Kasus yang sempat melibatkan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta dalam ajang Mandiri Jogja Marathon 2026 tidak hanya menjadi sorotan karena insiden di lapangan, tetapi juga membuka kembali perhatian publik terhadap pentingnya aturan teknis dalam event lari, termasuk penggunaan BIB (Body Identification Number) dan sistem pencatatan waktu otomatis.
Kontroversi bermula dari video viral di media sosial yang memperlihatkan Brigjen Yuniar terlibat adu argumen dengan petugas marshal di area finis.
Dalam video tersebut, perwira tinggi TNI AD bintang satu itu tampak bersikeras agar seorang pengawalnya diizinkan masuk ke area steril race menuju garis finis, meskipun orang tersebut tidak terdaftar sebagai peserta resmi.
Insiden itu terjadi ketika marshal mengamankan seorang pelari tanpa nomor dada atau bib yang mencoba masuk kembali ke area lomba.
Berdasarkan penelusuran, orang tersebut diketahui merupakan ajudan Danrem yang ikut mendampingi untuk merekam aktivitas lari.
Fungsi Timing Mat dalam Event Maraton
Dalam dunia lomba lari modern, terutama maraton berskala besar, terdapat satu perangkat penting yang sering terlihat di garis start, checkpoint, hingga finish, namun jarang dipahami fungsinya oleh penonton umum. Perangkat tersebut dikenal sebagai Timing Mat.
Timing Mat adalah alat pencatat waktu berbentuk karpet sensor yang digunakan dalam event lari untuk merekam waktu peserta secara otomatis dan sangat akurat. Alat ini menjadi bagian penting dalam sistem race timing modern karena mampu mencatat waktu hingga hitungan sepersekian detik.
Dalam ajang seperti Mandiri Jogja Marathon 2026, timing mat biasanya dipasang di beberapa titik penting seperti garis start, titik check point, dan garis finish. Tujuannya adalah memastikan setiap pelari terekam secara presisi selama mengikuti lomba.
Secara sederhana, timing mat bekerja dengan sistem Radio Frequency Identification (RFID), yaitu teknologi yang memungkinkan identifikasi otomatis tanpa campur tangan manual dari panitia.
Cara Kerja Timing Mat di Lomba Lari
Sistem timing mat terdiri dari dua komponen utama yang saling terhubung:
Pertama adalah timing mat itu sendiri, yaitu karpet khusus yang di dalamnya terdapat antena sensor RFID. Karpet ini biasanya dipasang melintang di lintasan lomba dengan lebar beberapa meter agar seluruh peserta pasti melewatinya.
Kedua adalah RFID chip atau tag, yaitu perangkat kecil yang dibawa oleh setiap peserta. Chip ini biasanya ditempelkan pada nomor dada (BIB), tali sepatu, atau gelang khusus lomba. Setiap chip memiliki identitas unik yang sudah terdaftar dalam sistem panitia.
Ketika pelari melewati timing mat, sensor di dalam karpet akan langsung membaca sinyal dari chip tersebut. Data kemudian dikirim ke sistem komputer secara real-time untuk mencatat waktu peserta.
Melalui sistem ini, panitia dapat merekam berbagai data penting seperti:
- identitas peserta,
- waktu start dan finish,
- waktu di setiap checkpoint,
- split time di setiap titik,
- serta total waktu lomba.
Dengan teknologi ini, hasil lomba marathon menjadi jauh lebih akurat dibandingkan metode pencatatan manual, sekaligus meminimalkan potensi kesalahan maupun kecurangan.
Jenis Timing Mat yang Digunakan di Event Olahraga
Dalam dunia olahraga, terdapat beberapa jenis timing mat yang umum digunakan. Yang paling sering dipakai di event maraton adalah RFID ground antenna mats, yang dirancang tahan cuaca dan mudah dipasang di jalan raya.
Selain itu, ada juga pressure pads yang biasanya digunakan untuk kebutuhan indoor atau latihan atletik tertentu. Namun untuk event besar seperti marathon jalan raya, sistem berbasis RFID tetap menjadi standar utama karena lebih stabil dan efisien.
Mengapa Timing Mat Sangat Penting?
Timing mat bukan sekadar alat pendukung, tetapi menjadi bagian inti dari sistem kompetisi lari modern. Tanpa teknologi ini, pencatatan waktu akan sulit dilakukan secara akurat, terutama pada event dengan ribuan peserta.
Beberapa fungsi pentingnya antara lain memastikan akurasi hasil lomba, menentukan peringkat secara adil, mencegah kecurangan, hingga membantu panitia melacak posisi pelari di sepanjang rute.
Kaitannya dengan aturan seperti penggunaan BIB, sistem ini menjadi sangat krusial. Jika peserta tidak menggunakan BIB atau chip resmi, maka sistem timing tidak dapat mendeteksi waktu mereka secara otomatis, sehingga hasil lomba tidak bisa tercatat dengan benar.
Scr/Mashable




















