Sebuah laporan terbaru dari jajak pendapat National Education Union (NEU) di Inggris memicu diskusi hangat mengenai masa depan pendidikan di era kecerdasan buatan.
Berdasarkan survei terhadap 9.000 guru sekolah negeri, ditemukan fakta mengkhawatirkan: penggunaan AI secara masif di kalangan siswa disinyalir menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis secara signifikan.
Dikutip dari Techcrunch, Selasa (7/4/2026), dua pertiga responden menyatakan bahwa anak-anak kini mulai kehilangan keterampilan inti seperti memecahkan masalah, kreativitas, hingga kemampuan berdiskusi secara mendalam.
Fenomena ini tidak hanya menyerang aspek kognitif tingkat tinggi, tetapi juga keterampilan dasar. Para guru mengamati bahwa siswa merasa tidak perlu lagi belajar mengeja karena teknologi voice-to-text (pengubah suara menjadi teks) telah menggantikan peran pengetahuan dasar tersebut.
“AI menghancurkan esensi dari ‘pembelajaran’ itu sendiri—upaya kolaboratif dan berpikir disiplin kini tergantikan oleh hasil instan,” ujar salah satu kontributor anonim dalam konferensi NEU di Brighton.
Ambisi Pemerintah vs Realitas Guru di Lapangan
Kondisi ini berbanding terbalik dengan visi pemerintah yang sedang gencar mendorong revolusi digital. Menteri Pendidikan, Bridget Phillipson, sebelumnya mencanangkan rencana ambisius untuk mengembangkan alat bimbingan belajar berbasis AI bagi 450.000 siswa kurang mampu.
Tujuannya mulia yakni mendemokrasikan akses bimbingan belajar agar tidak lagi menjadi hak istimewa segelintir orang. Namun, rencana ini mendapat penolakan keras dari kalangan pendidik.
Data survei menunjukkan bahwa 49% guru menentang rencana tutor AI, sementara hanya 14% yang setuju. Para guru khawatir teknologi ini hanyalah kedok untuk memangkas biaya pendidikan dan merusak nilai interaksi manusia.
Bagi mereka, siswa yang membutuhkan bimbingan belajar seringkali memerlukan dukungan emosional dan sosial yang tidak mungkin diberikan oleh algoritma dingin sebuah mesin.
Ironi di Meja Guru: Antara Skeptis dan Bergantung
Menariknya, meskipun para guru bersikap kritis terhadap penggunaan AI oleh murid—terutama terkait isu kecurangan dalam ujian, mereka sendiri semakin bergantung pada teknologi ini untuk urusan administratif.
Sebanyak 76% guru mengaku menggunakan AI untuk pekerjaan sehari-hari, melonjak tajam dari 53% pada tahun lalu. Mayoritas memanfaatkannya untuk membuat sumber daya pembelajaran (61%) dan merencanakan pelajaran (41%).
Namun, penggunaan ini bak pedang bermata dua. Sebanyak 49% sekolah dilaporkan belum memiliki kebijakan resmi mengenai regulasi AI.
“Banyak staf menggunakan AI tanpa pelatihan yang benar, sehingga menghasilkan materi yang berkualitas rendah atau ‘bubur digital’ yang tidak terstruktur,” ungkap salah satu responden survei.
Kurangnya panduan dan pelatihan membuat implementasi AI di sekolah menjadi liar dan tidak terukur.
Masa Depan Pendidikan: Mencari Titik Tengah
Sekretaris Jenderal NEU, Daniel Kebede, memperingatkan bahwa pemerintah mengambil risiko besar dengan meluncurkan bimbingan belajar AI sebelum dampaknya dipahami secara utuh. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu berpikir sendiri sebagai inti dari pembelajaran.
Senada dengan hal tersebut, juru bicara pemerintah menyatakan bahwa meskipun teknologi penting untuk mempersiapkan anak di dunia digital, AI tidak boleh menggantikan fondasi pengetahuan inti.
Tantangan terbesar di tahun 2026 ini bukan lagi tentang “menggunakan atau tidak menggunakan AI”, melainkan bagaimana menciptakan regulasi yang ketat agar teknologi tetap menjadi alat bantu (tool), bukan pengganti proses berpikir.
Pendidikan sejati tetap membutuhkan interaksi manusia untuk mengasah keterampilan sosial dan mengurangi isolasi, sesuatu yang hingga kini belum bisa diproduksi ulang oleh kecerdasan buatan mana pun.
Poin Penting untuk Evaluasi Digital di Sekolah:
- Pentingnya Regulasi: 66% sekolah belum memiliki kebijakan khusus bagi siswa terkait AI.
- Risiko Sosial: Siswa kurang mampu lebih membutuhkan interaksi manusia untuk meningkatkan keterampilan sosial daripada sekadar bimbingan mesin.
- Kualitas Konten: Tanpa pelatihan, AI hanya akan menghasilkan konten edukasi berkualitas rendah.
- Etika Akademik: Peningkatan ketergantungan pada AI berisiko menyuburkan budaya instan dan kecurangan dalam penilaian.
Integrasi AI dalam pendidikan adalah sebuah keniscayaan, namun laporan dari Inggris ini menjadi pengingat keras bagi dunia bahwa teknologi harus tunduk pada tujuan pedagogis.
Tanpa pengawasan yang ketat, kita berisiko melahirkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, namun kehilangan kemampuan mendasar untuk berpikir secara mandiri dan kritis.
Scr/Mashable

















