Mark Zuckerberg Belum Puas dengan ‘Bocah Ajaib AI’, Meta Superintelligence Labs Belum Memuaskan Investor

17.06.2026
Mark Zuckerberg Belum Puas dengan ‘Bocah Ajaib AI’, Meta Superintelligence Labs Belum Memuaskan Investor
Alexandr Wang / Foto: Instagram

Ambisi Mark Zuckerberg untuk menjadikan Meta sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan (AI) tampaknya belum berjalan sesuai rencana.

Meski Mark Zuckerberg telah menggelontorkan dana fantastis hingga US$14 miliar atau sekitar Rp 248 triliun, hasil yang didapat Meta sejauh ini masih belum mampu memuaskan investor.

Dalam setahun terakhir, Mark Zuckerberg mengambil sejumlah langkah agresif untuk mempercepat dominasi Meta di sektor AI.

Salah satu keputusan terbesarnya adalah mengakuisisi startup AI dan merekrut sosok muda yang dikenal sebagai “bocah ajaib AI”, yakni Alexandr Wang.

Alexandr Wang / Foto: Instagram

Pendiri Scale AI yang baru berusia 29 tahun itu dipercaya memimpin Meta Superintelligence Labs, divisi baru yang menjadi ujung tombak ambisi AI Meta.

Namun, langkah besar Mark Zuckerberg tersebut belum menunjukkan hasil instan.

Mark Zuckerberg All-In di Perang AI

Bukan rahasia lagi bahwa Mark Zuckerberg melihat AI sebagai masa depan Meta. Ia sadar perusahaan harus bergerak cepat untuk mengejar rival besar seperti OpenAI, Google AI, dan Anthropic.

Karena itu, Meta mendorong pengembangan model AI proprietary, termasuk Muse Spark, model AI terbaru yang diluncurkan oleh Wang pada April lalu.

Muse Spark dirancang agar terintegrasi dengan seluruh ekosistem Meta seperti:

  • Facebook
  • Instagram
  • Ray-Ban Meta Smart Glasses

Secara teori, strategi ini sangat menjanjikan. Namun pasar belum melihat hasil nyata dari investasi besar tersebut.

Dalam 12 bulan terakhir, saham Meta tercatat turun sekitar 18 persen, membuat strategi AI Mark Zuckerberg mulai dipertanyakan.

Strategi Mark Zuckerberg Dinilai Kurang Tepat

Sejumlah analis menilai masalah utama bukan pada besarnya modal, melainkan strategi yang diambil Mark Zuckerberg sejak awal.

Meta masuk ke perlombaan AI melalui model Llama dengan pendekatan open-source. Langkah ini memungkinkan developer di seluruh dunia menggunakan dan memodifikasi model AI Meta secara gratis.

Di satu sisi, strategi tersebut mendorong inovasi lebih cepat. Namun di sisi lain, pendekatan ini membuat Meta kesulitan membangun monetisasi langsung.

Berbeda dengan pesaingnya yang mengunci model AI mereka di balik sistem berbayar, Meta justru membuka akses secara luas.

Situasi makin rumit setelah Llama 4 gagal memenuhi ekspektasi pasar tahun lalu. Kegagalan itu menjadi salah satu alasan Mark Zuckerberg akhirnya mengambil langkah ekstrem dengan merekrut Wang.

Apakah Mark Zuckerberg Gagal?

Analis Info-Tech Research Group, Thomas Randall, menilai Meta memang belum berada di jalur optimal, tetapi arah yang dibangun mulai terlihat.

Menurutnya, tanpa mendatangkan Wang, Meta bisa saja kehilangan arah sepenuhnya.

Artinya, investasi besar Mark Zuckerberg belum tentu sia-sia—hanya saja hasilnya belum terlihat sekarang.

Satu hal yang jelas, perang AI global membuktikan bahwa bahkan uang Rp 248 triliun dan talenta terbaik pun belum menjamin kemenangan instan.

Scr/Mashable




Don't Miss