Sisi Gelap Platform Live Streaming Aplikasi Tevi Disorot Kepolisian, Benarkah Jadi Ajang Live Seks?

15.09.2026
6 mins read
Sisi Gelap Platform Live Streaming Aplikasi Tevi Disorot Kepolisian, Benarkah Jadi Ajang Live Seks?
Sisi Gelap Platform Live Streaming Aplikasi Tevi Disorot Kepolisian, Benarkah Jadi Ajang Live Seks?

Aplikasi Tevi mendadak berada di bawah sorotan setelah Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pada (08/09/2026) mengungkap dua perkara siaran langsung bermuatan pornografi yang melibatkan enam tersangka. Polisi menemukan pola pemindahan penonton dari TikTok menuju Tevi untuk mengakses tayangan lanjutan.

Kasus tersebut bukan sekadar cerita mengenai konten seksual di ruang digital, melainkan menunjukkan bagaimana sistem live streaming, hadiah virtual, dan akses berbayar dapat disalahgunakan menjadi model bisnis. Perhatian kini ikut tertuju pada kemampuan platform mendeteksi pelanggaran ketika siaran berlangsung secara real time.

Bareskrim menyebut pengungkapan perkara berkaitan dengan aktivitas selama Juni 2026, dengan enam tersangka ditangkap dalam dua kasus berbeda di sejumlah wilayah. Modus keduanya memiliki kemiripan karena media sosial terbuka digunakan terlebih dahulu untuk menarik audiens sebelum penonton dipindahkan.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol. Adex Yudiswan menjelaskan bahwa tersangka menggunakan fitur live untuk membangun jumlah penonton dan interaksi. Setelah itu, penonton yang tertarik ditawarkan tayangan lanjutan dengan konten lebih vulgar melalui aplikasi Tevi.

Temuan tersebut membuat pertanyaan mengenai aplikasi Tevi berkembang jauh melampaui satu kasus pidana karena platform ini memang menyediakan beragam instrumen monetisasi untuk kreator. Namun, penyalahgunaan fitur oleh pengguna tidak dapat otomatis disamakan dengan kebijakan resmi perusahaan yang mengoperasikan platform tersebut.

Perbedaan itulah yang penting karena Tevi secara resmi memperkenalkan dirinya sebagai platform monetisasi komunitas untuk kreator, bukan layanan pornografi. Persoalan utama kasus Bareskrim justru berada pada dugaan penyalahgunaan infrastruktur monetisasi dan kemungkinan adanya celah dalam pengawasan konten langsung.

Perkara pertama melibatkan tiga tersangka berinisial RA berusia 20 tahun, RY berusia 26 tahun, serta MK berusia 21 tahun yang diamankan di kawasan Bandung hingga Cianjur. Polisi menyebut masing-masing memiliki peran berbeda dalam mengatur dan menjalankan siaran tersebut.

RA disebut berperan sebagai talent, sedangkan RY bertindak sebagai host yang mengelola interaksi penonton melalui fitur Pertarungan Koin atau PK. Dalam permainan tersebut, talent sengaja dibuat kalah sebelum melakukan aksi tertentu yang memancing perhatian audiens dan meningkatkan interaksi.

Menurut keterangan kepolisian, RY kemudian mengajak penonton beralih menuju aplikasi Tevi dengan menawarkan tayangan lanjutan yang lebih vulgar. Untuk memperoleh akses, penonton diminta mempunyai deposit kemudian menggunakan Star atau Bintang dengan nilai transaksi yang disebut sekitar Rp5.000.

Selain melalui Star, tersangka disebut menerima transfer langsung menuju akun DANA dengan nominal sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000 per transaksi. Dari rangkaian aktivitas itu, kelompok pertama menargetkan pemasukan sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 dari penonton yang mengikuti sesi.

Pola kedua menunjukkan mekanisme serupa meski dilakukan oleh tiga tersangka berbeda, yakni PA berusia 31 tahun, DI berusia 36 tahun, dan SS berusia 25 tahun. Penindakan dilakukan di wilayah Lampung, Yogyakarta, dan Jawa Barat setelah polisi menemukan aktivitas live bermuatan asusila.

Dalam perkara tersebut, penonton diarahkan mengirim donasi, sawer, atau gift sampai mencapai target sekitar Rp250.000 hingga Rp400.000. Setelah target terpenuhi, polisi menyebut talent berpindah menuju aplikasi Tevi untuk melanjutkan siaran dengan materi yang lebih eksplisit.

Jika dilihat secara bisnis digital, skema itu menyerupai funnel pemasaran dengan TikTok dipakai sebagai pintu masuk untuk memperoleh trafik dalam jumlah besar. Audiens yang menunjukkan ketertarikan kemudian diarahkan menuju ruang lain yang memungkinkan transaksi dan hubungan kreator-penonton berlangsung lebih langsung.

Yang membedakan kasus ini adalah produk yang ditawarkan diduga berupa konten melanggar hukum sehingga pola pemasaran digital berubah menjadi bagian dari perkara pidana. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk memonetisasi kreativitas justru digunakan untuk mengubah rasa penasaran penonton menjadi transaksi.

Mengapa Aplikasi Tevi Menarik bagi Kreator?

Secara resmi, aplikasi Tevi menggambarkan layanannya sebagai platform monetisasi yang memungkinkan kreator memperoleh pendapatan langsung dari penggemar melalui beberapa mekanisme. Fitur tersebut meliputi membership, paid posts, live berbayar, donasi, komentar berbayar, serta berbagai bentuk interaksi dengan komunitas.

Model seperti ini berbeda dengan media sosial konvensional yang sebagian besar menggantungkan jangkauan pengguna pada algoritma dan pendapatan iklan. Tevi menawarkan hubungan lebih langsung karena penggemar dapat membayar kreator untuk memperoleh akses terhadap konten atau pengalaman tertentu.

Mata uang virtual bernama Star menjadi bagian penting dalam ekosistem aplikasi Tevi karena digunakan untuk berbagai transaksi antara penonton dan kreator. Star dapat dipakai membuka konten berbayar, masuk live eksklusif, membeli membership, memberikan tip, atau melakukan interaksi berbayar.

Versi dukungan Tevi untuk pengguna Indonesia mencantumkan nilai satu Star setara sekitar Rp160 dan mata uang tersebut dapat dikonversikan menjadi penghasilan kreator. Sistem itu membuat transaksi relatif sederhana karena audiens tidak harus melakukan pembayaran terpisah untuk setiap interaksi.

Panduan monetisasi Tevi juga menjelaskan kreator dapat memperoleh sekitar 85 persen pendapatan dari membership, paid posts, dan beberapa jenis transaksi, setelah biaya platform diperhitungkan. Artinya, semakin tinggi keterlibatan penggemar, semakin besar pula potensi pemasukan yang diperoleh seorang kreator.

Dari perspektif creator economy, mekanisme tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang bermasalah apabila digunakan untuk menjual karya, seminar, musik, konsultasi, hiburan, atau konten eksklusif yang sah. Tantangan muncul ketika insentif finansial bertemu dengan konten sensasional yang melanggar hukum atau aturan platform.

Kondisi tersebut menciptakan apa yang dapat disebut sebagai ekonomi perhatian ekstrem, ketika kreator terdorong meningkatkan intensitas materi karena audiens bersedia membayar lebih. Tanpa moderasi efektif, sistem hadiah dan paywall dapat memberikan insentif bagi sebagian pengguna untuk terus mendorong batas konten.

Aplikasi Tevi Larang Nuditas, Mengapa Konten Bisa Lolos?

Hal lain yang membuat kasus ini menarik adalah perbedaan antara dugaan praktik tersangka dengan ketentuan yang dipublikasikan Tevi sendiri. Pedoman video aplikasi Tevi menyatakan nuditas tidak diperbolehkan, bahkan untuk konten eksklusif yang hanya dapat diakses oleh pengguna berbayar.

Artinya, klaim bahwa Tevi secara resmi mengizinkan pornografi tidak sesuai dengan pedoman publik yang ditemukan dalam penelusuran. Yang menjadi persoalan justru apakah sistem moderasi platform mampu menerapkan larangan tersebut secara efektif ketika pelanggaran terjadi dalam sesi live.

Moderasi live streaming memiliki tantangan lebih besar dibanding pemeriksaan foto atau video rekaman karena kejadian berlangsung secara langsung dan dapat berubah dalam hitungan detik. Sistem otomatis harus mendeteksi pelanggaran dengan cepat sebelum konten bermasalah sempat disaksikan atau diperjualbelikan kepada banyak pengguna.

Tevi sendiri telah mengembangkan sejumlah fitur moderasi, termasuk deteksi gambar NSFW untuk avatar dan cover serta pembatasan terhadap materi sensitif. Catatan pembaruan platform juga menunjukkan adanya kontrol ruang live seperti kick, block, mute, pembatasan usia, serta sejumlah pengaturan privasi.

Namun, keberadaan teknologi moderasi tidak berarti semua pelanggaran otomatis dapat dihentikan karena pengguna selalu berpotensi mencoba menghindari sistem. Kasus Bareskrim menjadi penting karena polisi menyebut tersangka justru merasa lebih leluasa melakukan tayangan lanjutan setelah berpindah menuju aplikasi Tevi.

Keterangan penyidik tersebut tentu perlu dibedakan dari pernyataan resmi platform karena menggambarkan cara pelaku memanfaatkan layanan berdasarkan temuan kasus. Akan tetapi, informasi itu tetap menimbulkan pertanyaan mengenai kecepatan sistem Tevi mengenali dan menghentikan live yang melanggar kebijakan.

Semakin privat sebuah ruang digital, semakin besar pula kesulitan pengawasan karena konten tidak selalu berada di halaman publik yang mudah dilaporkan pengguna lain. Paywall, membership, ruang terbatas, dan live berbayar dapat menciptakan lapisan tambahan yang membuat pelanggaran lebih sulit terlihat.

Fenomena Tevi Sudah Menjadi Objek Penelitian Akademik

Kasus 2026 juga menjadi menarik karena praktik monetisasi konten seksual di aplikasi Tevi ternyata pernah menjadi objek penelitian akademik sebelumnya. Sebuah tesis Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada pada 2024 secara khusus meneliti komodifikasi seksual sejumlah streamer yang menggunakan platform tersebut.

Penelitian Dhinar Arga Dumadi menggunakan metode etnografi virtual untuk melihat praktik monetisasi seksual pada kelompok streamer laki-laki homoseksual yang menjadi objek penelitian. Karena cakupannya spesifik, hasil tersebut tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pengguna Tevi ataupun komunitas tertentu secara keseluruhan.

Studi itu menemukan bahwa streamer dalam sampel penelitian memperoleh uang melalui hadiah virtual dan aktivitas berbayar, dengan pendapatan yang dilaporkan bervariasi dari ratusan ribu hingga belasan juta rupiah. Pencairan pendapatan ketika penelitian berlangsung disebut membutuhkan sekitar dua sampai lima hari kerja.

Nilai penting penelitian tersebut bukan pada identitas seksual subjeknya, melainkan pada struktur ekonomi digital yang ditemukan di dalam aktivitas mereka. Tubuh, interaksi, bahasa sensasional, dan perhatian penonton dapat berubah menjadi komoditas ketika platform menyediakan jalur monetisasi secara langsung.

Kemunculan penelitian pada 2024 kemudian disusul penindakan Bareskrim pada 2026 membuat persoalan aplikasi Tevi lebih relevan untuk dilihat sebagai masalah tata kelola platform. Kasusnya menunjukkan bahwa penyalahgunaan sistem monetisasi bukan sekadar kemungkinan teoretis, tetapi telah menjadi perhatian penegak hukum.

Akan tetapi, hal tersebut tetap tidak membuktikan bahwa seluruh ekosistem aplikasi Tevi berpusat pada materi seksual karena platform juga digunakan untuk berbagai jenis kreator. Kesimpulan yang lebih tepat adalah terdapat risiko penyalahgunaan yang membutuhkan pengawasan lebih efektif dari operator dan regulator.

Sisi Gelap Ekonomi Live Streaming

Kasus ini pada akhirnya menggambarkan transformasi ekonomi konten internet karena pendapatan kreator tidak lagi harus berasal dari iklan atau sponsor dalam jumlah besar. Ratusan orang yang membayar nominal kecil dapat menghasilkan pemasukan signifikan apabila transaksi dilakukan berulang dalam satu sesi.

Model tersebut sebenarnya memberikan peluang besar bagi kreator independen, tetapi pada saat bersamaan menciptakan insentif untuk menghadirkan sesuatu yang dianggap eksklusif. Semakin kuat rasa penasaran penonton, semakin besar peluang mereka membayar untuk melewati batas konten gratis.

Pada titik inilah perpindahan TikTok menuju aplikasi Tevi menjadi elemen paling menarik dari perkara Bareskrim karena dua platform memiliki fungsi berbeda dalam skema tersebut. TikTok diduga dipakai membangun trafik, sementara ruang berikutnya dimanfaatkan untuk monetisasi audiens yang telah terseleksi.

Fenomena seperti ini juga memperlihatkan keterbatasan pengawasan berbasis satu platform karena aktivitas ilegal dapat bergerak melewati beberapa layanan digital secara berurutan. Penindakan terhadap satu akun belum tentu memutus jaringan apabila kreator masih dapat mengarahkan penontonnya menuju aplikasi lain.

Karena itu, tanggung jawab pencegahan tidak cukup hanya dibebankan kepada kepolisian setelah pelanggaran terjadi karena platform memiliki kemampuan mendeteksi perilaku pengguna jauh lebih awal. Sistem laporan cepat, verifikasi usia, deteksi visual, analisis transaksi, serta penghentian live merupakan beberapa lapisan penting.

Pengguna juga memiliki peran karena donasi dan pembayaran pada akhirnya menjadi bahan bakar dari ekonomi konten bermasalah tersebut. Tanpa konsumen yang bersedia mengeluarkan uang, insentif finansial untuk memproduksi dan menyiarkan konten ilegal secara berulang akan menjadi jauh lebih kecil.

Scr/Mashable