Adopsi kecerdasan buatan (AI) di China menunjukkan fenomena unik. Di satu sisi, konsumen begitu cepat menerima teknologi baru, namun di sisi lain, perusahaan justru dinilai tertinggal dibandingkan Amerika Serikat. Hal ini diungkap oleh Zack Kass, mantan Head of Go-To-Market di OpenAI.
Melansir dari South China Morning Post, Kass menilai bahwa budaya perusahaan di China yang masih kaku dan hierarkis menjadi penghambat utama dalam adopsi AI secara luas di sektor bisnis.
Menurut Kass, konsumen di China memiliki karakter “techno-centric” yang kuat. Mereka dikenal lebih terbuka dan antusias terhadap inovasi, termasuk teknologi AI seperti ChatGPT dan berbagai agen AI lainnya.
Fenomena ini terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap teknologi baru. Bahkan, tren penggunaan AI agent seperti OpenClaw sempat memicu antrean panjang hingga ratusan orang di kantor Tencent di Shenzhen demi mendapatkan instalasi gratis.
Tak hanya itu, popularitas AI juga berdampak pada pasar perangkat keras. Produk seperti Apple Mac Mini mengalami lonjakan permintaan di China karena dianggap ideal untuk menjalankan berbagai aplikasi AI dengan harga relatif terjangkau.
Kass menyebut, kedekatan masyarakat China dengan teknologi tidak lepas dari peran inovasi digital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membentuk kelas menengah di negara tersebut.
Sebaliknya, konsumen di Amerika Serikat cenderung lebih skeptis terhadap teknologi, terutama terkait isu privasi, dampak media sosial, hingga menurunnya kepercayaan terhadap perusahaan teknologi besar.
Meski konsumennya agresif, adopsi AI di kalangan perusahaan China justru dinilai lebih lambat dibandingkan perusahaan Amerika. Kass menilai budaya kerja yang konservatif dan struktur organisasi yang terlalu hierarkis menjadi faktor utama.
Dalam sistem tersebut, keputusan strategis sering terpusat di level atas, sementara manajer menengah memiliki ruang terbatas untuk mendorong inovasi. Akibatnya, implementasi teknologi seperti AI tidak berjalan secepat yang diharapkan.
Sebaliknya, perusahaan di Amerika Serikat dinilai lebih adaptif. Mereka tidak hanya cepat mengadopsi AI, tetapi juga aktif memberikan insentif kepada talenta teknologi untuk mendorong inovasi.
Persaingan antara China dan Amerika Serikat dalam pengembangan AI kini semakin intens. Amerika masih unggul dalam model AI kelas atas yang bersifat proprietary, sementara China fokus mengembangkan alternatif open-source berbiaya rendah.
Pembatasan ekspor chip canggih oleh AS juga mendorong perusahaan China untuk mencari solusi inovatif dengan efisiensi biaya yang lebih tinggi. Kedua negara kini sama-sama menggelontorkan investasi besar dalam pengembangan semikonduktor dan pusat data AI.
Kass menilai keunggulan China terletak pada kemampuannya menekan biaya produksi teknologi, sehingga inovasi bisa lebih cepat diakses oleh masyarakat luas.
Menariknya, Kass juga menyoroti minimnya pemahaman pelaku industri teknologi Amerika terhadap perkembangan AI di China. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses, termasuk larangan penggunaan model AI tertentu seperti Kimi dari Moonshot AI atau DeepSeek di banyak perusahaan AS.
Akibatnya, banyak profesional di Silicon Valley hanya mengandalkan data dan benchmark tanpa pengalaman langsung, sehingga kurang memahami kemampuan riil teknologi China.
Sebaliknya, pelaku industri di China justru memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap perkembangan teknologi di Amerika.
Meski sering dipandang berbeda, Kass menilai China dan Amerika sebenarnya memiliki banyak kesamaan, terutama dalam hal ambisi pertumbuhan cepat dan budaya konsumsi.
Namun, narasi geopolitik yang berkembang membuat kesamaan tersebut sering terabaikan, sehingga menciptakan persepsi yang kurang akurat tentang dinamika teknologi di kedua negara.
Dengan kondisi ini, masa depan persaingan AI global diperkirakan akan semakin kompleks, di mana kecepatan inovasi, budaya perusahaan, dan strategi nasional akan menjadi faktor penentu utama.
Scr/Mashable



















