Aplikasi The White House Tuai Kritik, Diduga Kumpulkan Data Sensitif Pengguna

07.04.2026
Aplikasi The White House Tuai Kritik, Diduga Kumpulkan Data Sensitif Pengguna
Aplikasi The White House Tuai Kritik, Diduga Kumpulkan Data Sensitif Pengguna

Peluncuran aplikasi resmi The White House app oleh pemerintah Amerika Serikat mendadak menjadi sorotan publik.

Alih-alih hanya dipuji sebagai inovasi digital untuk mendekatkan pemerintah dengan masyarakat, aplikasi ini justru menuai kritik tajam terkait isu privasi dan keamanan data pengguna.

Aplikasi yang dirilis oleh Gedung Putih ini dirancang sebagai kanal informasi resmi, memungkinkan masyarakat mengikuti aktivitas Presiden Donald Trump secara langsung melalui ponsel.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran soal potensi pelacakan lokasi hingga pengumpulan data sensitif.

Fitur Lengkap, Akses Informasi Tanpa Perantara

Secara fungsi, aplikasi ini menawarkan berbagai fitur menarik. Pengguna bisa mengakses rilis pers resmi, mengikuti pengumuman kebijakan secara real-time, hingga menonton siaran langsung pidato dan konferensi pers.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga menyediakan fitur interaksi langsung melalui formulir pesan ke pemerintah, galeri foto dan video kegiatan resmi, hingga informasi ekonomi seperti harga kebutuhan pokok dalam format visual.

Kehadiran aplikasi ini disebut-sebut sebagai upaya pemerintah untuk menghadirkan transparansi informasi tanpa perantara media.

Fitur ICE Picu Kontroversi

Salah satu fitur yang langsung menuai perhatian adalah adanya tautan ke layanan pelaporan milik U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE). Fitur ini memungkinkan pengguna melaporkan dugaan pelanggaran imigrasi melalui situs resmi lembaga tersebut.

Namun, langkah ini memicu kritik dari kelompok masyarakat sipil. ICE sendiri memang kerap menjadi sorotan terkait kebijakan penegakan hukum terhadap imigran di Amerika Serikat.

Bagi sebagian pihak, integrasi fitur ini dalam aplikasi pemerintah dinilai sensitif dan berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengguna.

Isu Privasi: Akses Data Sensitif dan Pelacakan Lokasi

Di luar fitur-fitur utamanya, kekhawatiran terbesar justru datang dari aspek privasi. Berdasarkan analisis independen, aplikasi The White House app dilaporkan meminta sejumlah izin sensitif dari pengguna.

Mulai dari akses lokasi presisi, jaringan perangkat, hingga data biometrik seperti sidik jari. Bahkan, ditemukan indikasi bahwa aplikasi ini dapat mengirimkan data lokasi pengguna secara berkala, sekitar setiap 4,5 menit ke server pihak ketiga seperti OneSignal.

Meski penggunaan layanan pihak ketiga seperti ini umum untuk sistem notifikasi, frekuensi pengiriman data tersebut memicu kekhawatiran terkait bagaimana data pengguna dikelola dan disimpan.

Analisis teknis lainnya juga menemukan bahwa aplikasi ini mampu memuat konten dari sumber eksternal, termasuk video yang berasal dari platform seperti GitHub.

Hal ini dinilai berpotensi menimbulkan risiko keamanan jika sumber eksternal tersebut tidak memiliki perlindungan yang memadai.

Selain itu, browser internal dalam aplikasi dilaporkan dapat memodifikasi tampilan situs pihak ketiga, termasuk elemen seperti banner persetujuan cookie. Praktik ini menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan transparansi informasi kepada pengguna.

Belum Ada Klarifikasi Resmi

Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai temuan tersebut. Belum ada penjelasan detail mengenai bagaimana data pengguna dikumpulkan, digunakan, maupun dilindungi.

Kondisi ini membuat isu privasi aplikasi ini semakin ramai diperbincangkan, baik di kalangan pengamat teknologi maupun publik luas.

Scr/Mashable




Don't Miss