BYD Perkenalkan Chip Mobil Otonom Paling Canggih di China, Tantang Tesla dan Huawei

03.06.2026
BYD Perkenalkan Chip Mobil Otonom Paling Canggih di China, Tantang Tesla dan Huawei
BYD Perkenalkan Chip Mobil Otonom Paling Canggih di China, Tantang Tesla dan Huawei

Produsen kendaraan listrik terbesar dunia, BYD, memperkenalkan chip terbaru untuk sistem mobil otonom yang diklaim sebagai semikonduktor paling bertenaga di China untuk kendaraan pintar. Langkah ini menjadi bagian dari strategi BYD memperkuat persaingan teknologi kendaraan listrik dan sistem mengemudi otomatis di pasar otomotif global.

Chip baru bernama Xuanji A3 tersebut diumumkan langsung oleh CEO BYD, Wang Chuanfu, dalam acara teknologi perusahaan di Shenzhen, China, pada 28 Mei 2026.

Peluncuran ini memperlihatkan ambisi BYD untuk tidak hanya bersaing sebagai produsen kendaraan listrik, tetapi juga sebagai pemain utama dalam teknologi kecerdasan buatan dan sistem autonomous driving yang selama ini didominasi perusahaan seperti Tesla, Huawei, hingga Xpeng.

BYD menyebut Xuanji A3 memiliki efisiensi energi terbaik di industrinya dengan konsumsi daya sekitar 20 persen lebih rendah dibanding chip sejenis.

Chip tersebut menjadi inti dari platform komputasi pusat terbaru BYD yang ukurannya disebut setara laptop. Sistem ini mengintegrasikan tiga fungsi utama kendaraan listrik dalam satu perangkat komputasi terpadu, yakni sistem kokpit pintar, fitur bantuan mengemudi canggih, dan sistem penggerak listrik kendaraan.

Dengan pendekatan tersebut, BYD ingin menciptakan sistem kendaraan yang lebih cepat merespons, lebih efisien, dan memiliki kemampuan pemrosesan data lebih besar untuk mendukung teknologi autonomous driving generasi berikutnya.

Teknologi ini juga menjadi bagian dari upaya BYD menghadapi persaingan ketat di pasar kendaraan listrik China yang kini dipenuhi inovasi fitur pengisian cepat, AI kendaraan, hingga sistem bantuan mengemudi cerdas.

Senior Vice President BYD, Yang Dongsheng, mengatakan perusahaan tengah menunggu regulasi resmi pemerintah China terkait penerapan kendaraan otonom tingkat lanjut yang diperkirakan mulai berlaku pada 2027.

Menurutnya, BYD telah siap menghadirkan kendaraan dengan kemampuan autonomous driving lebih tinggi begitu aturan tersebut diterapkan.

Saat ini BYD memang belum menghadirkan mobil tanpa sopir sepenuhnya. Namun perusahaan mulai memperluas penggunaan sistem bantuan mengemudi semi-otonom ke seluruh lini produknya di China.

Menariknya, teknologi yang biasanya hanya tersedia pada mobil premium kini akan dipasang juga pada model kendaraan massal seperti BYD Seagull dan Dolphin.

Sistem tersebut akan dilengkapi sensor LiDAR atau laser-mapping untuk meningkatkan kemampuan membaca kondisi jalan dan lingkungan sekitar kendaraan.

BYD menyebut fitur bantuan mengemudi canggih itu akan tersedia sebagai paket tambahan dengan harga sekitar 12.000 yuan atau setara Rp27 jutaan.

“Bahkan model terjangkau seperti Seagull dan Dolphin bisa mendapatkan pengalaman smart driving yang sebelumnya identik dengan mobil mewah,” kata Wang Chuanfu.

Teknologi bantuan mengemudi milik BYD dipasarkan dengan nama God’s Eye. Sistem ini sebelumnya mulai dijadikan fitur standar di sebagian besar kendaraan BYD sejak 2025.

Pada tahap awal, fitur tersebut hadir dalam beberapa tingkatan. Model entry-level hanya mendapatkan fitur cruise control dasar untuk jalan tol, sementara navigasi urban canggih tersedia di kendaraan kelas atas.

Meski demikian, sistem God’s Eye sempat menuai sejumlah kritik dari pengguna karena dinilai belum bekerja secara konsisten sesuai klaim perusahaan.

Untuk meningkatkan performa software, BYD memanfaatkan skala besar armada kendaraannya sebagai sumber data pengembangan AI.

Perusahaan mengungkapkan saat ini terdapat lebih dari 3,15 juta kendaraan BYD yang telah dilengkapi perangkat advanced driver assistance system (ADAS). Armada tersebut menghasilkan sekitar 200 juta kilometer data berkendara setiap hari.

Data masif itu digunakan BYD untuk melatih sistem AI dan meningkatkan kemampuan autonomous driving secara berkelanjutan.

Sebagai langkah membangun kepercayaan konsumen, BYD juga mengumumkan program asuransi khusus untuk kendaraan yang menggunakan sistem God’s Eye terbaru.

Perusahaan akan memberikan perlindungan selama satu tahun terhadap kerusakan atau kecelakaan yang terjadi ketika fitur bantuan mengemudi aktif digunakan.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat teknologi autonomous driving masih menjadi perhatian regulator dan masyarakat terkait aspek keselamatan.

Peluncuran chip Xuanji A3 menunjukkan bagaimana persaingan industri kendaraan listrik China kini bergeser dari sekadar perang harga menuju kompetisi teknologi AI dan autonomous driving.

BYD kini harus menghadapi rival kuat seperti Huawei yang juga agresif mengembangkan platform kendaraan pintar, serta Tesla yang tengah berupaya memperluas sistem Full Self-Driving (FSD) di pasar China.

Berbeda dengan BYD yang mengandalkan kombinasi kamera, radar, dan LiDAR, Tesla memilih pendekatan vision-only dengan memanfaatkan kamera dan neural network tanpa sensor laser.

Sejumlah analis menilai skala distribusi teknologi bantuan mengemudi BYD memang sangat besar, tetapi belum tentu langsung mencerminkan tingkat kematangan software autonomous driving mereka.

Meski begitu, BYD optimistis pengembangan sistem AI kendaraan mereka akan terus meningkat seiring pertumbuhan data dan kemampuan komputasi yang dimiliki perusahaan.

Peluncuran chip Xuanji A3 sekaligus menandai langkah baru BYD untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan teknologi otomotif, bukan sekadar produsen mobil listrik.

Scr/Mashable




Don't Miss