Hasil imbang melawan Betis mengungkap kondisi Real Madrid yang memprihatinkan, sebuah tim yang pernah menakutkan bagi dunia sepak bola Eropa tetapi kini hancur karena kelemahan internalnya sendiri.
Beberapa kekalahan diukur dari skor akhir. Beberapa kekalahan diukur dari perasaan. Real Madrid meninggalkan La Cartuja setelah bermain imbang 1-1 melawan Real Betis dengan jenis kekalahan yang kedua.
Los Blancos tidak kalah di papan skor, tetapi mereka kalah dalam semangat. Mereka kalah dalam karakter. Dan mereka kalah dalam hal bagaimana sebuah tim hebat dapat merosot.
Tim yang Tidak kompak.
Pada menit ke-94, Hector Bellerin, mantan pemain Barcelona, muncul di kotak penalti dan mencetak gol peny equalizer untuk Betis. Para penonton tuan rumah bersorak gembira. Sementara itu, wajah para pemain Real Madrid dipenuhi dengan keheningan yang mengejutkan. Momen itu berbicara banyak.
Tim yang dulunya mengandalkan kebangkitan di menit-menit terakhir, yang dulunya menakutkan lawan hingga detik terakhir, kini menjadi korban dari senjata yang sangat familiar itu.
Real Madrid dulunya ahli dalam menyelesaikan pertandingan. Sekarang merekalah yang dikalahkan. Ini bukan lagi kesalahan yang terisolasi. Ini adalah tema berulang yang berlangsung selama berminggu-minggu. Sebuah tim yang mencoba bangkit, tetapi kakinya kekurangan kekuatan. Raksasa yang ingin berakselerasi, tetapi tubuhnya kelelahan.
Oleh karena itu, persaingan perebutan gelar La Liga hampir berakhir. Jarak dengan Barcelona semakin melebar, sementara kepercayaan diri di Bernabeu semakin menurun. Masalah terbesar Real Madrid saat ini bukanlah kekurangan pemain bintang.
Mereka memiliki Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan sejumlah pemain lain yang mampu mengubah jalannya pertandingan. Tetapi memiliki pemain bintang tidak secara otomatis berarti memiliki tim yang hebat. Melawan Betis, Real Madrid menunjukkan kelemahan mereka yang sudah biasa: mereka bersinar selama beberapa menit, lalu meredup di sisa pertandingan.
Vinicius masih memiliki kecepatan yang luar biasa, tetapi penyelesaian akhirnya kurang memuaskan. Mbappe terus mencetak gol secara konsisten musim ini, tetapi dalam banyak pertandingan besar ia tampil kurang maksimal justru ketika tim sangat membutuhkannya.
Eduardo Camavinga terus menjadi kontroversial karena keputusan-keputusannya yang tidak konsisten. Lini tengah kurang kontrol dan ritme permainan. Pertahanan rapuh saat ditekan di akhir pertandingan. Semua ini menciptakan Real Madrid yang sangat aneh: banyak pemain berbakat tetapi sedikit koneksi.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah perasaan bahwa tim ini kurang memiliki rencana yang jelas saat memasuki momen-momen krusial. Mereka memimpin tetapi tidak tahu bagaimana mempertahankan tempo permainan. Mereka berada di bawah tekanan tetapi tidak tahu bagaimana bereaksi. Mereka membutuhkan ketenangan tetapi kehilangan fokus. Ini adalah tanda dari tim yang tidak terorganisir dengan baik.
Real Madrid selalu bisa mengandalkan momen-momen jenius. Namun musim ini, momen-momen tersebut belum cukup untuk menutupi kelemahan sistemik yang ada.
Barcelona Harus Mengakhiri Perlombaan Ini
Sementara itu, Barcelona juga jauh dari sempurna. Tim asuhan Hansi Flick menghadapi kemunduran signifikan dengan cedera yang dialami Lamine Yamal dan Raphinha. Robert Lewandowski sedang mengalami penurunan performa. Ferran Torres tampil tidak konsisten.
Namun perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa Barcelona masih mempertahankan semangat kolektif. Mereka tahu cara bermain. Mereka memiliki struktur yang jelas. Mereka tahu cara menang bahkan ketika mereka tidak dalam performa terbaik.
Di sisi lain, Real Madrid berada dalam situasi yang berbeda. Itulah mengapa El Clasico mendatang bisa secara resmi menandai akhir musim bagi raksasa Spanyol tersebut. Jika Barcelona memanfaatkan kesempatan ini, mereka tidak hanya akan mengalahkan rival abadi mereka, tetapi juga menutup persaingan perebutan gelar tepat di depan para pesaing mereka.
Setahun yang lalu, skenario itu akan sulit dibayangkan. Tetapi sepak bola selalu berubah dengan sangat cepat.
Real Madrid tidak kekurangan uang, tidak kekurangan bintang, dan tidak kekurangan sejarah. Tetapi saat ini, mereka kekurangan hal yang paling penting: vitalitas. Tim ini seperti pasien yang masih berusaha turun ke lapangan demi ketenaran, sementara tubuh mereka telah memberikan tanda-tanda peringatan sejak lama.
Bagi sebuah klub yang terbiasa berada di puncak Eropa, kondisi sekarat ini lebih menyakitkan daripada kekalahan biasa. Karena hal itu memaksa orang untuk menghadapi kenyataan: seragam putih agung itu tidak lagi cukup kuat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Scr/Mashable















