Realita paling enggak enak dari tumbuh dewasa adalah fakta bahwa selagi lo sibuk ngejar ambisi, karier dan juga validasi di luar sana, waktu di rumah juga terus berjalan. Orang tua lo, khususnya ibu, perlahan makin menua nungguin lo pulang. Vibes melankolis dan rasa bersalah komunal ini yang sukses ditangkep sama solois pop asal Yogyakarta, Erlangga, lewat single terbarunya yang bertajuk “Mata Ibu”.
Menyusul kesuksesan single patah hati “Layu” di awal tahun, Erlangga kini mukul telinga pendengarnya dengan narasi kasih sayang tak bersyarat yang sering kali take it for granted alias disepelekin sama anak-anaknya sendiri.
Ditulis oleh Budi Purwantoro dan In Nugroho, lirik “Mata Ibu” enggak berusaha puitis dengan bahasa langit. Semuanya dibikin lugas yang seolah jadi cerminan isi kepala anak rantau yang akhirnya sadar kalo rumah itu bukan cuma soal bangunan, tapi soal siapa yang nungguin lo di depan pintu.
Penggalan lirik “Cinta yang kau beri, mati tak ku hidupi. Namun kau tak pergi, menungguku kembali” bener-bener jadi highlight yang ngerangkum keseluruhan lagu. Ini bisa jadi tamparan buat lo yang sering abai ngebales pesan nyokap cuma gara-gara alasan “lagi sibuk kerja”, tapi beliau tetap nerima lo balik dalam kondisi paling hancur sekalipun.
Erlangga dan Irfan Abhiseka ngebangun aransemen lagu ini buat ngedorong sisi emosional ke titik maksimal. Diproses selama kurang lebih tiga bulan di AWN Home Studio, Yogyakarta, “Mata Ibu” ngelewatin bongkar pasang aransemen sampai ketemu racikan yang pas layaknya adegan film coming-of-age.
Di tengah dunia yang makin karut-marut dan budaya hustle yang toksik, Erlangga ngingetin kita semua lewat lagu ini: seberengsek apapun dunia ngeludahin lo hari ini, ibu adalah satu-satunya tempat pulang yang nggak bakal pernah nutup pintunya!.
Instagram: @henrikus_erlangga














