Aktivitas transfer keluar AC Milan pada musim panas ini layak dipertanyakan. Bukan karena Rossoneri tidak melepas pemain, justru karena mereka cukup aktif melakukan penjualan dan peminjaman.
Masalahnya, dari sekitar belasan transfer keluar, AC Milan disebut hanya mendapatkan €42,5 juta.
Angka tersebut terasa kecil jika melihat nama-nama pemain yang meninggalkan San Siro. Bahkan, sebagian besar uang itu datang dari satu pemain, Rafael Leao, yang dilepas ke Galatasaray.
Leao Jadi Sumber Uang Terbesar
Rafael Leao menjadi transfer keluar paling bernilai bagi AC Milan pada musim panas ini. Namun, menurut laporan Calciomercato, Milan hanya mendapatkan €38 juta dari Galatasaray, belum termasuk bonus yang belum dibayarkan.
Bagi saya, angka ini justru menjadi bagian paling menarik untuk dibahas.
AC Milan sebelumnya disebut memasang harga €60 juta untuk Leao. Jorge Mendes bahkan dilibatkan untuk membantu mencari solusi transfer tersebut. Pada akhirnya, Milan harus menerima €38 juta.
Artinya, ada selisih sekitar €22 juta dari harga yang diharapkan klub.
Jika bonus tidak dihitung, hampir 90 persen dari total €42,5 juta pemasukan transfer Milan berasal dari penjualan Leao. Ini menunjukkan betapa kecilnya pemasukan dari pemain-pemain lain.
Nkunku Hanya Menghasilkan €3 Juta
Transfer kedua dalam daftar pemasukan Milan adalah Christopher Nkunku.
Namun, lagi-lagi bukan penjualan permanen. Nkunku bergabung dengan Leipzig melalui skema pinjaman dengan biaya sekitar €3 juta.
Leipzig memang memiliki opsi pembelian di akhir musim, tetapi opsi tersebut tidak bersifat wajib.
Jadi, Milan belum bisa menganggap angka transfer permanen sebagai pemasukan saat ini.
Ricci Hanya €1,5 Juta
Berikutnya ada Samuele Ricci yang dipinjamkan ke Como dengan biaya €1,5 juta.
Kesepakatannya juga memiliki bonus jika Como lolos ke kompetisi Eropa serta opsi pembelian senilai €22 juta.
Menurut saya, struktur seperti ini memang bisa menjadi strategi untuk mendapatkan nilai lebih besar di masa depan. Tetapi untuk kondisi Milan saat ini, yang perlu dilihat adalah uang yang benar-benar masuk ke rekening klub pada musim panas ini.
Dan dari Ricci, jumlahnya baru €1,5 juta.
Fofana, Gimenez, dan Zeroli Tak Menghasilkan Uang
Yang lebih mengejutkan adalah sejumlah pemain lain justru dilepas tanpa pemasukan langsung.
Youssouf Fofana dipinjamkan ke Lyon tanpa biaya. Begitu juga Santiago Gimenez yang dipinjamkan ke Porto dengan opsi pembelian serta Kevin Zeroli yang dipinjamkan ke Sudtirol.

Milan juga melepas Odogu ke Toulouse, Kostic ke Sparta Rotterdam, dan Athekame ke Lyon secara gratis.
Dengan banyaknya pemain yang keluar, seharusnya ada ruang untuk menghasilkan pemasukan yang lebih besar. Namun, struktur transfer yang dipilih Milan membuat uang tunai yang masuk justru sangat terbatas.
Totalnya Cuma €42,5 Juta
Jika angka-angka tersebut dijumlahkan, pemasukan Milan dari transfer keluar hanya mencapai €42,5 juta, belum memperhitungkan bonus yang belum dibayarkan.
Rinciannya:
- Rafael Leao – Galatasaray: €38 juta
- Christopher Nkunku – Leipzig: €3 juta
- Samuele Ricci – Como: €1,5 juta
- Fofana – Lyon: €0
- Gimenez – Porto: €0
- Kevin Zeroli – Sudtirol: €0
- Odogu – Toulouse: gratis
- Kostic – Sparta Rotterdam: gratis
- Athekame – Lyon: gratis
Milan juga mengakhiri kontrak Bennacer, sehingga tidak ada pemasukan transfer dari keputusan tersebut.
Ini yang Membuat Saya Bertanya-tanya
Bagi saya, persoalannya bukan sekadar apakah €42,5 juta merupakan angka besar atau kecil. Yang lebih penting adalah seberapa efektif Milan mengelola aset pemainnya.
Klub melakukan sekitar belasan transaksi keluar, tetapi hanya menghasilkan €42,5 juta secara langsung. Bahkan pemasukan terbesar berasal dari Leao, sementara beberapa pemain lainnya pergi melalui pinjaman atau secara gratis.
Tentu, opsi pembelian seperti pada Ricci dan Gimenez masih bisa memberikan pemasukan besar di masa depan. Tetapi itu belum menjadi uang yang bisa digunakan Milan sekarang.
Di sinilah pekerjaan manajemen Milan patut mendapat sorotan.
Jika klub ingin membangun proyek baru bersama Ruben Amorim, kemampuan menjual pemain dengan harga yang tepat sama pentingnya dengan mendatangkan pemain baru.
Menurut saya, Milan tidak boleh hanya sibuk membeli pemain dan berharap nilai mereka meningkat. Mereka juga harus mampu memaksimalkan nilai jual pemain yang sudah tidak masuk proyek klub.
Kasus Leao menjadi contoh paling jelas. Milan menginginkan €60 juta, tetapi akhirnya menerima €38 juta. Sementara itu, pemain lain justru dilepas melalui skema yang belum menghasilkan uang atau bahkan tanpa biaya.
Pada akhirnya, €42,5 juta dari sekitar belasan pemain yang keluar bukanlah angka yang mengesankan untuk klub sebesar AC Milan.
Dan menurut saya, inilah alasan mengapa muncul pertanyaan mengenai perlu tidaknya Milan menambah sosok sporting director yang benar-benar mampu mengelola pasar transfer, terutama dalam hal menjual pemain dan memaksimalkan nilai aset klub.
Transfer masuk memang penting. Tetapi jika Milan ingin kembali menjadi klub yang kompetitif secara finansial dan olahraga, transfer keluar juga harus menjadi sumber kekuatan, bukan sekadar cara mengosongkan skuad.
Scr/Mashable















