Kekuatan Serie A 2026/2027 menarik untuk ditelaah dari aktivitas klub-klub Italia di bursa transfer musim panas.
Menjelang deadline pada 1 September 2026, AC Milan, Juventus, Inter Milan, Napoli, Fiorentina, AS Roma, Atalanta, Bologna, Torino, Cagliari, Parma hingga klub-klub lainnya masih aktif melakukan perubahan skuad.
Bagi saya, fenomena ini lebih menarik jika tidak dilihat hanya dari jumlah pemain yang datang dan pergi. Bursa transfer justru memberikan gambaran tentang bagaimana sepak bola Italia sedang berusaha menjawab persoalan lama: bagaimana Serie A bisa kembali menjadi kekuatan utama Eropa ketika klub-klubnya tidak memiliki kekuatan finansial sebesar Premier League?
Jawabannya mulai terlihat dari pola transfer musim panas 2026.
Serie A mungkin belum mampu memenangkan perang finansial. Tetapi klub-klub Italia tampaknya semakin pintar mengelola pemain, memanfaatkan skema pinjaman, mengembangkan talenta muda, serta mempertahankan nilai aset melalui klausul pembelian kembali.
Dan menurut saya, itu merupakan perkembangan yang jauh lebih penting daripada sekadar mendatangkan pemain mahal.
Bursa Transfer Menjadi Cermin Kekuatan Serie A
Menjelang penutupan bursa, sejumlah transaksi besar memberikan gambaran mengenai kondisi Serie A.
Wilfried Gnonto kembali ke Italia untuk memperkuat Fiorentina setelah dipinjam dari Leeds United. Fiorentina juga mendatangkan Beto dari Everton dengan nilai sekitar €18 juta.
Di sisi lain, Moise Kean meninggalkan Fiorentina menuju Como dengan skema pinjaman €5 juta, kewajiban pembelian €30 juta, serta bonus €5 juta.
Di Juventus, Samuel Mbangula menuju Bologna melalui pinjaman €2 juta dengan opsi pembelian €12,5 juta.
Sementara AC Milan harus menghadapi kepergian Santiago Gimenez menuju Porto dan Youssouf Fofana yang bersiap bergabung dengan Lyon.
Jika hanya melihat nama pemain yang keluar, situasinya mungkin terlihat seperti Serie A kembali kehilangan aset penting.
Tetapi jika melihat struktur transaksinya, ceritanya menjadi lebih kompleks.
AC Milan: Kehilangan Leao, Gimenez, tetapi Tetap Bergerak
AC Milan menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai dilema klub Italia.
Rafael Leao, salah satu pemain paling penting di lini serang Rossoneri, resmi meninggalkan Milan menuju Galatasaray dengan nilai transfer tetap €40 juta dan bonus yang dapat mencapai €3 juta.
Tidak lama kemudian, Santiago Gimenez juga berada di ambang kepindahan ke Porto.
Dua nama penting meninggalkan lini serang Milan.
Namun Rossoneri tidak berhenti.
Milan mendatangkan Omari Hutchinson dari Nottingham Forest untuk menambah kreativitas di sektor serang. Hutchinson diharapkan mampu mengambil sebagian peran yang sebelumnya menjadi tanggung jawab pemain-pemain yang telah pergi.
Youssouf Fofana juga menuju Lyon dengan status pinjaman plus opsi pembelian.
Menurut saya, persoalan Milan bukan hanya bagaimana mengganti Leao atau Gimenez. Tantangan sebenarnya adalah apakah Milan mampu membangun tim yang secara kolektif lebih baik setelah kehilangan beberapa pemain penting.
Jika berhasil, transfer keluar justru bisa menjadi awal perubahan.
Fiorentina Menunjukkan Strategi yang Lebih Agresif
Fiorentina merupakan klub yang menurut saya layak mendapatkan perhatian khusus.
Kedatangan Gnonto dan Beto memperlihatkan keinginan klub untuk meningkatkan kualitas lini depan. Namun pada saat yang sama, Kean dilepas ke Como dengan struktur transfer yang cukup besar.
Fiorentina juga mengejar Joshua Zirkzee dari Manchester United melalui skema pinjaman sekitar €5 juta dengan opsi pembelian.
Selain itu, Alieu Njie didatangkan dari Torino dengan nilai sekitar €17-18 juta.
Ada satu hal menarik dari strategi tersebut: Fiorentina tidak menggantungkan diri pada satu model transfer.
Mereka menggunakan pemain pinjaman, transfer permanen, opsi pembelian, hingga transaksi yang berpotensi menghasilkan keuntungan pada masa depan.
Inilah model yang mungkin harus semakin banyak digunakan klub Serie A.
Juventus Berusaha Menyeimbangkan Masa Kini dan Masa Depan
Juventus memiliki persoalan berbeda.
Bianconeri tetap harus bersaing di level tertinggi, tetapi mereka juga membutuhkan regenerasi.
Fabio Miretti meninggalkan Turin menuju Besiktas, sementara Samuel Mbangula menuju Bologna.
Pada saat bersamaan, Juventus mengembangkan proyek pemain muda melalui Next Gen dengan mendatangkan talenta seperti Ali Camara dan Mateja Lacmanovic.
Namun Juventus juga mengejar pemain yang lebih siap digunakan sekarang.
Pape Matar Sarr menjadi salah satu target penting, sementara Pierre-Emile Hojbjerg masuk sebagai alternatif berpengalaman.
Juventus bahkan mencoba meminjam Joshua Zirkzee dari Manchester United dengan biaya sekitar €2,5 juta dan opsi pembelian €30 juta.
Bagi saya, inilah tantangan Juventus: membangun skuad yang bisa menang sekarang tanpa mengorbankan masa depan.
Inter Milan Mempraktikkan Bisnis Transfer yang Cerdas
Inter Milan justru memberikan contoh bagaimana klub bisa mempertahankan kendali terhadap pemain yang belum mendapatkan tempat utama.
Kristjan Asllani dipinjamkan ke Al-Jazira.
Yanis Massolin juga menuju Cagliari dengan skema pinjaman disertai opsi pembelian sekitar €7 juta.
Tetapi Inter memiliki hak pembelian kembali senilai €8,5 juta.
Klausul seperti ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting.
Inter memberikan kesempatan pemain mendapatkan menit bermain, sementara klub tetap memiliki kendali terhadap aset tersebut.
Jika Massolin berkembang, Inter bisa membawanya kembali. Jika tidak, pemain tersebut tetap berpotensi menghasilkan keuntungan finansial.
Ini adalah contoh bagaimana klub Italia harus berpikir pada era sepak bola modern.
Atalanta Membuktikan Bahwa Tidak Harus Kaya untuk Kompetitif
Kalau saya harus menunjuk satu klub yang paling menggambarkan karakter Serie A, Atalanta mungkin menjadi kandidat terkuat.
Kembalinya Franck Kessié setelah menolak Juventus memberikan tambahan pengalaman sekaligus kualitas di lini tengah.
Atalanta juga terus menjalankan model pengembangan pemain yang telah menjadi ciri khas mereka.
Honest Ahanor bahkan telah dijual kepada Chelsea dengan nilai €40 juta untuk musim 2027/2028, tetapi sang pemain akan dipinjamkan terlebih dahulu ke Crystal Palace.
Bagi saya, pola ini sangat penting.
Atalanta tidak harus membeli pemain dengan harga fantastis untuk menghasilkan nilai.
Mereka harus menemukan pemain yang tepat, mengembangkannya, kemudian menjual pada waktu yang tepat.
Jika semakin banyak klub Serie A menerapkan pendekatan seperti ini, kekuatan liga secara keseluruhan akan meningkat.
Napoli Masih Menjaga Ambisi
Napoli juga memperlihatkan bahwa klub Italia masih mampu bergerak agresif.
Jens Cajuste meninggalkan klub menuju Malaga melalui pinjaman dengan opsi pembelian €8 juta.
Napoli juga mengejar Lindstrom dari Salzburg dan mencapai kesepakatan untuk striker muda Dinis dari Sion.
Menariknya, Dinis direncanakan langsung dipinjamkan ke Eldense.
Ini menunjukkan bahwa investasi pemain muda tidak selalu berarti pemain tersebut langsung dimasukkan ke tim utama.
Kadang langkah paling tepat adalah memberikan pengalaman terlebih dahulu sebelum membawanya kembali ke skuad utama.
Roma Belajar dari Kegagalan Mendapatkan Leweling
AS Roma juga melakukan sejumlah perubahan.
Leonardo Balerdi datang dari Marseille, sementara Andrija Vukoje didatangkan dari Inter.
Namun Roma gagal mendapatkan Jamie Leweling setelah pemain tersebut memilih bertahan di Stuttgart.
Kegagalan itu memaksa Roma kembali melihat opsi lain, termasuk Luiz Henrique.
Menurut saya, situasi tersebut menunjukkan betapa kompetitifnya pasar pemain saat ini.
Klub Serie A tidak bisa lagi berasumsi bahwa pemain akan memilih Italia hanya karena sejarah atau nama besar klub.
Mereka harus memiliki proyek olahraga yang meyakinkan.
Klub Papan Tengah Justru Bisa Menjadi Penentu
Kekuatan sebuah liga tidak hanya ditentukan oleh klub yang bertarung memperebutkan Scudetto.
Klub papan tengah juga sangat penting.
Bologna mendapatkan Mbangula dari Juventus.
Torino mendatangkan Rafik Belghali dari Hellas Verona dan masih bernegosiasi untuk Rolando Mandragora.
Cagliari memperkuat tim dengan Roberto Gagliardini serta mendapatkan Massolin dari Inter.
Parma mendatangkan Diego Carlos untuk memperkuat lini belakang.
Monza merekrut Jan Ziolkowski dari Roma dan Exequiel Zeballos dari Boca Juniors.
Venezia bahkan berinvestasi pada pemain muda Barcelona, Toni Fernandez, yang didatangkan dengan nilai €4 juta, sekaligus mengamankan Juan Jesus secara gratis.
Jika klub-klub seperti ini semakin kompetitif, Serie A akan menjadi lebih sulit diprediksi.
Dan menurut saya, itu justru bagus untuk liga.
Mengapa Transfer Pemain Muda Sangat Penting?
Ada satu pola yang semakin jelas dari bursa transfer Serie A 2026/2027: pemain muda menjadi investasi utama.
Ali Camara, Mateja Lacmanovic, Toni Fernandez, Exequiel Zeballos, Jan Ziolkowski hingga Dinis menunjukkan bahwa klub Italia mulai melihat pemain muda sebagai aset ekonomi sekaligus olahraga.
Ini penting karena Serie A tidak bisa terus menerus membeli pemain bintang dengan harga tinggi.
Mereka membutuhkan sistem yang mampu menghasilkan pemain berkualitas.
Jika seorang pemain muda dibeli €4 juta, berkembang selama dua atau tiga musim, kemudian dijual berkali-kali lipat, klub mendapatkan dua keuntungan sekaligus: performa di lapangan dan keuntungan finansial.
Inilah model yang dapat membuat klub Italia lebih sehat dalam jangka panjang.
Masalah Serie A Tetap Belum Selesai
Namun saya tidak ingin terlalu optimistis.
Serie A masih memiliki pekerjaan rumah besar.
Premier League tetap unggul dalam kekuatan finansial dan daya tarik global. Klub Inggris memiliki kemampuan untuk membayar transfer serta gaji yang sulit disaingi mayoritas klub Italia.
Kenyataan bahwa pemain-pemain penting Serie A masih bisa pergi ke klub luar Italia juga menjadi bukti.
Rafael Leao pergi ke Galatasaray.
Santiago Gimenez menuju Porto.
Pemain lain juga terus menjadi sasaran klub dari Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, bahkan Turki.
Jadi, ramainya aktivitas transfer tidak otomatis berarti Serie A telah kembali menjadi liga nomor satu Eropa.
Tetapi Serie A Punya Modal yang Tidak Hilang
Di sisi lain, saya melihat ada sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dengan uang.
Serie A masih mempunyai tradisi taktik, akademi, sejarah klub, basis suporter, serta kompetisi yang secara teknis sangat kuat.
Yang dibutuhkan sekarang adalah mengubah modal tersebut menjadi sistem yang berkelanjutan.
Atalanta telah menunjukkan caranya.
Inter menunjukkan bagaimana mengelola aset.
Juventus mencoba menggabungkan Next Gen dengan kebutuhan tim utama.
Fiorentina dan klub lainnya semakin kreatif menggunakan skema pinjaman serta opsi pembelian.
Milan mencoba membangun kembali skuad setelah kehilangan beberapa pemain penting.
Napoli terus mencari talenta yang dapat dikembangkan.
Semua itu merupakan bagian dari proses yang lebih besar.
Jika pendekatan tersebut berhasil, musim Serie A 2026/2027 bukan hanya menarik karena perebutan Scudetto.
Musim ini juga bisa menjadi ujian apakah sepak bola Italia benar-benar mampu membangun kembali kekuatannya.
Karena pada akhirnya, kebangkitan Serie A tidak akan ditentukan oleh satu transfer besar.
Kebangkitan itu akan ditentukan oleh seberapa banyak klub Italia mampu membangun skuad yang kompetitif, sehat secara finansial, dan mampu menghasilkan pemain bernilai tinggi untuk masa depan.
Scr/Mashable















