terbaik Brasil. Transfermarkt mencatat dirinya memenangi dua gelar Campeonato Brasileiro dan dua Campeonato Paulista selama periode awal perjalanan profesional tersebut.
Sempat Bersama Inter Milan sebelum Menjadi Legenda Real Madrid
Eropa kemudian memanggil ketika Roberto Carlos hijrah menuju Italia dan memperkuat Inter Milan pada 1995. Musim pertamanya bahkan langsung memperlihatkan senjata utamanya setelah ia mencetak gol tendangan bebas dalam kemenangan atas Vicenza.
Namun, perjalanan di Inter tidak berlangsung panjang karena pelatih Roy Hodgson ketika itu beberapa kali menempatkannya sebagai pemain sayap. Carlos merasa posisi bek kiri lebih sesuai dengan karakter permainannya sehingga akhirnya meninggalkan Italia setelah hanya satu musim.
Keputusan tersebut kemudian mengubah sejarah kariernya ketika Real Madrid merekrutnya pada musim panas 1996. Di Santiago Bernabeu, Roberto Carlos menemukan tempat ideal untuk menggabungkan kemampuan bertahan, kecepatan berlari, overlap, umpan silang, dan tembakan kaki kiri.
Sebelas musim bersama Los Blancos kemudian menjadikan dirinya salah satu pemain asing paling berpengaruh dalam sejarah klub. Situs resmi Real Madrid mencatat sang legenda memainkan 527 pertandingan dan membukukan 68 gol selama membela raksasa ibu kota Spanyol.
Kaki Kiri yang Membantu Real Madrid Menguasai Eropa
Era Roberto Carlos di Madrid bertepatan dengan periode ketika klub kembali membangun dominasinya di Eropa. Ia kemudian menjadi bagian penting dalam keberhasilan Los Blancos merebut tiga gelar Liga Champions dan empat gelar Liga Spanyol.
Ia merasakan gelar Liga Champions pada musim 1997/1998, 1999/2000, dan 2001/2002 bersama sejumlah pemain terbaik dunia. Carlos kemudian menjadi anggota penting era Galacticos yang dihuni Zinedine Zidane, Ronaldo Nazario, Luis Figo, David Beckham, dan Raul Gonzalez.
Salah satu kontribusinya yang paling diingat muncul pada final Liga Champions 2002 menghadapi Bayer Leverkusen di Glasgow. Umpannya dari sisi kiri menjadi awal terciptanya voli kaki kiri Zinedine Zidane yang mengantarkan Real Madrid merebut trofi Eropa.
Kemampuan menyerangnya membuat posisi bek kiri mendapatkan dimensi berbeda ketika dirinya berada di lapangan. Carlos mampu berlari menyisir satu sisi lapangan, membantu pertahanan, kemudian beberapa detik kemudian muncul di sepertiga akhir untuk menciptakan peluang.
Tendangan Bebas yang Seolah Melawan Hukum Fisika
Di antara seluruh momen kariernya, satu tendangan bebas Roberto Carlos tetap memiliki tempat tersendiri dalam sejarah sepak bola. Tendangan tersebut tercipta ketika Brasil menghadapi Prancis dalam Tournoi de France pada 3 Juni 1997.
Bola hasil tendangan dari jarak sekitar 40 yard awalnya meluncur jauh menuju sisi luar sebelum tiba-tiba berbelok kembali mengarah ke gawang. Kiper Prancis Fabien Barthez hanya terpaku ketika bola akhirnya masuk setelah mengikuti lintasan yang terlihat mustahil.
Momen tersebut membantu membentuk identitas Roberto Carlos sebagai spesialis bola mati yang berbeda dari kebanyakan pemain lainnya. Kekuatan paha, teknik menendang menggunakan bagian luar kaki kiri, serta keberaniannya mencoba tembakan jarak jauh menjadikan dirinya sangat sulit ditebak.
Bukan hanya tendangan bebas, Carlos juga pernah mencetak gol dari sudut hampir tidak masuk akal ketika Real Madrid menghadapi Tenerife. Bola dari sisi lapangan dilepaskannya menggunakan bagian luar kaki kiri sebelum melengkung melewati penjaga gawang.
Juara Dunia Bersama Generasi Emas Brasil
Karier klub yang luar biasa berjalan beriringan dengan perjalanan panjang Roberto Carlos bersama tim nasional Brasil. Puncaknya tentu terjadi dalam Piala Dunia 2002 ketika Selecao menjadi juara setelah menaklukkan Jerman 2-0 pada pertandingan final.
Skuad tersebut menjadi salah satu generasi paling dikenang karena diperkuat Ronaldo Nazario, Rivaldo, Ronaldinho, Cafu, dan Roberto Carlos. FIFA mencatat Carlos, Ronaldo, Rivaldo, serta Ronaldinho menyumbangkan sebagian besar gol Brasil dalam perjalanan menuju titel dunia kelima.
Carlos juga mencetak gol melalui tendangan bebas ketika Brasil mengalahkan China 4-0 pada fase grup Piala Dunia 2002. Kemenangan itu menjadi bagian dari perjalanan sempurna Brasil yang akhirnya keluar sebagai juara turnamen di Korea Selatan dan Jepang.
Trofi Piala Dunia melengkapi koleksi gelarnya bersama Selecao yang juga mencakup dua Copa America serta Piala Konfederasi 1997. Selain itu, ia pernah membawa Brasil memperoleh medali perunggu pada cabang sepak bola Olimpiade Atlanta 1996.
Fenerbahce Membuat Roberto Carlos Dekat dengan Turki
Selepas sebelas tahun di Madrid, Roberto Carlos memilih Fenerbahce sebagai pelabuhan berikutnya pada 2007. Ribuan pendukung menyambut kedatangannya di Stadion Şükrü Saracoğlu, menunjukkan besarnya reputasi sang pemain ketika memulai petualangan di sepak bola Turki.
Ia langsung memenangkan Piala Super Turki dalam pertandingan resmi pertamanya bersama Fenerbahce setelah mengalahkan Besiktas. Periode di Istanbul membuat namanya memiliki ikatan khusus dengan publik Turki, meskipun akhirnya meninggalkan klub tersebut pada akhir 2009.
Kedekatan sejarah itulah yang membuat kabar mengenai keislaman Roberto Carlos mendapatkan perhatian sangat besar dari media Turki. Mantan pemain Fenerbahce tersebut masih menjadi figur populer di negara itu, bahkan bertahun-tahun setelah meninggalkan kompetisi mereka.
Hubungannya dengan Turki bahkan berlanjut setelah masa bermain karena Carlos pernah kembali untuk meniti karier kepelatihan. Ia menangani Sivasspor pada 2013 hingga 2014 sebelum kemudian dipercaya melatih Akhisarspor pada periode berikutnya.
Dari Corinthians, Rusia hingga Menutup Karier di India
Setelah meninggalkan Fenerbahce, Carlos pulang ke Brasil untuk bermain bersama Corinthians dan kembali bertemu Ronaldo Nazario. Ia kemudian melanjutkan petualangan menuju Rusia dengan membela Anzhi Makhachkala, klub yang ketika itu sedang membangun proyek ambisius.
Di Anzhi, perannya berubah seiring bertambahnya usia karena ia juga dimainkan sebagai gelandang bertahan selain beroperasi di sisi kiri. Pemain Brasil itu bahkan dipercaya menjadi kapten sebelum akhirnya mulai masuk ke dunia kepelatihan bersama klub Rusia tersebut.
Carlos sempat menyatakan pensiun pada 2012, tetapi kemudian kembali bermain ketika menerima peran pemain sekaligus pelatih Delhi Dynamos pada 2015. Transfermarkt mencatat klub India tersebut menjadi tim terakhirnya sebelum resmi menutup perjalanan sebagai pemain profesional pada 2016.
Setelah gantung sepatu, sosoknya tetap mempunyai hubungan erat dengan Real Madrid dan berbagai kegiatan sepak bola internasional. Pada 2026, klub masih memperkenalkannya sebagai legenda sekaligus duta Real Madrid Foundation dalam sejumlah program pendidikan sepak bola.
Dari Legenda Lapangan hingga Kabar Perjalanan Spiritual
Kini, hampir tiga dekade setelah tendangan bebas fenomenalnya melawan Prancis, nama Roberto Carlos kembali menembus pemberitaan internasional melalui cerita berbeda. Bukan lagi mengenai pertandingan besar, melainkan kehidupan pribadi, pernikahan, dan kabar mengenai perjalanan spiritualnya.
Klaim bahwa dirinya telah memeluk Islam disebut bermula dari Syekh Jihad Hamada dan kemudian disampaikan politikus Turki Ali Şahin. Karena Carlos belum berbicara langsung, pemberitaan yang bertanggung jawab tetap harus menggunakan istilah “dikabarkan” sampai terdapat konfirmasi resmi.
Pernikahannya dengan Souhaila Ettahiri memang membuat cerita tersebut mendapatkan dimensi baru karena sang istri memiliki akar keluarga Maroko. Namun, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa pernikahan itu sendiri menjadi penyebab perubahan keyakinan Carlos tanpa penjelasan langsung darinya.
Apa pun perkembangan selanjutnya, Roberto Carlos sudah memiliki tempat permanen dalam sejarah sepak bola sebelum kabar tersebut muncul. Sang pemilik kaki kiri legendaris adalah juara dunia, tiga kali kampiun Eropa, ikon Brasil, sekaligus figur yang membantu mendefinisikan ulang posisi bek kiri.
Kini publik hanya menunggu apakah Roberto Carlos akan memberikan pernyataan mengenai kabar dirinya telah memeluk Islam. Jika akhirnya terkonfirmasi, cerita tersebut akan menjadi babak pribadi terbaru dari perjalanan panjang seorang legenda yang kehidupannya terus menarik perhatian bahkan bertahun-tahun setelah pensiun.
Scr/Mashable















