Perangkat mikrofon nirkabel kini menjadi salah satu alat penting bagi kreator konten, jurnalis, hingga videografer. Mashable Indonesia mencoba mikrofon nirkabel Sennheiser Profile Wireless 2-Channel Set yang dikembangkan oleh produsen audio asal Jerman, Sennheiser.
Kesan pertama, perangkat ini menarik karena menawarkan konsep audio multi-tool dalam satu paket yang ringkas.
Seluruh komponen, mulai dari receiver dua kanal, dua mikrofon clip-on, hingga berbagai aksesori tersimpan dalam satu kotak charging bar portabel yang juga bisa berfungsi sebagai mikrofon genggam untuk wawancara.
Bagi kreator konten atau reporter yang sering bekerja mobile, konsep ini terasa praktis karena semua perlengkapan ada dalam satu kotak tanpa perlu membawa banyak perangkat tambahan.
Salah satu hal yang langsung terasa saat pertama kali menggunakan perangkat ini adalah proses instalasi yang sangat cepat .
Berbeda dengan banyak mikrofon nirkabel modern yang memerlukan aplikasi smartphone untuk pengaturan, Profile Wireless justru plug-and-play alias bisa langsung digunakan tanpa aplikasi tambahan.
Dua mikrofon clip-on yang tersedia sudah dipasangkan (pre-paired) dengan receiver. Begitu perangkat dinyalakan, keduanya langsung terhubung secara otomatis. Hal ini sangat membantu terutama ketika harus merekam cepat di lapangan.
Dalam beberapa kesempatan liputan, fitur ini membuat proses setup terasa jauh lebih praktis dibanding sistem mikrofon lain yang memerlukan pengaturan tambahan.
Salah satu fitur yang paling terasa manfaatnya saat digunakan adalah internal recording pada setiap mikrofon.
Jika sinyal antara transmitter dan receiver tiba-tiba terputus, mikrofon akan otomatis merekam audio secara internal. Dengan memori 16 GB di setiap mikrofon, perangkat ini mampu menyimpan hingga sekitar 30 jam rekaman.
Fitur ini memungkinkan perekaman cadangan (backup recording) jika sinyal nirkabel melemah atau terputus.
Bagi jurnalis atau kreator video, fitur ini memberikan rasa aman karena risiko kehilangan audio akibat gangguan sinyal bisa diminimalkan.
Dalam praktiknya, fitur ini sangat berguna saat merekam di area ramai atau lokasi dengan potensi interferensi sinyal.
Sennheiser juga menyematkan rekaman 24-bit dengan kemampuan merekam dua level audio secara simultan, sehingga risiko suara pecah (clipping) dapat diminimalkan. Tersedia pula Safety Channel Mode, yang mengirim sinyal utama dan versi audio dengan level lebih rendah sebagai cadangan.

Pengalaman menggunakan perangkat ini menunjukkan bahwa sistemnya cukup fleksibel untuk berbagai kebutuhan produksi.
Mikrofon clip-on dapat digunakan untuk wawancara dua narasumber sekaligus. Sementara charging bar yang berfungsi sebagai mikrofon genggam cukup membantu ketika melakukan wawancara cepat atau doorstop interview di lapangan.
Bahkan desainnya sudah dilengkapi magnet klip untuk pemasangan ke pakaian serta lubang tripod untuk kebutuhan mounting tambahan.
Selain itu, receiver juga memiliki output headphone sehingga pengguna bisa melakukan monitoring audio secara langsung saat proses rekaman.
Seluruh perlengkapan, mulai dari kabel USB-C, kabel TRS, adaptor Lightning, hingga cold shoe adapter sudah tersedia dalam satu paket, menjadikan Profile Wireless solusi audio tanpa komponen tercecer.

Dari sisi kualitas suara, karakter audio khas Sennheiser terasa cukup jelas.
Perangkat ini mendukung perekaman hingga 24-bit, dengan teknologi yang mampu merekam dua level audio sekaligus untuk mencegah suara pecah atau clipping.
Selain itu tersedia low-cut filter yang membantu meredam suara dengung frekuensi rendah seperti dari AC atau mesin di sekitar lokasi rekaman.
Jangkauan sinyalnya juga cukup luas, dengan kemampuan transmisi hingga sekitar 245 meter dalam kondisi tanpa hambatan.

Meski memiliki banyak keunggulan, ada beberapa hal yang terasa kurang nyaman dalam penggunaan sehari-hari.
Pertama, ukuran mikrofon clip-on tergolong cukup besar dibanding beberapa produk pesaing. Saat dipasang di pakaian, dimensinya memang terlihat lebih menonjol.
Kemungkinan ukuran ini dibuat lebih besar karena perangkat menyediakan port tambahan untuk menghubungkan mikrofon lavalier eksternal.
Namun sayangnya, kabel lavalier tidak disertakan dalam paket, sehingga pengguna perlu membelinya secara terpisah jika membutuhkan opsi tersebut.
Kekurangan lain yang terasa adalah daya tahan baterai. Dalam penggunaan normal, mikrofon bertahan sekitar 7 jam, yang sebenarnya cukup untuk satu sesi produksi, tetapi masih sedikit lebih boros dibanding beberapa perangkat lain di kelasnya.
Meski demikian alat ini menawarkan lebih dari 15 jam waktu penggunaan saat difungsikan sebagai mikrofon genggam. Menariknya, charging bar dapat mengisi daya receiver dan mikrofon secara bersamaan saat digunakan.
Selain itu, dari sisi harga, perangkat ini memang berada di level premium yaitu Rp5.499.000, sehingga mungkin tidak menjadi pilihan utama bagi kreator pemula.
Secara keseluruhan, pengalaman menggunakan Sennheiser Profile Wireless 2-Channel Set memberikan kesan bahwa perangkat ini dirancang untuk pengguna yang membutuhkan keandalan dan fleksibilitas tinggi dalam produksi audio.
Fitur rekaman cadangan otomatis, kemudahan penggunaan tanpa aplikasi, serta desain all-in-one menjadi nilai tambah yang sangat membantu dalam berbagai situasi produksi.
Scr/Mashable

















