Geopolitik Memanas! IHSG Ambles 3,57% Imbas Rudal Iran dan Dolar AS yang Makin Perkasa

08.06.2026
Geopolitik Memanas! IHSG Ambles 3,57% Imbas Rudal Iran dan Dolar AS yang Makin Perkasa
Geopolitik Memanas! IHSG Ambles 3,57% Imbas Rudal Iran dan Dolar AS yang Makin Perkasa

Awal pekan ini pasar modal Indonesia langsung disambut awan mendung setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan terjun bebas pada pembukaan perdagangan hari Senin, 8 Juni 2026. Indeks acuan tersebut langsung ambles signifikan sebesar 3,57% atau kehilangan 199,70 poin hingga terpuruk ke level psikologis baru di angka 5.395,07.

Ambyarnya pergerakan indeks pagi ini menjadi cerminan nyata dari tingginya aksi jual massal yang dilakukan oleh para investor di hampir seluruh sektor saham. Bayangkan saja, sebanyak 497 saham terpaksa tiarap di zona merah dan hanya 73 saham yang mampu bertahan menguat, sementara 389 saham lainnya terpantau jalan di tempat alias stagnan.

Aktivitas Pasar Sangat Agresif Akibat Sentimen Global

Meskipun pasar sedang loyo akibat tekanan jual, aktivitas transaksi di lantai bursa terpantau sangat ramai dan bergerak dengan volume yang cukup masif. Nilai transaksi pada awal sesi perdagangan ini tercatat sudah menembus angka Rp885,8 miliar dengan perputaran volume saham mencapai 1,05 billion lembar.

Tingginya volatilitas pasar modal hari ini juga terlihat dari frekuensi perdagangan yang berjalan sangat cepat hingga menyentuh angka 101 ribu kali transaksi dalam waktu singkat. Para pelaku pasar tampaknya memilih bermain aman dan cenderung defensif dalam mengamankan portofolio investasi mereka dari risiko koreksi yang lebih dalam.

Rudal Iran ke Israel Jadi Pemicu Utama Kepanikan

Faktor utama yang menyulut kepanikan global ini adalah eskalasi ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada hari Minggu kemarin. Aksi militer yang mengejutkan ini menjadi konfrontasi langsung pertama kalinya sejak kesepakatan gencatan senjata antara Teheran dan Washington resmi berlaku pada April lalu.

Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, secara blak-blakan menuding aksi blokade laut oleh Amerika Serikat serta serangan sepihak Israel ke Lebanon sebagai pemicu rusaknya perdamaian. Akibat pelanggaran kesepakatan tersebut, pihak Iran kini menyatakan bahwa seluruh pangkalan militer AS dan aset-aset penting milik Israel di kawasan tersebut sah untuk dijadikan target gempuran berikutnya.

Dilema Gencatan Senjata dan Respon Keras Donald Trump

Pihak Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga ikut mengeluarkan peringatan keras bahwa gencatan senjata hanya akan dihormati jika semua pertempuran di berbagai front sekutu distop secara total. Mereka tidak akan ragu untuk meluncurkan serangan balasan dengan skala yang jauh lebih masif dan mematikan apabila wilayah mereka atau sekutunya kembali diganggu.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump yang langsung menerima laporan intelijen mengenai serangan ini menyatakan bahwa tindakan agresif Iran sama sekali tidak menguntungkan proses diplomasi yang sedang berjalan. Trump bahkan dikabarkan segera menjalin kontak darurat dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, demi menahan sekutunya itu agar tidak melakukan serangan balasan yang bisa memicu perang terbuka.

Ancaman Inflasi Global dan Melambungnya Indeks Dolar

Gejolak perang baru ini sontak membuat para investor di seluruh dunia ketar-ketir karena berpotensi besar merusak jalur distribusi energi global yang masih sangat rapuh. Kekhawatiran terbesar pasar adalah melambungnya harga minyak mentah dunia yang otomatis akan mengerek biaya produksi dan memicu gelombang inflasi baru yang mahal.

Kondisi tidak menentu ini akhirnya membuat para pemodal global kembali memburu aset aman (safe haven) hingga menyebabkan indeks dolar AS terbang tinggi ke level 100,069. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam yang mencapai rekor tertinggi sejak Maret lalu ini jelas menjadi alarm bahaya karena bisa memicu kaburnya modal asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Fondasi Fiskal Dalam Negeri Dipastikan Tetap Kokoh

Menghadapi gempuran sentimen negatif eksternal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung bergerak cepat menenangkan pasar lewat pemaparan kondisi kesehatan fiskal terbaru. Berdasarkan data realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026, Menkeu menegaskan bahwa kondisi ekonomi domestik saat ini sebenarnya masih dalam kondisi yang sangat tangguh.

“Realisasi APBN kita sampai dengan bulan Mei tahun ini terus menunjukkan kinerja yang sangat positif dan on-track,” ungkap Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA beberapa waktu lalu.

Pemerintah juga memastikan bahwa pengelolaan pembiayaan anggaran negara terus dilakukan secara sangat hati-hati (prudent), efisien, namun tetap fleksibel dalam merespons segala dinamika yang terjadi di pasar keuangan internasional.

Defisit Anggaran Masih Aman dan Terkendali dengan Baik

Meskipun situasi global penuh ketidakpastian, posisi defisit anggaran belanja negara dilaporkan masih sangat terukur dan sepenuhnya sesuai dengan cetak biru perencanaan awal. Hingga akhir Mei kemarin, angka defisit APBN tercatat mengalami sedikit kenaikan tipis menjadi Rp180,4 triliun atau setara dengan 0,70% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Posisi tersebut diakui memang sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan catatan akhir April lalu yang bertengger di angka Rp164,4 triliun atau sekitar 0,64% dari PDB. Walaupun defisit fiskal ini tetap dipantau ketat oleh para analis keuangan, manajemen kas negara yang solid diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang kuat demi menjaga stabilitas mata uang Rupiah dari guncangan luar.

Scr/Mashable




Don't Miss