Rencana TC Timnas Kongo Jelang Piala Dunia 2026 Berantakan karena Wabah Ebola

25.05.2026
Rencana TC Timnas Kongo Jelang Piala Dunia 2026 Berantakan karena Wabah Ebola
Rencana TC Timnas Kongo Jelang Piala Dunia 2026 Berantakan karena Wabah Ebola

Kabar buruk menimpa kontestan Piala Dunia 2026, Republik Demokratik (RD) Kongo. Rencana persiapan matang mereka terancam berantakan total setelah merebaknya wabah varian virus Ebola langka di negara Afrika Tengah tersebut.

Demi keselamatan tim, Federasi Sepak Bola RD Kongo resmi membatalkan agenda pemusatan latihan (TC) domestik yang semula dijadwalkan berlangsung di dalam negeri. Keputusan darurat ini diambil hanya beberapa pekan sebelum sepak mula turnamen sepak bola terbesar di dunia itu dimulai.

Situasi ini langsung memicu perhatian global. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) merilis pernyataan resmi bahwa mereka sedang memantau secara ketat perkembangan situasi epidemi di RD Kongo untuk memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat di Piala Dunia.

Dampak dari wabah ini bahkan langsung berimbas pada kebijakan keimigrasian. Pemerintah Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah utama kini resmi memberlakukan larangan masuk bagi semua warga negara asing yang memiliki riwayat perjalanan atau pernah berada di RD Kongo dalam tiga pekan terakhir.

Meski situasi domestik mencekam, manajemen timnas RD Kongo memastikan bahwa mayoritas pilar utama mereka saat ini dalam kondisi aman. Hal ini karena sebagian besar pemain Les Léopards merumput di liga-liga top Eropa, sehingga mereka tidak terpapar langsung oleh episentrum wabah di dalam negeri.

Kendati demikian, aturan ketat tetap diberlakukan bagi personel tim lainnya. Setiap staf pelatih, pejabat federasi, maupun pemain lokal yang sempat kembali ke RD Kongo dalam kurun waktu 21 hari terakhir diwajibkan menjalani karantina medis yang ketat.

Langkah isolasi ini menjadi syarat mutlak untuk menekan risiko penyebaran virus sebelum tim terbang ke venue pertandingan.

Pembatalan TC ini jelas menjadi pukulan telak bagi kekompakan tim. Staf pelatih RD Kongo kini harus berpacu dengan waktu untuk menyusun ulang rencana alternatif, mencari lokasi latihan baru yang aman, serta menjaga kebugaran fisik dan ikatan taktik para pemain sebelum turnamen dimulai.

Tantangan ini terasa kian berat mengingat RD Kongo tergabung dalam grup yang cukup berat. Berada di Grup K, mereka dijadwalkan saling sikat dengan raksasa Eropa Portugal, kekuatan Amerika Selatan Kolombia, serta tim kuat Asia, Uzbekistan, demi memperebutkan tiket ke babak gugur Piala Dunia 2026.

WHO Beri Warning: Vaksin Virus Ebola Jenis Baru Butuh Waktu 9 Bulan, Korban Jiwa Terus Melonjak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius terkait ledakan wabah Ebola terbaru di Afrika. WHO menyatakan bahwa dibutuhkan waktu hingga sembilan bulan ke depan agar vaksin yang spesifik untuk melawan spesies Ebola langka ini siap digunakan.

Saat ini, para ilmuwan sedang mengembangkan dua kandidat vaksin untuk melawan virus Ebola spesies Bundibugyo. Namun, penasihat WHO, Dr. Vasee Moorthy, mengonfirmasi bahwa kedua kandidat tersebut sama sekali belum melewati tahap uji klinis.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, membeberkan data mengerikan. Hingga saat ini, tercatat ada 600 kasus berstatus suspek dengan 139 kematian yang diduga kuat akibat Ebola.

Angka ini diprediksi akan terus meroket tajam karena adanya keterlambatan dalam mendeteksi virus di awal wabah. Dari total data tersebut, sebanyak 51 kasus telah terkonfirmasi positif di Republik Demokratik (RD) Kongo—yang menjadi episentrum wabah—dan dua kasus di negara tetangga, Uganda.

Dua pasien di Uganda diketahui memiliki riwayat perjalanan dari RD Kongo, dan salah satunya dilaporkan telah meninggal dunia.

“Kami tahu skala epidemi di RD Kongo sebenarnya jauh lebih besar dari data yang ada,” ujar Dr. Tedros dalam konferensi pers di Genewa, seperti dilansir dari BBC.

Ia juga menyoroti gugurnya sejumlah tenaga medis yang menjadi perhatian utama WHO.

Kondisi di lapangan dilaporkan sangat mencekam. Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) mengungkapkan bahwa fasilitas kesehatan di sana mulai kolaps karena kelebihan muatan. Para nakes terpaksa bekerja tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai.

Pada akhir pekan lalu, WHO resmi menetapkan status wabah ini sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Meski demikian, WHO menegaskan statusnya belum mencapai tingkat pandemi global.

“WHO menilai risiko epidemi ini berkategori tinggi pada tingkat nasional dan regional (afrika), namun masih terpantau rendah di tingkat global,” jelas Dr. Tedros.

AS sempat mengkritik WHO “terlambat” dalam mengidentifikasi wabah ini. Namun, Dr. Tedros membantah dan meminta semua pihak menghargai respons cepat timnya di tengah situasi konflik bersenjata yang rumit di wilayah timur RD Kongo.

Selain konflik, gejala awal Ebola yang mirip dengan penyakit endemik setempat seperti malaria dan tifus menjadi alasan mengapa virus ini sempat menyebar tanpa terdeteksi sejak akhir April lalu.

Ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang dihadapi RD Kongo. Bedanya, kali ini mereka harus berhadapan dengan spesies Bundibugyo yang sudah lebih dari satu dekade tidak pernah muncul.

Spesies Bundibugyo tercatat baru hanya menyebabakan dua wabah sepanjang sejarah, yaitu di Uganda (2007) dan RD Kongo (2012), dengan tingkat kematian mencapai sepertiga dari jumlah pasien yang terinfeksi. Karena sangat langka, dunia belum memiliki obat maupun vaksin resmi yang disetujui untuk spesies ini.

Vaksin Ebola yang ada saat ini hanya efektif untuk menangkal spesies Zaire.Hingga kandidat vaksin baru siap dalam 6-9 bulan ke depan, masyarakat di wilayah terdampak kini mulai mengubah total gaya hidup mereka demi bertahan hidup, termasuk menghentikan kebiasaan turun-temurun untuk bersalaman.

Scr/Mashable





Don't Miss