Prichard Colon Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun, 11 Tahun Berjuang Melawan Cedera Otak

14.08.2026
Prichard Colon Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun, 11 Tahun Berjuang Melawan Cedera Otak
Prichard Colon Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun, 11 Tahun Berjuang Melawan Cedera Otak

Dunia tinju berduka setelah mantan petinju Puerto Riko Prichard Colon meninggal dunia pada usia 33 tahun, setelah lebih dari satu dekade hidup dengan dampak cedera otak serius. Cedera tersebut dialaminya seusai pertarungan kontroversial menghadapi Terrel Williams pada 2015.

Kabar meninggalnya Prichard Colon disampaikan langsung oleh sang ayah, Richard Colon, melalui Facebook pada Kamis, 13 Agustus 2026. Richard mengungkapkan kesedihannya sekaligus menyampaikan terima kasih kepada semua orang yang selama bertahun-tahun memberikan dukungan dan doa kepada putranya.

“Saya menyesal harus mengabarkan bahwa putra saya Prichard telah meninggalkan dunia ini. Sekarang dia berada di dunia yang lebih baik,” tulis Richard seperti dilansir The Independent, Jumat (14/08/2026) yang memberitakan wafatnya Colon.

Richard mengatakan dirinya telah berusaha mewujudkan keinginan sang anak untuk kembali berlibur ke Puerto Riko sesering mungkin, tetapi rencana tersebut tidak dapat terlaksana. Ia kemudian meminta masyarakat tetap mendoakan keluarga setelah perjalanan panjang mendampingi Prichard Colon.

Karier Prichard Colon Berubah dalam Satu Pertarungan

Sebelum mengalami tragedi tersebut, Prichard Colon dikenal sebagai salah satu prospek menjanjikan dalam dunia tinju Puerto Riko dengan rekor profesional sempurna. Ia membukukan 16 kemenangan tanpa kekalahan, termasuk 13 kemenangan melalui knockout, sebelum menghadapi Terrel Williams pada 2015.

Pertarungan melawan Williams kemudian menjadi titik yang mengubah seluruh kehidupan Prichard Colon, bukan hanya karier profesionalnya sebagai petinju. Dalam pertandingan tersebut, Colon beberapa kali terlihat menerima pukulan ke bagian belakang kepala yang dianggap ilegal dalam aturan tinju.

Prichard Colon sempat menyampaikan keluhan kepada wasit mengenai pukulan-pukulan tersebut, tetapi pertandingan tetap dilanjutkan dan situasi justru semakin rumit. Colon bahkan kemudian mendapatkan pengurangan dua poin akibat melakukan pukulan rendah kepada Williams dalam pertarungan tersebut.

Pada ronde kesembilan, Prichard Colon akhirnya terjatuh sebelum kebingungan terjadi antara tim sudutnya dengan perangkat pertandingan. Tim Colon melepaskan sarung tangannya karena mengira pertandingan telah selesai, tetapi tindakan itu kemudian menyebabkan sang petinju dinyatakan kalah melalui diskualifikasi.

Muntah dan Pingsan Setelah Pertandingan

Tragedi sebenarnya baru terlihat setelah Prichard Colon dibantu menuju ruang ganti seusai meninggalkan ring dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Di sana, Colon mengalami muntah sebelum akhirnya pingsan dan harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Petinju Puerto Riko tersebut kemudian dilarikan ke rumah sakit, tempat dokter menemukan subdural hematoma, yakni kondisi terjadinya perdarahan di antara otak dan lapisan pelindungnya. Kondisi itu membuat Prichard Colon harus menjalani operasi darurat untuk mengurangi pembengkakan pada otaknya.

Tim medis juga melakukan tindakan untuk mengeluarkan hematoma yang terbentuk akibat cedera tersebut, tetapi kondisi Colon tetap sangat serius setelah operasi. Ia kemudian jatuh dalam kondisi koma yang berlangsung selama 221 hari, menjadikan perjalanan pemulihannya sangat panjang.

Setelah akhirnya keluar dari koma, kehidupan Prichard Colon tidak pernah kembali seperti sebelum pertandingan menghadapi Terrel Williams. Ia tetap berada dalam kondisi vegetatif dan tidak mampu berjalan maupun berbicara secara normal tanpa menggunakan bantuan perangkat komputer.

Dirawat Keluarga Selama Lebih dari Satu Dekade

Sejak mengalami cedera otak pada 2015, Prichard Colon mendapatkan perawatan penuh dari keluarganya yang terus mendampinginya selama bertahun-tahun. Perjuangan keluarga Colon kemudian mendapat perhatian besar dari komunitas tinju dan masyarakat yang mengikuti perkembangan kondisinya.

Berbagai dokumentasi mengenai proses rehabilitasi Prichard Colon sempat memperlihatkan usaha keluarga membantu meningkatkan respons fisik maupun komunikasinya. Namun, dampak cedera yang dialaminya tetap sangat berat hingga akhirnya ia meninggal dunia pada usia 33 tahun.

Kisah Prichard Colon juga terus menjadi pengingat mengenai risiko serius yang dapat muncul ketika pukulan ilegal mengenai bagian belakang kepala dalam olahraga tinju. Peristiwa 2015 tersebut bahkan menjadi salah satu kasus cedera paling dikenal dalam olahraga tarung modern.

Terlepas dari tragedi yang mengakhiri kariernya, perjalanan Prichard Colon sebelum menjadi profesional sebenarnya menunjukkan potensi yang sangat besar. Ia sudah menonjol sejak masih berstatus petinju amatir dan berhasil memenangkan sejumlah gelar nasional di Puerto Riko.

Pernah Mengejar Tiket Olimpiade 2012

Prichard Colon pernah memenangkan gelar nasional pada kelas 141 pound dan 152 pound, sebuah pencapaian yang menegaskan reputasinya sebagai salah satu petinju muda berbakat. Ia kemudian berusaha mendapatkan kesempatan mewakili Puerto Riko pada Olimpiade London 2012.

Colon mengikuti ajang Pra-Olimpiade di Brasil untuk memperebutkan tiket menuju London, tetapi perjalanannya berhenti setelah kalah pada babak pertama. Tidak lama kemudian, ia memutuskan meninggalkan level amatir dan beralih menjadi petinju profesional pada 2012.

Debut profesional Prichard Colon berlangsung pada Februari 2013 dan kariernya berkembang dengan sangat cepat dalam waktu relatif singkat. Dalam sedikit lebih dari dua tahun, ia berhasil memenangkan 16 pertandingan berturut-turut, membangun reputasi sebagai calon bintang masa depan.

Dari 16 kemenangan tersebut, sebanyak 13 pertandingan diselesaikan melalui knockout, memperlihatkan kekuatan pukulan yang menjadi salah satu ciri permainannya. Satu-satunya kekalahan sepanjang karier profesional Prichard Colon adalah diskualifikasi melawan Terrel Williams dalam pertandingan terakhirnya pada 2015.

Dari Prospek Besar Menjadi Tragedi Tinju

Catatan karier tersebut membuat kisah Prichard Colon terasa semakin tragis karena pertandingan ke-17 yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan menuju level lebih tinggi justru menjadi laga terakhirnya. Setelah pertandingan itu, fokus hidupnya berubah sepenuhnya dari mengejar kemenangan menjadi menjalani rehabilitasi.

Selama 11 tahun berikutnya, nama Prichard Colon bukan lagi dikenal melalui kemenangan dan knockout, tetapi melalui perjuangannya menghadapi konsekuensi cedera otak. Keluarga menjadi pusat kehidupannya, terus merawat dan mendampingi petinju tersebut hingga hari-hari terakhir.

Wafatnya Prichard Colon sekaligus menutup perjalanan panjang yang sejak 2015 memunculkan kembali pembicaraan mengenai keselamatan petinju dan perlindungan terhadap pukulan ilegal. Kasusnya memperlihatkan bagaimana satu rangkaian pukulan dapat menghasilkan konsekuensi yang jauh melampaui hasil pertandingan.

Prichard Colon meninggalkan catatan 16 kemenangan, 13 knockout, dan hanya satu kekalahan melalui diskualifikasi dalam karier profesional yang sangat singkat. Namun, kisahnya pada akhirnya akan lebih dikenang sebagai pengingat mengenai harga yang dapat dibayar seorang petinju ketika keselamatan di dalam ring gagal terlindungi.

Scr/Mashable





Don't Miss