Kasus hukum yang membayangi kepindahan ikonik Neymar Jr. dari Santos ke Barcelona pada tahun 2013 akhirnya mencapai titik antiklimaks yang melegakan bagi sang pemain.
Mahkamah Agung Spanyol secara resmi menguatkan putusan pembebasan Neymar, serta dua mantan Presiden Barcelona, Sandro Rosell dan Josep Maria Bartomeu. Keputusan ini sekaligus mengakhiri gugatan panjang yang dilayangkan oleh perusahaan investasi asal Brasil, DIS, terkait tuduhan korupsi dan penipuan kontrak.
Akar Masalah dan Gugatan DIS
Mengutip laporan dari El Periodico Mediterraneo, perselisihan ini bermula ketika DIS, yang membeli 40% hak ekonomi Neymar pada tahun 2009 senilai lima juta reais, merasa dicurangi saat proses transfer ke raksasa Catalan tersebut terjadi. Awalnya, Barcelona menyepakati perjanjian agar Neymar bergabung saat kontraknya di Santos habis pada 2014.
Namun, karena kekhawatiran akan minat serius dari Real Madrid, Barcelona mempercepat kepindahan tersebut ke tahun 2013 dengan membayar biaya transfer tertentu.
DIS merasa bahwa nilai transfer yang dilaporkan ke publik telah dimanipulasi melalui kontrak-kontrak simulasi atau palsu untuk menekan bagian yang seharusnya mereka terima. Dari total biaya transfer resmi yang disepakati sebesar 16,1 juta euro,
DIS hanya menerima sekitar 6,84 juta euro. Mereka menuding ada aliran dana gelap yang disembunyikan di balik kesepakatan tambahan antara Barcelona dan keluarga Neymar.
Keputusan Final Mahkamah Agung
Namun, Kamar Kedua Mahkamah Agung Spanyol menilai tuduhan tersebut tidak konsisten. Hakim menyimpulkan bahwa tidak ada bukti niat kriminal untuk menipu DIS pada saat perjanjian dibuat. Pengadilan menegaskan bahwa keputusan Barcelona untuk mengamankan tanda tangan Neymar lebih awal adalah murni keputusan olahraga yang sah.
Poin krusial dalam persidangan ini adalah perbedaan antara hak ekonomi dan hak federatif. Meskipun DIS memiliki 40% hak ekonomi, mereka tidak memiliki hak federatif—hak yang memungkinkan proses transfer dilakukan saat kontrak pemain masih berjalan. Berdasarkan aturan FIFA, hak tersebut hanya berpindah jika klub penjual dan pembeli mencapai kesepakatan.
Bukan Ranah Pidana
Mahkamah Agung menegaskan bahwa negosiasi dengan pemain yang masih terikat kontrak berada di bawah regulasi olahraga, bukan hukum pidana. Tidak ditemukan bukti adanya korupsi antarpihak swasta maupun kontrak fiktif, karena setiap kesepakatan dianggap nyata dan didasarkan pada niat yang sah. Hakim menambahkan bahwa jika ada sengketa mengenai pembagian hasil, hal tersebut seharusnya diselesaikan melalui yurisdiksi sipil atau komersial, bukan melalui tuntutan penjara.
Dengan putusan ini, Neymar kini benar-benar bersih dari beban hukum yang sempat mengancam reputasinya selama bertahun-tahun. Kasus yang semula diprediksi akan menjadi skandal korupsi terbesar di sepak bola Spanyol ini berakhir dengan penegasan bahwa percepatan transfer dan pembayaran biaya opsi adalah strategi bisnis klub yang lumrah. Bagi Rosell dan Bartomeu, putusan ini juga menjadi kemenangan moral setelah bertahun-tahun berada di bawah pengawasan ketat otoritas hukum.
Scr/Mashable
















