Nama Brian Madjo mendadak menjadi perbincangan hangat di panggung sepak bola Eropa. Striker muda berusia 17 tahun milik Aston Villa ini baru saja mencatatkan debut fantastis dengan mencetak gol ke gawang Paris Saint-Germain (PSG) di ajang Piala Super Eropa.
Memiliki postur fisik raksasa berbobot hampir 100 kg yang dipadukan dengan ketajaman insting mencetak gol, Madjo diprediksi siap menjadi “monster” baru yang menakutkan bagi lini pertahanan klub-klub Premier League musim ini.
Padahal, kurang dari dua pekan lalu, kepastian Madjo untuk berseragam Aston Villa masih mengambang akibat rancu regulasi. Namun, ketika kesempatan itu akhirnya datang di panggung sebesar Piala Super Eropa di Salzburg, sang murni talenta langsung memanfaatkannya untuk meledakkan antusiasme publik menjelang bergulirnya musim baru.
Berbekal tinggi badan 1,93 meter dan berat mendekati 100 kg, Madjo tanpa kesulitan mendominasi duel fisik melawan bek-bek kelas dunia. Walau Aston Villa harus menyerah tipis 1-2 dari sang juara bertahan Liga Champions, aksi impresif Madjo menjadi sorotan utama.
Pilihan Kewarganegaraan dan Drama Sengketa Pengadilan
Perjalanan karier Madjo di tingkat internasional menyimpan cerita menarik. Lahir di Enfield, Inggris, dari keluarga berdarah Kamerun, ia tumbuh besar di Luksemburg dan menimba ilmu di akademi Marisca Mersch serta Racing Union sebelum akhirnya direkrut klub Prancis, Metz.
Pada 2025 di usia 16 tahun, ia sempat membela timnas senior Luksemburg dalam tiga laga persahabatan. Namun, saat Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) memanggilnya, Madjo memilih untuk berpindah kewarganegaraan sepak bola demi membela The Three Lions—langkah yang disahkan FIFA karena ia belum tampil di laga resmi kompetitif dan masih di bawah usia 21 tahun.
Radar pemandu bakat Aston Villa yang dipimpin Alberto Benito sebenarnya telah memantau Madjo sejak ia masih berkarier di Luksemburg. Villa kemudian merogoh kocek sebesar £10 juta untuk mengamankan jasanya dari Metz pada Januari lalu, mengalahkan perburuan sejumlah klub raksasa Eropa.
Namun, kepindahannya sempat tertahan. FIFA melarang pendaftarannya untuk sisa musim 2025/26 karena mengategorikannya sebagai transfer internasional pemain di bawah 18 tahun. Villa melayangkan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dengan argumen bahwa Madjo lahir di London dan berstatus pemain lokal.
Pada 4 Agustus lalu, CAS resmi memenangkan gugatan Aston Villa. Keputusan ini disambut sukacita oleh kapten tim John McGinn di media sosial: “Pemain Inggris ini akhirnya diizinkan bermain di Inggris!”
Kombinasi Karakteristik Lukaku dan Haaland
Bek veteran Aston Villa, Tyrone Mings, yang kerap berduel langsung dengannya di sesi latihan, tak segan melempar pujian setinggi langit.
“Dia sangat sulit dijaga. Saya rasa beratnya sekitar 100 kg, seorang pemuda bertubuh raksasa tetapi punya potensi yang luar biasa besar,” ujar Mings usai laga melawan PSG.
Media Prancis dan Luksemburg sering membandingkan gaya main dan ketahanan fisik Madjo dengan Romelu Lukaku. Namun, mereka yang melihatnya beraksi secara langsung kerap menilai pergerakannya lebih mirip Erling Haaland dalam hal mengintimidasi ruang dan memenangi posisi.
Pada babak pertama melawan PSG, Madjo berkali-kali merepotkan bek tangguh Willian Pacho. Jika saja ia tampil lebih tenang, Madjo bahkan berpeluang mencetak hat-trick. Meski begitu, mencetak gol penyama kedudukan ke gawang juara Liga Champions sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kapasitasnya.
Premier League musim baru akan segera bergulir, dan kehadiran “monster” 100 kg bernama Brian Madjo dipastikan bakal menjadi ujian berat baru bagi barisan pertahanan klub-klub papan atas Inggris.
Scr/Mashable















