Tijjani Reijnders Berdarah Ambon Tinggal Selangkah ke Al Qadsiah, Bagaimana Latar Belakang Klub Kaya Saudi Ini?

14.08.2026
Tijjani Reijnders Berdarah Ambon Tinggal Selangkah ke Al Qadsiah, Bagaimana Latar Belakang Klub Kaya Saudi Ini?
Tijjani Reijnders Berdarah Ambon Tinggal Selangkah ke Al Qadsiah, Bagaimana Latar Belakang Klub Kaya Saudi Ini?

Nama Tijjani Reijnders kembali mencuri perhatian publik Indonesia, tetapi kali ini bukan karena aksinya bersama Manchester City atau Timnas Belanda. Gelandang berdarah Ambon itu tinggal selangkah meninggalkan Premier League untuk bergabung dengan klub kaya Arab Saudi, Al Qadsiah.

Manchester City telah mencapai kesepakatan dengan Al Qadsiah mengenai transfer pemain berusia 28 tahun tersebut dengan nilai sekitar 52 juta poundsterling atau 70,1 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,2 triliun. Persyaratan pribadi hampir diselesaikan dan transfer tinggal menunggu pemeriksaan medis sebelum dapat difinalisasi.

Kabar tersebut menarik bagi Indonesia karena Tijjani Reijnders bukan pemain Belanda tanpa hubungan dengan Tanah Air. Darah Indonesia mengalir melalui sang ibu, Angelina Syane Lekatompessy, yang berasal dari keluarga Ambon, Maluku dan lahir di Jakarta.

Tijjani bahkan pernah mengatakan latar belakang Indonesia merupakan bagian besar dari identitasnya dan sesuatu yang sangat ia banggakan. Hubungan emosional itu pula yang membuat namanya mempunyai basis penggemar kuat di Indonesia meski memilih membela Belanda.

Darah Indonesia Tijjani Reijnders Berasal dari Ambon

Hubungan Tijjani Reijnders dengan Indonesia berasal dari garis keluarga ibunya, Angelina Syane Lekatompessy, yang mempunyai darah Ambon. Marga Lekatompessy merupakan nama keluarga yang erat dengan Maluku, membuat hubungan tersebut bukan sekadar cerita keturunan jauh tanpa identitas yang jelas.

Tijjani pernah memperlihatkan kebanggaan terhadap garis keluarga tersebut saat masih membela AC Milan dengan menggunakan nama Lekatompessy di belakang jerseynya. Momen itu semakin menguatkan ikatan sang gelandang dengan identitas Indonesia yang berasal dari pihak ibunya.

Hubungan keluarga Reijnders dengan sepak bola Indonesia bahkan semakin dekat melalui sang adik, Eliano Reijnders, yang memilih menjadi warga negara Indonesia. Eliano kemudian memperkuat Timnas Indonesia setelah proses pewarganegaraannya diselesaikan pada 2024.

Karena itulah kemungkinan kepindahan Tijjani Reijnders menuju Saudi Pro League mempunyai daya tarik berbeda bagi penggemar Indonesia. Bukan hanya seorang pemain Manchester City yang berpindah klub, tetapi pesepak bola berdarah Maluku yang memasuki proyek ambisius sepak bola Arab Saudi.

Kepindahan tersebut juga mengejutkan karena Tijjani Reijnders baru menjalani satu musim bersama Manchester City. City memboyongnya dari AC Milan musim panas lalu dengan biaya sekitar 46,5 juta poundsterling setelah performanya berkembang pesat di Italia.

Sepanjang musim pertamanya di Inggris, Tijjani Reijnders menghasilkan tujuh gol dalam 47 penampilan di seluruh kompetisi. Catatan itu memperlihatkan dirinya bukan pemain yang sepenuhnya tersisih, sehingga keputusan melepasnya lebih berkaitan dengan perubahan komposisi skuad City.

Pada Kamis menjelang proses transfer, Reijnders bahkan menjalani latihan secara terpisah dari skuad utama Manchester City. Situasi tersebut menjadi indikasi kuat bahwa penyelesaian kepindahan sudah semakin dekat meskipun pengumuman resmi dari Al Qadsiah belum dikeluarkan.

Status paling aman sampai perkembangan 14 Agustus 2026 adalah Tijjani Reijnders tinggal selangkah bergabung dengan Al Qadsiah, bukan sudah resmi menjadi pemain mereka. Kesepakatan antarklub sudah dilaporkan tercapai, tetapi tes medis dan formalitas tetap harus diselesaikan.

Lalu, Siapa Sebenarnya Al Qadsiah?

Nama Al Qadsiah mungkin belum sepopuler Al Nassr, Al Hilal, Al Ittihad ataupun Al Ahli bagi sebagian penggemar sepak bola Indonesia. Namun, klub berbasis di Al Khobar, Eastern Province, tersebut sebenarnya memiliki sejarah panjang yang jauh mendahului era investasi besar Saudi.

Al Qadsiah secara resmi berdiri pada 1967, setelah Al-Shoulla dan Al-Wahda dilebur menjadi satu klub, sedangkan akar sepak bolanya dapat ditelusuri hingga 1935. Nama Al Qadsiah sendiri diambil dari Battle of Al-Qadsiah dalam sejarah kawasan Timur Tengah.

Klub tersebut juga bukan organisasi sepak bola semata karena mempunyai berbagai cabang olahraga, mulai futsal, bola tangan, basket, judo hingga renang dan tenis. Pada 2023, Al Qadsiah juga memperluas program olahraga perempuan ke beberapa cabang.

Jadi, Al Qadsiah bukan klub yang tiba-tiba diciptakan untuk menampung bintang sepak bola dari Eropa. Yang berubah dalam beberapa tahun terakhir adalah kemampuan finansial dan skala ambisinya setelah struktur kepemilikan memasuki babak baru.

Transformasi terbesar datang pada 5 Juni 2023, ketika Kementerian Olahraga Arab Saudi mengumumkan pengalihan kepemilikan Al Qadsiah kepada Saudi Aramco. Sejak itulah klub mulai membangun proyek yang diarahkan untuk menantang kekuatan terbesar Saudi Pro League.

Posisi Al Qadsiah menarik karena model kepemilikannya berbeda dengan empat raksasa Saudi lainnya yang banyak diberitakan dunia. Al Hilal, Al Nassr, Al Ahli dan Al Ittihad masuk proyek Public Investment Fund, sedangkan Al Qadsiah berada di bawah Aramco.

Masuknya perusahaan energi raksasa tersebut kemudian diikuti pembangunan struktur klub, perekrutan pemain internasional dan investasi infrastruktur. Karena itu, mendatangkan Tijjani Reijnders dengan biaya sekitar 52 juta poundsterling bukan operasi yang berdiri sendirian.

Al Qadsiah sedang mencoba mengubah dirinya dari klub tradisional Eastern Province menjadi kekuatan nasional dan Asia. Transfer Tijjani Reijnders hanya menjadi salah satu bukti paling mencolok dari percepatan proyek tersebut.

Meski kekuatan finansial terbaru datang dari Aramco, Al Qadsiah sebenarnya sudah memiliki sejarah prestasi sebelum era modern. Klub pernah menjuarai Crown Prince Cup 1992, Asian Cup Winners’ Cup 1993, dan Saudi Federation Cup 1994.

Trofi Asia pada 1993 sangat penting dalam membaca ambisi sekarang karena Al Qadsiah bukan sepenuhnya pendatang baru di panggung kontinental. Mereka mempunyai masa lalu sebagai juara Asia meski kemudian mengalami periode naik-turun hingga bermain di kasta kedua.

Al Qadsiah akhirnya kembali menuju Saudi Pro League setelah menjuarai kompetisi kasta kedua musim 2023/2024. Promosi itu terjadi tepat ketika investasi Aramco mulai mendapatkan bentuk, membuat perjalanan klub melesat jauh lebih cepat dibanding tim promosi pada umumnya.

Hanya dalam beberapa musim, klub tersebut berubah dari tim divisi kedua menjadi tujuan potensial untuk pemain seperti Tijjani Reijnders. Perubahan skala tersebut menjelaskan mengapa Al Qadsiah kini layak diperhitungkan sebagai kekuatan baru.

Musim 2024/2025 memberikan bukti pertama bahwa proyek Al Qadsiah bukan sekadar mengumpulkan nama terkenal karena mereka langsung finis peringkat keempat Saudi Pro League. Klub juga mencapai final King’s Cup sebelum kalah 1-3 dari Al Ittihad.

Konsistensi kemudian muncul pada musim 2025/2026 ketika Al Qadsiah kembali menempati urutan keempat dengan 77 poin dari 34 pertandingan. Mereka menghasilkan 23 kemenangan, delapan hasil seri dan hanya tiga kali kalah sepanjang kompetisi.

Produktivitasnya juga tinggi dengan 83 gol dan hanya 34 kali kebobolan, menunjukkan keseimbangan yang cukup baik antara serangan dan pertahanan. Posisi tersebut sekaligus mengantarkan mereka kembali ke AFC Champions League Elite pada musim 2026/2027.

Kebutuhan bermain di Asia menjadi salah satu alasan logis mengapa kedalaman skuad harus kembali ditingkatkan musim panas ini. Dalam konteks tersebut, Tijjani Reijnders bukan semata transfer glamor, tetapi tambahan penting untuk jadwal yang semakin padat.

Brendan Rodgers Memimpin Proyek Besar Ini

Al Qadsiah juga mendatangkan sosok berpengalaman untuk memimpin proyek dengan menunjuk Brendan Rodgers pada Desember 2025. Mantan pelatih Liverpool, Leicester City dan Celtic tersebut mengambil alih ketika klub berada di posisi kelima Saudi Pro League.

Rodgers memiliki reputasi mengembangkan sepak bola berbasis penguasaan bola dan menyerang, karakter yang dianggap sesuai dengan arah klub. CEO James Bisgrove bahkan menegaskan penunjukan tersebut mencerminkan ambisi dan visi jangka panjang Al Qadsiah.

Kontrak Rodgers berlangsung hingga 2028, menandakan Al Qadsiah tidak melihatnya sebagai solusi sementara. Hasil musim lalu juga membuat pelatih asal Irlandia Utara tersebut masuk nominasi Manager of the Season Saudi Pro League.

Ia bersaing dalam nominasi bersama Jorge Jesus, Matthias Jaissle, Simone Inzaghi dan Saad Al Shehri. Pencapaian tersebut memperkuat kesan bahwa proyek Al Qadsiah mulai mendapat pengakuan sebelum Tijjani Reijnders sekalipun benar-benar datang.

Al Qadsiah sebenarnya sudah mempunyai skuad dengan kualitas tinggi sebelum mengejar Tijjani Reijnders, termasuk Koen Casteels dan Nacho Fernandez di lini belakang. Sektor tengah juga dihuni Julian Weigl, Nahitan Nandez, Otavio hingga Musab Al Juwayr.

Di lini depan terdapat Mateo Retegui dan Julian Quiñones, dua penyerang dengan karakter serta reputasi yang berbeda. Retegui datang dengan status mantan top skor Serie A, sedangkan Quiñones berkembang menjadi salah satu bintang terbesar kompetisi Saudi.

Quiñones bahkan masuk nominasi Player of the Season 2025/2026 bersama Ivan Toney, Ruben Neves, Cristiano Ronaldo dan Joao Felix. Itu memberikan gambaran mengenai level pemain yang sekarang sudah dimiliki klub asal Al Khobar tersebut.

Bila Tijjani Reijnders masuk, Rodgers dapat mengombinasikannya dengan Weigl, Otavio, Nandez ataupun Al Juwayr. Secara teknis, sektor tengah Al Qadsiah akan memiliki kualitas yang semakin dekat dengan para penantang utama gelar.

Mengapa Tijjani Reijnders Cocok untuk Al Qadsiah?

Secara karakter, Tijjani Reijnders bukan gelandang yang hanya bertahan di depan lini belakang karena ia nyaman membawa bola dan bergerak menembus garis. Kemampuan tersebut cocok dengan keinginan Rodgers membangun tim yang agresif dan menyerang.

Keberadaan Julian Weigl atau pemain lain yang dapat mengisi area lebih dalam berpotensi memberikan kebebasan lebih besar kepada Reijnders. Ia bisa bergerak mendukung Retegui dan Quiñones tanpa harus menjadi pemain yang terus menjaga keseimbangan sendirian.

Dari sudut pandang Al Qadsiah, transfer ini juga menarik karena Tijjani Reijnders masih berada pada usia produktif, bukan pemain yang tiba di Saudi setelah karier Eropanya habis. Ia baru berusia 28 tahun dan meninggalkan Manchester City setelah satu musim.

Itulah yang membuat transaksi ini lebih bermakna dibanding perekrutan pemain terkenal menjelang pensiun. Al Qadsiah berusaha membeli kualitas yang masih relevan secara kompetitif untuk membantu klub memenangkan pertandingan dan mengejar trofi.

Musim panas 2026, Al Qadsiah sebelumnya sudah bergerak dengan mendatangkan Souffian El Karouani, Mohammed Al Qahtani, Sultan Harun dan Ahmed Al Siyahi. Sementara Qassem Lajami menjadi salah satu pemain yang meninggalkan klub menuju Diriyah.

Namun, Tijjani Reijnders jelas menjadi operasi dengan nilai dan daya tarik terbesar karena datang dari Manchester City. Jika transfer diselesaikan, kedatangannya akan menjadi sinyal bahwa Al Qadsiah berani bersaing mendapatkan pemain yang masih mempunyai pasar kuat di Eropa.

Proyek tersebut langsung mendapatkan momentum di lapangan ketika Al Qadsiah membuka Saudi Pro League 2026/2027 dengan kemenangan 3-1 atas Al Shabab. Mohammed Abu Al-Shamat, Julian Quiñones dan Turki Al Ammar mencetak gol setelah tim sempat tertinggal.

Lawan berikutnya adalah Al Ittihad pada 21 Agustus sebelum menghadapi NEOM beberapa hari kemudian. Jadwal tersebut akan segera memberikan gambaran seberapa dekat Al Qadsiah dengan klub-klub yang selama ini mendominasi kompetisi.

Aramco Stadium Jadi Simbol Ambisi

Ambisi Al Qadsiah juga terlihat dari pembangunan Aramco Stadium berkapasitas sekitar 47.000 penonton yang dipersiapkan sebagai kandang baru. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2026 dan nantinya menjadi salah satu venue AFC Asian Cup 2027.

Kompleksnya mencakup area sekitar 800.000 meter persegi, lengkap dengan fasilitas latihan, parkir, taman, fan zone dan kawasan retail. Klub juga sudah membuka High Performance Centre serta terus mengembangkan program akademi untuk pemain muda.

Mulai musim 2026/2027, perubahan komersial juga terlihat setelah Adidas menjadi mitra perlengkapan resmi klub. Jersey kandang tetap mempertahankan warna merah dengan aksen kuning yang selama ini menjadi identitas Al Qadsiah.

Artinya, investasi Aramco tidak hanya digunakan untuk membayar transfer seperti Tijjani Reijnders, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting apabila Al Qadsiah benar-benar ingin menjadi kekuatan Asia.

Al Qadsiah sekarang berada pada tahap paling sulit karena dua kali finis keempat membuat mereka sudah berdiri tepat di belakang kelompok elite. Tantangan selanjutnya adalah konsisten mengalahkan Al Hilal, Al Nassr, Al Ahli dan Al Ittihad.

Mereka sudah mempunyai pemilik dengan sumber daya besar, Brendan Rodgers, pemain internasional, pusat performa, stadion baru dan tiket AFC Champions League Elite. Yang belum mereka miliki pada era Aramco adalah trofi besar sebagai bukti investasi tersebut benar-benar berhasil.

Kedatangan Tijjani Reijnders dapat memperkecil kesenjangan itu karena kualitas lini tengah menjadi semakin dalam untuk menghadapi dua kompetisi. Namun, harga besar juga membawa tuntutan bahwa klub tidak boleh lagi puas hanya dengan finis di posisi keempat.

Jika berhasil menembus tiga besar atau meraih gelar, Al Qadsiah dapat mengubah narasi sepak bola Saudi dari “Big Four” menuju “Big Five”. Transfer seorang gelandang Manchester City berdarah Indonesia menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Kepergian Tijjani Reijnders berpotensi menjadi awal perubahan besar di lini tengah Manchester City karena masa depan Rodri juga berada dalam sorotan. Barcelona disebut tertarik terhadap gelandang Spanyol tersebut, yang menyisakan satu tahun kontrak di Etihad.

Pada waktu bersamaan, sumber dekat City membantah laporan bahwa klub sudah mengajukan proposal resmi untuk Enzo Fernandez. Chelsea disebut meminta sekitar 120 juta poundsterling dan memberikan tenggat kepada peminat untuk menyampaikan tawaran.

Pergerakan tersebut membuat transfer Reijnders tidak bisa dipandang terpisah dari restrukturisasi skuad Manchester City. Namun, bagi penggemar Indonesia, cerita paling dekat tetap berada pada perjalanan pemain berdarah Ambon menuju babak baru di Arab Saudi.

Untuk Al Qadsiah, merekrut Tijjani Reijnders berarti mendapatkan gelandang produktif yang masih berada pada periode matang kariernya. Untuk publik Indonesia, transfer tersebut menghadirkan koneksi personal karena salah satu darah Nusantara kini berada di pusat ambisi besar sepak bola Saudi.

Scr/Mashable





Don't Miss