Xiaomi Resmi Tinggalkan MIUI, HyperOS Jadi Fokus di 2026

26.03.2026
Xiaomi Resmi Tinggalkan MIUI, HyperOS Jadi Fokus di 2026
Xiaomi Resmi Tinggalkan MIUI, HyperOS Jadi Fokus di 2026

Setelah lebih dari satu dekade menjadi identitas utama perangkat Xiaomi, akhirnya MIUI resmi dihentikan. Xiaomi memastikan bahwa tidak akan ada lagi pembaruan untuk sistem operasi tersebut, menandai berakhirnya salah satu UI Android paling populer di dunia.

Keputusan ini sekaligus menutup perjalanan panjang MIUI yang pernah digunakan oleh ratusan juta pengguna global, dan membuka babak baru melalui sistem operasi generasi terbaru, Xiaomi HyperOS.

MIUI Resmi Tamat, Perangkat Terakhir Sudah EOL

Penghentian MIUI bukan sekadar transisi biasa, melainkan benar-benar akhir dari seluruh dukungan software. Bahkan dua perangkat terakhir yang masih menerima update, yaitu Redmi A2 dan Redmi A2+, kini resmi masuk daftar end-of-life (EOL) per 24 Maret 2026.

Kedua perangkat tersebut sebelumnya masih mendapatkan patch keamanan dan update minor berbasis Android 13. Namun dengan keputusan terbaru ini, seluruh ekosistem MIUI kini benar-benar dihentikan tanpa pengecualian.

Ini berarti pengguna tidak akan lagi menerima pembaruan keamanan maupun fitur baru, sehingga menjadi momen penting bagi pengguna untuk mulai mempertimbangkan transisi ke sistem yang lebih baru.

Dari Custom ROM ke 500 Juta Pengguna

MIUI memiliki sejarah yang cukup unik. Sistem ini justru lahir sebelum Xiaomi merilis smartphone pertamanya. Diperkenalkan pada tahun 2010 sebagai custom ROM berbasis Android, MIUI dengan cepat menarik perhatian komunitas karena update mingguan dan fitur yang inovatif.

Berbeda dengan Android stock, MIUI dikenal dengan pendekatan yang fokus pada kustomisasi. Pengguna bisa mengubah hampir seluruh tampilan, mulai dari ikon, font, hingga sistem UI. Selain itu, fitur seperti Second Space, Dual Apps, hingga App Lock menjadi ciri khas yang kemudian diadopsi banyak brand lain.

Popularitasnya pun meroket. Dalam kurun waktu satu dekade, MIUI berhasil menembus lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. Bahkan pada puncaknya, sistem ini digunakan oleh sebagian besar pengguna perangkat Xiaomi, Redmi, dan Poco.

Kenapa Xiaomi Beralih ke HyperOS?

Keputusan Xiaomi untuk meninggalkan MIUI bukan tanpa alasan. Seiring berkembangnya ekosistem produk mereka mulai dari smartphone, smart home, hingga kendaraan listrik, MIUI dinilai tidak lagi cukup fleksibel untuk menghubungkan semua perangkat tersebut.

Sebagai solusi, Xiaomi menghadirkan HyperOS, sistem operasi baru yang dirancang untuk menyatukan seluruh ekosistem dalam satu platform terintegrasi.

HyperOS dibangun di atas kombinasi Android, sistem IoT internal Xiaomi (Vela), dan kernel Linux. Hasilnya adalah sistem yang lebih ringan, lebih cepat, dan lebih efisien dibanding MIUI.

Salah satu fitur unggulan HyperOS adalah kemampuan integrasi lintas perangkat. Melalui teknologi seperti HyperConnect, pengguna dapat menghubungkan smartphone dengan perangkat lain secara seamless, mulai dari TV, smart home, hingga mobil.

Pendekatan ini sejalan dengan visi Xiaomi dalam membangun ekosistem “Human x Car x Home”, di mana semua perangkat dapat saling terhubung dan berbagi fungsi secara real-time.

Bagi pengguna, ini bukan sekadar perubahan sistem operasi, tetapi juga awal dari pengalaman digital yang lebih terhubung dan cerdas.

Scr/Mashable




Don't Miss