Joe Cole telah memperingatkan Frank Lampard agar tidak kembali ke Chelsea, meskipun baru saja membawa Coventry promosi ke Premier League dengan prestasi yang mengesankan.
Frank Lampard menjadi nama yang patut diperhatikan setelah membantu Coventry City meraih promosi ke Premier League setelah penantian selama 25 tahun. Kesuksesan ini langsung membuat mantan gelandang Inggris itu disebut-sebut sebagai kandidat untuk posisi manajer Chelsea.
Namun, legenda Chelsea, Joe Cole, percaya bahwa Lampard sebaiknya menghindari tawaran menjadi manajer di Stamford Bridge saat ini.
Berbicara kepada Paddy Power , Joe Cole mengatakan: “Lampard sebaiknya menjauhi pekerjaan itu. Akan ada godaan bagi Lampard, karena dia mencintai klub ini, untuk kembali dan mencoba lagi.”
Menurut Cole, Lampard baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa di Coventry dan sekarang perlu fokus pada tugas yang jauh lebih sulit, yaitu membantu tim yang baru promosi tersebut menghindari degradasi musim depan. Dia menekankan bahwa manajer berusia 47 tahun itu harus mendedikasikan seluruh waktunya untuk perekrutan dan pembangunan skuad, alih-alih terpengaruh oleh tawaran dari Chelsea.
Joe Cole juga menunjukkan bahwa masalah terbesar di klub London itu terletak pada struktur manajemennya. Menurutnya, seorang manajer akan sangat sulit untuk sukses tanpa wewenang penuh atas keputusan profesional.
Chelsea saat ini adalah tempat di mana setiap manajer dinilai berdasarkan hasil, tetapi kurang memiliki kendali yang cukup atas tim.
Lampard pernah dua kali melatih Chelsea. Pada tahun 2019, ia membawa tim finis di posisi empat besar meskipun terkena larangan transfer , sebelum dipecat pada tahun 2021. Pada tahun 2023, Lampard kembali sebagai manajer interim tetapi hanya memenangkan 1 dari 11 pertandingan.
Chelsea saat ini sedang mencari manajer baru setelah memecat Liam Rosenior. Selain Lampard, kandidat lain yang disebut-sebut termasuk Andoni Iraola dan Cesc Fabregas.
Joe Cole bahkan menyatakan bahwa ia ingin Xabi Alonso menjadi manajer Chelsea, tetapi ia yakin ahli strategi asal Spanyol itu kemungkinan besar tidak akan menerima tawaran tersebut.
Bagaimana Lampard Membawa Coventry Kembali ke Puncak Kejayaannya?
Frank Lampard membantu Coventry City promosi ke Premier League setelah 25 tahun, mengakhiri periode krisis yang panjang dan membuka babak baru bagi klub tersebut.
Coventry City kembali ke Liga Inggris setelah penantian selama 25 tahun. Hasil imbang 1-1 melawan Blackburn Rovers di putaran ke-43 Championship pada pagi hari tanggal 18 April sudah cukup untuk mengamankan promosi mereka, tetapi hasil itu menandai akhir dari perjalanan yang membentang selama beberapa dekade.
Lampard Mengubah Nasib Coventry.
Coventry pernah menjadi nama yang familiar di sepak bola Inggris. Mereka memiliki tradisi yang kaya, basis penggemar yang loyal, dan sejarah panjang di kasta tertinggi. Namun setelah terdegradasi pada tahun 2001, tim tersebut mulai mengalami penurunan yang tak henti-hentinya.
Selama lebih dari dua dekade, Coventry telah mengalami hampir setiap gejolak yang dapat dialami sebuah klub sepak bola. Mereka pernah terdegradasi ke League One, turun ke League Two, menghadapi krisis keuangan, sengketa wilayah, dan penentangan keras terhadap mantan pemilik mereka.
Ada suatu masa ketika Coventry harus memainkan pertandingan kandang mereka di Northampton dan kemudian Birmingham karena mereka tidak dapat menggunakan stadion yang biasa mereka gunakan. Bagi banyak tim, itu sudah cukup untuk melumpuhkan fondasi mereka. Tetapi Coventry bertahan berkat loyalitas para penggemarnya.
Oleh karena itu, kembalinya ke Liga Inggris bukan hanya tentang prestasi olahraga. Ini seperti penyelamatan yang terlambat bagi tim yang telah hidup dalam ketidakstabilan terlalu lama.
Ketika Frank Lampard menerima tawaran untuk melatih Coventry pada akhir tahun 2024, banyak yang skeptis. Karier kepelatihannya sebelumnya kurang ideal. Lampard pernah mengalami masa-masa penuh tekanan di Chelsea dan masa kerja yang kurang memuaskan di Everton.
Oleh karena itu, Coventry dipandang sebagai pertaruhan bagi kedua belah pihak. Klub membutuhkan dorongan semangat. Lampard membutuhkan kesempatan untuk memulai kembali.
Hal pertama yang ia bawa bukanlah pernyataan-pernyataan besar, melainkan stabilitas. Coventry menjadi lebih terorganisir. Ruang ganti menjadi lebih tertib. Para pemain lebih memahami peran mereka.
Lampard juga tahu bagaimana memanfaatkan sumber daya yang tersedia alih-alih menuntut perombakan total. Coventry tidak melakukan pembelian pemain yang fantastis, tetapi moral dan kepercayaan diri tim meningkat secara signifikan.
Kiper Carl Rushworth memberikan stabilitas. Matt Grimes memberikan dampak di lini tengah. Brandon Thomas-Asante meningkatkan efisiensi mencetak gol. Para pemain lama dan baru berpadu pada waktu yang tepat.
Yang lebih penting lagi, Lampard adalah manajer yang baik. Dia menjaga hubungan dengan para pemain bahkan yang tidak banyak mendapat waktu bermain, membantu mereka merasa menjadi bagian dari tim. Ini adalah detail kecil, tetapi sering kali menentukan hasil dari musim Championship yang panjang.
Dari Tim yang Tidak Percaya Diri Menjadi Tim yang Tahu Cara Menang
Championship (divisi kedua) adalah salah satu liga tersulit di Eropa. Jadwal yang padat, tekanan yang luar biasa, dan persaingan yang berkepanjangan menyebabkan banyak tim mengalami keruntuhan psikologis sebelum akhirnya gagal dalam hal performa.
Dulu Coventry juga seperti itu. Mereka mudah kehilangan arah setelah beberapa hasil buruk. Bayang-bayang kegagalan masa lalu selalu menghantui.
Lampard mengubah itu. Coventry telah belajar mengatasi tekanan musim ini. Ketika lawan mengejar mereka, mereka tidak panik. Ketika keraguan muncul, mereka merespons dengan kemenangan.
Pada satu titik, Middlesbrough memimpin dalam perebutan posisi puncak, tetapi Coventry dengan cepat mengalahkan rival mereka 3-1 untuk merebut kembali kendali. Itu adalah tanda karakter yang sebelumnya kurang mereka miliki.
Menjelang akhir musim, Coventry hanya kalah 1 dari 13 pertandingan dan memenangkan 8 pertandingan. Prestasi ini bukan hasil dari inspirasi sesaat, melainkan dari sistem yang stabil dan kepercayaan diri yang dibangun sepanjang musim.
Lampard pernah berkata bahwa orang Inggris cenderung memikirkan skenario terburuk. Dia memahami mentalitas itu, karena Coventry telah terlalu lama hidup dalam pesimisme. Tetapi untuk menikmati kesuksesan, terkadang Anda harus melewati penderitaan terlebih dahulu.
Pernyataan itu secara akurat mencerminkan perjalanan klub ini.
Bagi Coventry, Liga Premier bukan lagi kenangan. Itu adalah realitas baru.
Bagi Lampard, ini adalah pernyataan kuat bahwa dia lebih dari sekadar legenda di lapangan. Dia mampu membangun, memimpin, dan membangkitkan kembali sebuah tim.
Setelah 25 tahun absen, Coventry akhirnya kembali ke tempat yang seharusnya. Dan kembalinya ini membawa makna yang lebih dalam daripada sekadar promosi.
Scr/Mashable
















