Strava, platform media sosial terbesar bagi para penggiat gaya hidup aktif dengan lebih dari 195 juta pengguna global, baru saja merilis Strava Metro: Commute Report perdana. Laporan komprehensif ini membedah pola perilaku komuter sepeda di seluruh dunia sepanjang tahun 2025.
Melalui inisiatif ini, Strava tidak hanya menjadi sekadar aplikasi pelacak olahraga, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam pembangunan infrastruktur kota yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi semua orang.
Menariknya, data yang dikumpulkan melalui Strava Metro disediakan secara anonim dan gratis kepada lebih dari 4.000 perencana kota dan lembaga pemerintah di berbagai belahan dunia.
Kolaborasi ini terbukti memberikan dampak masif; hampir 1 miliar orang telah merasakan manfaat dari perbaikan infrastruktur jalan yang didasari oleh data pergerakan nyata para pejalan kaki dan pesepeda. Langkah ini menegaskan komitmen Strava dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat urban.
Jarak Tempuh Fantastis: Setara 22.000 Kali Keliling Bumi
Laporan yang merangkum aktivitas sepanjang Januari hingga Desember 2025 ini menunjukkan angka yang sangat ambisius. Total jarak yang ditempuh para pesepeda saat berkomuter mencapai 550 juta mil atau sekitar 885,1 juta kilometer.
Sebagai gambaran, angka luar biasa ini setara dengan bersepeda mengelilingi bumi sebanyak 22.000 kali, atau lebih dari 2.170 kali perjalanan misi ruang angkasa Artemis II mengelilingi bulan.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan representasi dari pergeseran gaya hidup masyarakat global yang mulai memilih transportasi aktif dibandingkan kendaraan bermotor pribadi untuk menuju tempat kerja atau beraktivitas sehari-hari.
Kejutan Generasi: Baby Boomer Ungguli Gen Z di Jalanan
Salah satu temuan paling menarik dalam laporan ini adalah profil demografi penggunanya. Di tengah populernya tren gaya hidup sehat di kalangan anak muda, ternyata generasi Baby Boomer justru menjadi kelompok yang paling aktif dalam berkomuter menggunakan sepeda.
Sebaliknya, data mengungkap bahwa Gen Z memiliki kemungkinan 21% lebih kecil untuk berkomuter dengan sepeda dibandingkan generasi Boomer. Selain itu, tren penggunaan E-bike (sepeda listrik) juga terus menunjukkan grafik yang menanjak tajam, terutama di kalangan Baby Boomer.
Secara geografis, Islandia memimpin sebagai negara dengan jumlah komuter E-bike terbanyak, diikuti oleh Belgia dan Norwegia. Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan teknologi pada sepeda listrik mampu menarik minat kelompok usia yang lebih senior untuk tetap aktif di jalan raya.
Tangguh dalam Segala Cuaca dan Harapan untuk Infrastruktur Lebih Baik
Laporan ini juga menyoroti ketangguhan para pesepeda dunia yang tetap melaju dalam segala kondisi ekstrem. Mulai dari suhu dingin yang menusuk di Finlandia hingga cuaca lembap nan hangat di Jepang, para komuter tetap konsisten mencapai tujuan mereka dengan mengayuh pedal.
Ketangguhan tersebut menjadi sinyal kuat bagi pengambil kebijakan bahwa kebutuhan akan jalur sepeda yang layak dan aman bersifat mendesak di seluruh kondisi iklim.
Brian Bell, Wakil Presiden Komunikasi dan Dampak Sosial Strava, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini. Strava Metro adalah jantung dari inisiatif dampak sosial. Melalui laporan ini, perusahaan bisa melihat betapa kuatnya pengaruh aktivitas komuter terhadap perencanaan kota.
“Kami mengajak setiap individu untuk mulai merekam rutinintas perjalanan aktif mereka, karena setiap data yang terekam adalah kontribusi nyata bagi pengalaman berkomuter yang lebih aman dan mudah bagi siapa saja di masa depan,” tutupnya.
Scr/Mashable





















