Kacamata Pintar Meta Terancam Boikot: Koalisi Hak Sipil Desak Mark Zuckerberg Hapus Fitur Pengenalan Wajah

16.04.2026
Kacamata Pintar Meta Terancam Boikot: Koalisi Hak Sipil Desak Mark Zuckerberg Hapus Fitur Pengenalan Wajah
Kacamata Pintar Meta Terancam Boikot: Koalisi Hak Sipil Desak Mark Zuckerberg Hapus Fitur Pengenalan Wajah

Rencana Meta untuk menyematkan teknologi pengenalan wajah pada kacamata pintar (smart glasses) terbaru mereka memicu gelombang perlawanan hebat.

Lebih dari 70 organisasi hak-hak sipil terkemuka, termasuk ACLU, Electronic Privacy Information Center, hingga Access Now, secara resmi mengirimkan surat terbuka kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg.

Mereka memperingatkan bahwa langkah ini bukan sekadar inovasi, melainkan “senjata” baru yang dapat memberdayakan penguntit, predator seksual, hingga pelaku kejahatan siber untuk beraksi secara anonim di ruang publik.

Dikutip dari Engadget, Kamis (15/4/2026), ketegasan koalisi ini sangat jelas: mereka tidak meminta perbaikan desain atau fitur keamanan tambahan, melainkan penghapusan total rencana tersebut.

Menurut koalisi, teknologi ini menciptakan ancaman eksistensial yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mekanisme opt-out (pembatalan pilihan) atau pembaruan perangkat lunak.

Masalah utamanya adalah absennya persetujuan dari orang-orang di sekitar pengguna; siapapun yang berjalan di trotoar bisa diidentifikasi secara instan tanpa mereka sadari atau izinkan.

“Masyarakat berhak menjalani hidup tanpa rasa takut bahwa identitas mereka diverifikasi secara diam-diam oleh agen federal, penipu, atau pelaku kekerasan,” tegas koalisi dalam surat tersebut.

Teknologi yang dijuluki “Name Tag” ini bekerja dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mencocokkan wajah orang di depan mata pengguna dengan basis data digital.

Jika terealisasi, kacamata ini akan menampilkan nama, hobi, hubungan, hingga informasi kesehatan target secara real-time langsung pada layar kacamata, menciptakan suasana distopia yang selama ini hanya ada di film fiksi ilmiah.

Lebih mengkhawatirkan lagi, laporan dari Wired dan New York Times mengungkap adanya memo internal Meta yang bersifat manipulatif.

Memo tersebut mengindikasikan bahwa Meta berencana meluncurkan teknologi ini di saat “lingkungan politik sedang dinamis,” sebuah kode korporat untuk meluncurkan produk kontroversial saat perhatian publik dan organisasi sipil sedang teralihkan ke isu lain.

Sikap tersebut dikritik keras sebagai perilaku keji yang mencoba memanfaatkan celah otoritarianisme demi keuntungan bisnis semata.

Secara teknis, Meta kabarnya tengah menyiapkan dua versi fitur ini. Versi pertama hanya akan mengidentifikasi mereka yang terhubung di platform Meta, sementara versi kedua dapat mendeteksi siapapun yang memiliki profil publik di Instagram.

Meski Meta melalui juru bicaranya mengklaim bahwa mereka “mengambil pendekatan yang sangat hati-hati” dan menunjuk kompetitor yang sudah memiliki produk serupa, skeptisisme publik tetap tinggi.

Apalagi, Meta memiliki sejarah kelam dengan teknologi biometrik yang memaksa mereka membayar denda miliaran dolar kepada FTC serta negara bagian Illinois dan Texas di masa lalu.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Jika kacamata ini dirilis, masyarakat tidak lagi memiliki anonimitas di ruang publik.

Koalisi kini mendesak transparansi penuh dari Meta terkait diskusi mereka dengan lembaga penegak hukum seperti ICE dan mendesak perusahaan untuk mengungkap data penyalahgunaan perangkat wearable untuk kasus penguntitan atau kekerasan dalam rumah tangga.

Jika Meta tetap bersikeras, gelombang pembatalan layanan dan boikot besar-besaran diprediksi akan menjadi konsekuensi pahit yang harus mereka telan.

Scr/Mashable




Don't Miss