Mimpi Bayern Munchen untuk mengangkat trofi Liga Champions 2025/26 harus kandas secara menyakitkan. Langkah “The Bavarian” terhenti di babak semifinal setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Paris Saint-Germain (PSG) pada leg kedua di Allianz Arena, Kamis 7 Mei 2026 dini hari WIB.
Hasil ini membuat Bayern kalah agregat tipis 5-6. Kegagalan ini pun memicu gelombang kritik tajam dari media internasional yang menyoroti rapuhnya mental dan taktik raksasa Jerman tersebut.
Media ternama Prancis, L’Equipe, menyebut Allianz Arena kini telah berubah menjadi “tanah keberuntungan” bagi PSG.
Di stadion angker tersebut, klub ibu kota Prancis itu justru berkali-kali mencetak sejarah. Sementara itu, Le Figaro memuji mental baja armada PSG yang mampu meredam tekanan bertubi-tubi tuan rumah demi mengamankan tiket ke partai puncak.
Keriuhan juga datang dari Spanyol. Media berbasis di Madrid, Marca, memberikan kredit khusus kepada Luis Enrique. Mereka menilai pelatih asal Spanyol itu berhasil menyulap Munich menjadi “wilayah kekuasaan” PSG. AS bahkan melabeli PSG sebagai “Bestia Negra” baru—alias momok atau “hantu” menakutkan yang menjadi penakluk sejati bagi Bayern Munchen.
Kondisi sebaliknya terlihat dari ulasan media Inggris dan Jerman. The Guardian menulis bahwa Bayern benar-benar “dilumpuhkan” oleh PSG, sementara The Sun mendeskripsikan permainan anak asuh Vincent Kompany tersebut seperti tim yang sedang berada dalam kondisi “chaos” atau kacau balau.Media lokal seperti Blick dan Kronen Zeitung lebih menyoroti kontroversi “tragedi handball”.
Bayern merasa dirugikan karena wasit tidak memberikan penalti pada babak pertama saat bola mengenai tangan gelandang PSG, Joao Neves. Namun, wasit bergeming setelah melihat bola tersebut merupakan pantulan dari sapuan rekan setimnya sendiri.
Dengan hasil ini, PSG resmi melaju ke final untuk menantang Arsenal asuhan Mikel Arteta di Budapest pada 30 Mei mendatang. Dunia kini menanti duel adu taktik dua pelatih jenius asal Spanyol tersebut di partai puncak.
Bayern Munchen ‘Dirampok’? Ini Penjelasan Aturan IFAB yang Selamatkan PSG dari Penalti Maut
Allianz Arena mendidih. Keputusan wasit dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions antara Bayern Munchen vs Paris Saint-Germain (PSG), menyisakan luka mendalam bagi tuan rumah. Bayern merasa “dirampok” setelah klaim penalti mereka diabaikan dalam momen yang dianggap krusial bagi hasil akhir pertandingan.
Tensi tinggi sudah terasa sejak peluit pertama dibunyikan. Namun, puncak kontroversi pecah pada menit ke-31. Berawal dari kemelut di kotak terlarang PSG, gelandang Vitinha mencoba menyapu bola sekuat tenaga.Sial bagi PSG, bola sapuan tersebut justru membentur tangan rekan setimnya sendiri, Joao Neves, yang berada dalam posisi cukup terbuka.
Para pemain Bayern Munchen langsung mengerumuni wasit, menuntut hadiah penalti karena tangan Neves dianggap tidak dalam posisi natural.Kritik pedas pun datang dari pengamat sekaligus legenda Liverpool, Jamie Carragher. Saat berbicara di CBS Sports, ia tak mampu membendung kekesalannya.
“Saya benar-benar geram melihat ini. Joao Neves merentangkan tangannya seperti sedang mengatur lalu lintas di jalan raya, tapi wasit diam saja! Bayern jelas-jelas ditolak mendapatkan penalti yang sangat nyata,” kecam Carragher.
Kenapa Bukan Penalti? Ini Penjelasan Aturan IFAB
Meski publik Allianz Arena berteriak protes, Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) rupanya memiliki aturan yang berpihak pada keputusan wasit. Pakar aturan sepak bola, Dale Johnson dari BBC, mengungkapkan alasan teknis di balik keputusan tersebut.Berdasarkan Laws of the Game terbaru dari IFAB, seorang pemain tidak akan dianggap melakukan pelanggaran handball jika:
1. Bola memantul secara langsung dari tubuh (kepala atau kaki) rekan setimnya sendiri.
2. Jarak antara pemain yang menendang bola dan pemain yang terkena bola sangat dekat, sehingga dianggap tidak ada waktu bagi pemain tersebut untuk bereaksi (menghindar).
Dalam kasus Joao Neves, wasit menilai bola tersebut adalah pantulan langsung dari sapuan Vitinha yang berada dalam jarak sangat dekat. Kecuali bola tersebut langsung masuk ke gawang atau Neves mencetak gol setelah menyentuh bola, maka wasit berhak menganggapnya sebagai accidental handball.
Keberuntungan ini menjadi modal besar bagi PSG. Meski Harry Kane sempat menghidupkan asa lewat gol telat di menit ke-94 yang mengubah skor menjadi 1-1, itu tidak cukup. Bayern tetap tersingkir dengan agregat tipis 5-6.Kemenangan ini membawa PSG terbang ke Budapest untuk menantang Arsenal di partai puncak Liga Champions pada 30 Mei mendatang.
Laga final nanti dipastikan akan menjadi panggung adu taktik dua pelatih asal Spanyol: Luis Enrique melawan Mikel Arteta.
Bagi Bayern, kegagalan ini menyisakan perdebatan panjang: apakah mereka memang menjadi korban ketidakadilan, atau hanya sekadar “kurang beruntung” karena aturan yang sangat spesifik?
Scr/Mashable
















