Pertemuan Arsenal dan Paris Saint-Germain (PSG) di partai puncak Liga Champions 2025/26 memicu lonjakan harga layanan wisata yang luar biasa. Budapest, yang akan menjadi tuan rumah laga final, kini tengah bersiap menghadapi serbuan ribuan suporter dari London dan Paris.
Lolosnya Arsenal ke final untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir setelah menyingkirkan Atletico Madrid telah menciptakan gelombang antusiasme besar. Namun, antusiasme ini harus dibayar mahal oleh para pendukung setianya yang berencana melakukan perjalanan ke Puskas Arena.
Tarif Pesawat dari London Naik Drastis
Segera setelah tiket final dipastikan, ribuan penggemar langsung memburu tiket perjalanan menuju Budapest. Berdasarkan laporan The Sun, harga tiket pesawat pulang-pergi dari London saat ini sudah menyentuh angka hampir 1.200 poundsterling (sekitar Rp24 juta).
Bahkan untuk opsi penerbangan langsung yang paling ekonomis, harga yang ditawarkan sudah melewati 900 poundsterling (Rp18 juta) dan diperkirakan masih akan terus meningkat seiring mendekatnya hari pertandingan. Sebagai alternatif, tersedia jasa bus pulang-pergi dengan harga lebih murah, yakni 269 poundsterling (Rp5,4 juta), meski suporter harus menempuh perjalanan darat selama 42 jam.
Okupansi Hotel di Budapest Capai 90 Persen
Masalah akomodasi juga menjadi tantangan besar. Data dari platform pemesanan hotel menunjukkan bahwa lebih dari 90% kapasitas penginapan di Budapest telah terisi penuh.
Saat ini, pilihan yang tersisa sebagian besar hanyalah tempat tidur di asrama (dormitory) dengan harga yang tetap tinggi, mencapai lebih dari 250 poundsterling (Rp5 juta) per malam. Selain masalah harga, beberapa suporter melaporkan adanya pembatalan sepihak oleh pihak hotel terhadap pesanan lama, yang diduga dilakukan agar kamar tersebut bisa dijual kembali dengan tarif yang lebih mahal.
Biaya Tiket Pertandingan Jadi Sorotan
Tidak hanya biaya perjalanan dan penginapan, harga tiket resmi pertandingan juga menarik perhatian karena cukup tinggi. Tiket kategori terendah dijual mulai dari 60 poundsterling (Rp1,2 juta).Sementara itu, untuk kategori tertinggi, harga tiket mencapai 819 poundsterling (sekitar Rp16,5 juta).
Angka ini bahkan hampir setara dengan harga satu tiket terusan (season ticket) untuk menonton Arsenal di Emirates Stadium sepanjang musim.
Final di Budapest pada 30 Mei mendatang tidak hanya akan menjadi panggung adu taktik antara Luis Enrique dan Mikel Arteta, tetapi juga ujian kesabaran dan finansial bagi para pendukung kedua tim demi menyaksikan sejarah baru tercipta.
Duel Adu Taktik Luis Enrique vs Mikel Arteta: Sejarah Baru Pelatih Spanyol di Final Liga Champions
Partai puncak Liga Champions 2025/26 yang akan digelar di Budapest pada 30 Mei mendatang bakal menjadi catatan sejarah emas bagi dunia kepelatihan Spanyol. Meski tidak ada klub La Liga yang berlaga, pengaruh sepak bola Spanyol tetap mendominasi lewat kehadiran dua sosok jenius di kursi manajer.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi kasta tertinggi Eropa ini, dua pelatih asal Spanyol—Luis Enrique dan Mikel Arteta—akan saling berhadapan secara langsung di laga final. Fenomena ini membuktikan bahwa Spanyol masih menjadi “kiblat” taktik sepak bola meski tanpa keterlibatan klub lokal mereka.
Bagi Luis Enrique, laga ini adalah panggung untuk semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pelatih terbaik di Eropa. Mantan pelatih Barcelona itu kini menatap gelar Liga Champions ketiga dalam karier kepelatihannya.
Jika berhasil, ia juga akan mencatatkan sejarah dengan membawa Paris Saint-Germain (PSG) merengkuh trofi “Si Kuping Besar” untuk kedua kalinya secara berturut-turut.
Di kubu seberang, Mikel Arteta memikul beban sejarah besar. Ia memiliki peluang emas untuk memberikan trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah bagi Arsenal. Klub berjuluk “The Gunners” itu pernah nyaris mencapai puncak kejayaan pada 2006 di bawah asuhan Arsene Wenger dan generasi emas Thierry Henry, namun impian mereka saat itu dikandaskan oleh Barcelona. Kini, di tangan Arteta, Arsenal berharap penantian panjang mereka berakhir.
Perseteruan pelatih dari negara yang sama di final Liga Champions sebenarnya bukan hal baru, namun keterlibatan pelatih Spanyol di kedua kubu adalah yang pertama.Sejarah mencatat beberapa pertemuan serupa, dimulai pada 2003 saat Carlo Ancelotti (AC Milan) beradu taktik dengan Marcello Lippi (Juventus).
Kemudian pada 2013, terjadi duel sesama pelatih Jerman antara Jupp Heynckes (Bayern Munchen) dan Jurgen Klopp (Borussia Dortmund). Hal serupa terulang pada 2020 saat Hansi Flick dan Thomas Tuchel bertemu di laga Bayern vs PSG.
Final tahun ini menjanjikan pertarungan strategi yang sangat menarik. Pasalnya, Enrique dan Arteta dikenal memiliki filosofi permainan yang sangat kontras musim ini. Pertandingan di Budapest nanti bukan sekadar perebutan trofi, melainkan pembuktian siapa yang lebih unggul dalam mengolah taktik di level tertinggi sepak bola dunia.
Scr/Mashable



















