AC Milan memasuki musim 2026/27 dengan keputusan berani yang langsung mengubah wajah tim, yakni melepas Rafael Leao setelah tujuh musim bersama Rossoneri. Kepergian pemain paling eksplosif itu justru diikuti dua kemenangan beruntun yang membuat revolusi Ruben Amorim menarik perhatian.
Leao bukan pemain biasa dalam sejarah modern AC Milan karena ia mencetak 80 gol dan 65 assist dari 291 pertandingan di semua kompetisi. Winger Portugal itu juga membantu Rossoneri meraih Scudetto 2021/22 dan Piala Super Italia 2024/25 sebelum akhirnya meninggalkan San Siro.
Reuters melaporkan AC Milan menerima tawaran sekitar 45 juta euro dari Galatasaray, sedangkan klub Turki tersebut mengumumkan transfer Leao secara resmi pada 30 Agustus 2026. Perpisahan itu terasa besar karena kontrak sang winger sebenarnya masih berlaku sampai Juni 2028.
Pemain berusia 27 tahun itu meninggalkan AC Milan setelah tumbuh dari talenta Lille menjadi salah satu wajah utama klub selama tujuh musim. Ia juga sudah memiliki 49 caps bersama Portugal dan tampil pada Piala Dunia 2022 serta 2026 sebelum memilih tantangan baru di Istanbul.
AC Milan mengawali era tanpa Leao dengan kemenangan 2-1 atas Torino pada pekan pertama Serie A, pertandingan kompetitif pertama Amorim sebagai pelatih Rossoneri. Alphadjo Cisse membuka skor, kemudian Adrien Rabiot menggandakan keunggulan sebelum Che Adams memperkecil kedudukan pada masa tambahan waktu.
Dominasi AC Milan di Turin terlihat dari penguasaan bola 59 persen dan 19 percobaan, sementara Torino hanya membuat delapan tembakan sepanjang pertandingan. Angka itu belum menunjukkan kesempurnaan, tetapi memberi gambaran bahwa tim mampu mengendalikan laga meski kehilangan sumber progresi utama di sisi kiri.
Kemenangan kedua datang ketika AC Milan menundukkan Venezia 2-0 di San Siro melalui gol Goncalo Ramos dan gol bunuh diri Redouane Halhal. Hasil tersebut membuat Amorim meraih enam poin dari dua pertandingan sekaligus mencatat start liga terbaik AC Milan sejak musim 2023/24.
Dua kemenangan tentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa AC Milan lebih baik tanpa Leao, tetapi pola awalnya mengundang analisis menarik. Tim terlihat lebih tersebar dalam membangun ancaman, tidak lagi terlalu bergantung pada satu winger untuk membawa bola dan menciptakan situasi satu lawan satu.
AC Milan Mulai Menemukan Pola Baru Tanpa Rafael Leao
Amorim membawa sistem dasar 3-4-2-1 yang sudah menjadi identitasnya sejak sukses bersama Sporting CP dan kemudian bekerja di Manchester United. Struktur tersebut menempatkan tiga bek, dua wing-back, dua gelandang tengah, serta dua pemain antarlini di belakang seorang penyerang utama.
Dalam sistem itu, AC Milan tidak membutuhkan satu winger kiri yang terus menerima bola lebar seperti pada beberapa periode sebelumnya. Serangan bisa dibangun melalui wing-back, kombinasi antarlini, pergerakan gelandang, atau penyerang yang turun untuk menghubungkan permainan sebelum pemain lain menyerang ruang.
Ramos menjadi contoh penting perubahan tersebut karena perannya tidak terbatas sebagai penyelesai peluang di dalam kotak penalti. Saat menghadapi Venezia, ia beberapa kali turun membantu sirkulasi, melakukan delapan lay-off, serta terlibat dalam 19 duel sebelum akhirnya mencetak gol pembuka.
Gol itu sekaligus menjadi gol kompetitif pertama Ramos bersama AC Milan dan membuatnya terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan oleh pendukung klub. Penyerang Portugal tersebut memberi Amorim profil nomor sembilan yang mampu menahan bola, membuka ruang, dan tetap menjadi ancaman utama di kotak penalti.
Perubahan serangan juga terlihat dari munculnya Cisse, Rabiot, Ruben Loftus-Cheek, Samuel Chukwueze, Alexis Saelemaekers, dan pemain lain dalam fase ofensif. Ketika ancaman tersebar ke lebih banyak pemain, lawan kehilangan kemudahan untuk memusatkan penjagaan kepada satu sumber kreativitas seperti Leao.
Inilah keuntungan potensial terbesar AC Milan setelah revolusi skuad, yakni membangun mekanisme kolektif yang tidak bergantung pada inspirasi individual seorang bintang. Namun keuntungan itu hanya akan bertahan apabila kualitas pola serangan mampu menghasilkan peluang secara konsisten ketika menghadapi lawan yang lebih kuat.
Leao selama bertahun-tahun memberi AC Milan sesuatu yang tidak mudah digantikan, terutama kecepatan membawa bola dari area rendah menuju sepertiga akhir. Kemampuannya memenangkan duel satu lawan satu juga sering menjadi jalan keluar ketika struktur serangan Rossoneri buntu atau lawan bertahan sangat dalam.
Karena itu, keputusan menjual Leao tidak boleh dinilai hanya berdasarkan dua kemenangan pertama AC Milan pada musim ini. Ujian sebenarnya muncul ketika lawan menutup jalur kombinasi, memaksa permainan melebar, atau membuat Rossoneri membutuhkan aksi individual untuk membongkar pertahanan rapat.
Sistem 3-4-2-1 Amorim Membuat Serangan Lebih Kolektif
Amorim tampaknya mencoba mengganti ketergantungan tersebut dengan distribusi tugas yang lebih merata di seluruh struktur permainan. Filosofi ini menuntut koordinasi lebih tinggi karena kehilangan satu pemain dominan hanya bisa ditutupi apabila seluruh unit bergerak lebih efisien dalam menyerang maupun bertahan.
Kemenangan atas Torino memberikan contoh karena gol pertama tercipta melalui kontribusi pemain pengganti, sedangkan gol kedua melibatkan umpan Chukwueze dan pergerakan Rabiot. AC Milan tidak membutuhkan satu pemain menghasilkan semuanya, sesuatu yang sejalan dengan pendekatan kolektif Amorim sejak awal karier kepelatihannya.
Laga melawan Venezia menawarkan gambaran lain ketika Ramos baru memecahkan kebuntuan pada menit ke-69 setelah pertahanan lawan memberi perlawanan cukup keras. AC Milan kemudian mengunci kemenangan melalui gol bunuh diri Halhal pada menit ke-89, sekaligus mencatat clean sheet pertama musim ini.
Hasil tersebut menunjukkan AC Milan sudah memiliki kesabaran untuk memenangkan pertandingan ketika gol tidak datang cepat seperti yang diharapkan. Namun pertandingan itu juga mengingatkan bahwa kehilangan kreativitas Leao dapat terasa ketika lawan mampu mempersempit ruang dan memaksa serangan berjalan lebih lambat.
Revolusi Rossoneri tidak berhenti pada pergantian pemain karena klub juga mengubah arah teknis dengan menunjuk Amorim pada 16 Juni 2026. Pelatih Portugal itu membawa reputasi dua gelar liga bersama Sporting dan pendekatan yang menekankan organisasi, kontrol permainan, serta pengembangan pemain muda.
Penunjukan itu terjadi setelah AC Milan menjalani musim mengecewakan dan gagal mendapatkan tiket Liga Champions, sehingga kebutuhan melakukan perubahan memang mendesak. Amorim kemudian mewarisi proyek yang bukan hanya harus menang, tetapi juga membangun identitas baru setelah kepergian salah satu ikon terbesar skuad.
Aktivitas transfer menunjukkan besarnya rekonstruksi tersebut karena La Gazzetta dello Sport mencatat neraca transfer AC Milan sekitar minus 70,5 juta euro. Angka itu memperlihatkan klub tidak sekadar menjual Leao untuk menyeimbangkan keuangan, tetapi sekaligus menginvestasikan dana besar untuk memperbarui komposisi tim.
Selain Ramos, wajah baru dan pemain yang kembali menjadi bagian skuad memberi Amorim pilihan untuk menyesuaikan karakter permainan di berbagai posisi. AC Milan kini mencoba membangun kekuatan dari struktur, kedalaman, serta fungsi pemain yang saling melengkapi daripada bertumpu pada satu superstar.
Secara psikologis, kepergian Leao juga dapat memaksa pemain lain mengambil tanggung jawab lebih besar dalam pertandingan. Pemain yang sebelumnya terbiasa mencari sang winger ketika situasi sulit sekarang harus lebih berani membuat keputusan, menyerang ruang, atau menciptakan peluang sendiri.
AC Milan Menang Terus, tetapi Ujian Besar Baru Dimulai
Namun risiko dari pendekatan ini tetap besar karena kolektivitas membutuhkan waktu, sementara Serie A tidak memberi banyak ruang untuk proses adaptasi panjang. Dua kemenangan awal membuat atmosfer positif, tetapi satu atau dua hasil buruk dapat kembali memunculkan pertanyaan mengenai keputusan melepas Leao.
Jadwal berikutnya juga segera meningkatkan tingkat kesulitan karena AC Milan harus bertandang menghadapi Juventus pada pekan ketiga Serie A. Pertandingan tersebut akan memberi gambaran lebih tajam tentang kemampuan struktur Amorim menghadapi lawan dengan kualitas individu dan organisasi pertahanan lebih tinggi.
Jika AC Milan mampu mempertahankan kontrol permainan dan menciptakan peluang tanpa terlalu bergantung pada satu pemain, argumen tentang manfaat revolusi kolektif akan semakin kuat. Sebaliknya, kebuntuan melawan tim elite dapat memperlihatkan ruang kosong yang sebelumnya sering diisi oleh akselerasi dan improvisasi Leao.
Leao sendiri meninggalkan klub dengan hubungan emosional yang tetap kuat setelah mengakui AC Milan membantunya memahami sepak bola level tertinggi. Ia juga menyatakan akan terus mengikuti Rossoneri dari jauh, memperlihatkan bahwa perpisahan tersebut lebih menyerupai akhir sebuah siklus daripada konflik terbuka.
Dari sisi AC Milan, keputusan tersebut menjadi taruhan besar karena menjual pemain berusia 27 tahun dalam masa produktif selalu membawa konsekuensi teknis. AC Milan sekarang harus membuktikan bahwa 45 juta euro yang diterima dan investasi terhadap skuad baru mampu menghasilkan tim yang lebih seimbang.
Dua laga pertama memberi sinyal positif, terutama karena Ramos sudah mencetak gol dan sejumlah pemain lain ikut menentukan hasil pertandingan. Namun dua kemenangan tetap merupakan sampel kecil, sehingga keberhasilan revolusi Amorim baru dapat dinilai setelah menghadapi variasi lawan dan tekanan sepanjang musim.
Untuk sementara, AC Milan berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan, yakni memulai musim sempurna tepat ketika Leao meninggalkan klub. Rossoneri belum membuktikan mereka lebih hebat tanpa sang winger, tetapi tanda awal menunjukkan mereka sedang belajar menjadi tim yang tidak bergantung padanya.
Scr/Mashable















