Wali Kota Madrid, Jose Luis Martinez-Almeida, mengkritik keras badan pengatur sepak bola tertinggi di Eropa.
Jose Luis Martínez-Almeida menarik perhatian ketika ia secara terbuka menyuarakan kekecewaannya atas kekalahan Atletico Madrid 0-1 dari Arsenal di leg kedua semifinal Liga Champions. Sebagai penggemar Atletico sejak lama, ia tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya terhadap keputusan wasit di Stadion Emirates pada, Rabu 6 Mei 2026 dini hari WIB.
Berbicara kepada media, Almeida menyatakan bahwa pertandingan Atletico melawan Arsenal bukan sekadar konfrontasi. “Saya pikir kami menghadapi Arsenal, tetapi kenyataannya adalah UEFA. Mereka telah memperjelas bahwa mereka tidak menginginkan Atletico di final,” katanya.
Wali Kota Madrid sangat mengkritik penugasan wasit. Ia berpendapat bahwa penggunaan wasit asal Jerman, mengingat tim Spanyol dan Jerman bersaing memperebutkan tempat kelima di Liga Champions, sungguh tidak dapat dipahami. Almeida percaya bahwa keputusan di lapangan bukan sekadar kesalahan profesional, melainkan disengaja dan tidak menguntungkan.
Salah satu poin yang memicu reaksi keras dari Almeida adalah insiden yang melibatkan Giuliano Simeone. Pemain Atletico itu mengklaim dirinya dilanggar di area penalti, tetapi situasi tersebut sebelumnya dinyatakan offside.
Almeida mempertanyakan penanganan rekaman televisi tersebut: “Tidak dapat dipahami mengapa tidak ada sudut kamera yang jelas yang menunjukkan situasi offside. Kemudian, gambar muncul di media sosial yang menunjukkan bahwa dia tidak offside. Dengan begitu banyak kamera pada saat itu, tidak menayangkan tayangan ulang adalah hal yang tidak dapat diterima.”
Selain itu, ia juga menyebutkan insiden yang melibatkan Antoine Griezmann. Menurut Almeida, wasit meniup peluit terlalu cepat ketika striker Prancis itu terjatuh, padahal ia yakin tidak ada pelanggaran dari bek lawan. Ia juga menduga bahwa waktu tambahan telah diatur untuk menguntungkan Arsenal.
Meskipun kecewa dengan hasilnya, Almeida menyatakan dukungannya kepada tim Diego Simeone. Ia percaya Atletico telah bermain keras, tetapi tidak mampu mengatasi faktor-faktor di luar kemampuan mereka sendiri.
“Anda bisa mengalahkan Arsenal dalam 180 menit, tetapi Anda tidak bisa mengalahkan UEFA,” tegas Almeida. Ia kemudian menyatakan bahwa, menurut pendapat pribadinya, Atletico mengalami kerugian sistemik dalam pertandingan ini.
Pernyataan walikota Madrid itu dengan cepat memicu kontroversi. Sementara beberapa penggemar Atletico setuju dengannya, banyak lainnya berpendapat bahwa itu hanyalah reaksi emosional setelah kekalahan tersebut.
Meskipun demikian, kontroversi seputar kinerja wasit dan VAR sekali lagi menjadi topik hangat di Liga Champions, terutama dalam pertandingan-pertandingan penting seperti semifinal.
Pertandingan Arsenal vs Atletico Madrid Tuai Kritikan karena Kualitas Buruk
Legenda Inter Milan, Wesley Sneijder memicu kontroversi ketika ia menyatakan bahwa pertandingan Arsenal vs Atletico Madrid pada leg kedua semifinal Liga Champions 2025/2025, Rabu 6 Mei 2026 dini hari WIB, memiliki kualitas yang sangat buruk sehingga ia bahkan bercanda bahwa UEFA seharusnya membatalkannya setelah babak pertama.
Sneijder memicu perdebatan sengit dengan pernyataan mengejutkannya setelah leg kedua semifinal Liga Champions antara Arsenal dan Atletico Madrid.
Bertanding di Stadion Emirates, Arsenal mengamankan kemenangan 1-0 atas Atletico Madrid berkat gol dari Bukayo Saka. Gol di akhir babak pertama tersebut memastikan kemenangan dengan agregat 2-1 dalam dua leg. Namun, performa kedua tim tidak memuaskan Sneijder.
Berbicara kepada Ziggo Sport, mantan gelandang Belanda itu menyatakan dengan blak-blakan: “Setelah 35 menit, saya pikir UEFA harus turun tangan. Mereka harus menghubungi London, meminta kedua tim meninggalkan lapangan, dan segera menggelar final antara Bayern Munich dan Paris Saint-Germain.”
Menurut Sneijder, pertandingan itu membosankan karena Atletico sengaja bermain bertahan, menyerahkan kendali permainan kepada Arsenal. Hal ini memperlambat tempo dan mengakibatkan kurangnya peluang menyerang yang berkualitas.
Meskipun demikian, Sneijder tetap menghormati manajer Mikel Arteta. Ia percaya bahwa ahli strategi asal Spanyol itu pantas mendapat pujian karena telah membawa Arsenal ke final meskipun tidak memiliki banyak bintang papan atas.
Terlepas dari kritik yang ada, Arsenal menjalani musim Liga Champions yang mengesankan. Mereka tak terkalahkan setelah 14 pertandingan, hanya kebobolan 6 gol, dan menunjukkan konsistensi yang luar biasa.
Tim London juga menjadi satu-satunya tim dalam sejarah yang tak terkalahkan dalam 14 pertandingan dalam satu musim dan dapat memperpanjang rekor ini menjadi 15 jika mereka memenangkan final.
Lawan Arsenal di final di Budapest adalah pemenang pertandingan Bayern Munich – PSG; leg kedua antara kedua klub ini menjanjikan pertandingan yang lebih seru dan menghibur.
Scr/Mashable















