Bruno Fernandes mengulangi ucapan terkenal Jose Mourinho setelah kartu merah Lisandro Martinez dalam kekalahan 1-2 melawan Leeds dalam lanjutan Liga Inggris 2025/2026 pada, Selasa 14 Februari 2026 dini hari WIB.
Manchester United menderita kekalahan 1-2 dari Leeds pada pekan ke-32 Liga Inggris di Old Trafford, dalam pertandingan yang dibayangi oleh keputusan wasit yang kontroversial. Titik fokusnya adalah kartu merah yang diberikan kepada Lisandro Martinez, yang membuat tim tuan rumah bermain dengan sepuluh pemain selama sebagian besar babak kedua.
Setelah pertandingan, Bruno Fernandes mengungkapkan kekecewaannya tetapi memilih untuk bereaksi dengan hati-hati. Gelandang asal Portugal itu menolak untuk berkomentar langsung tentang keputusan wasit, sambil juga mengingat pernyataan terkenal Jose Mourinho setelah Chelsea kalah dari Aston Villa pada tahun 2014: “Saya tidak ingin berbicara tentang wasit karena jika saya melakukannya, saya akan mendapat masalah besar.”
Mantan gelandang Sporting Lisbon itu meyakini bahwa kinerja wasit dalam pertandingan tersebut kurang konsisten, terutama dalam pemberian kartu. Namun, ia sengaja menghindari pembahasan detail untuk mencegah risiko tindakan disiplin.
Di lapangan, tim Michael Carrick memperkecil kedudukan melalui Casemiro, dibantu oleh Fernandes. Namun, dua gol dari Noah Okafor memastikan tiga poin penuh untuk Leeds, menandai kemenangan liga pertama mereka di Old Trafford sejak 1981.
Kekalahan itu tidak hanya merugikan MU poin penting, tetapi juga menempatkan mereka dalam posisi sulit terkait susunan pemain. Martinez dipastikan absen dalam pertandingan mendatang melawan Chelsea, dan bahkan bisa absen dalam pertandingan melawan Brentford dan Liverpool jika ia menerima hukuman larangan bermain tiga pertandingan.
Dengan persaingan untuk lolos ke Liga Champions memasuki tahap krusial, kehilangan seorang bek kunci telah membuat situasi personel Manchester United menjadi lebih rumit dari sebelumnya.
5 Alasan Manchester United Takluk dari Leeds di Old Trafford: Dari Kartu Merah Kontroversial hingga Buruknya Lini Pertahanan
Manchester United menderita kekalahan melawan Leeds United di kandang sendiri meskipun dianggap sebagai tim yang lebih kuat. Persaingan untuk memperebutkan tempat di Liga Champions semakin sengit.
Pertandingan antara Manchester United dan Leeds United di pekan ke-32 Liga Inggris 2025/2026 berakhir dengan skenario yang mengejutkan. Manchester United, tim yang sedang berada di puncak performa di bawah asuhan Michael Carrick, secara tak terduga kalah 1-2 dari Leeds United di kandang sendiri.
Kekalahan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang karakter Setan Merah di momen-momen krusial. Berikut lima alasan utama di balik keruntuhan bersejarah ini.
1. “Tusukan” dari VAR dan kartu merah yang tidak adil untuk Lisandro Martinez
Titik balik terbesar pertandingan ini tak diragukan lagi adalah kartu merah langsung yang diterima Lisandro Martinez pada menit ke-56. Dalam sebuah pelanggaran yang tampaknya tidak berbahaya, VAR turun tangan dan memutuskan bahwa bek Argentina itu telah menarik rambut Dominic Calvert-Lewin.
Keputusan wasit Paul Tierney membuat MU bermain dengan sepuluh pemain, sekaligus menghancurkan harapan awal tim tuan rumah untuk melakukan comeback.
Setelah pertandingan, manajer Michael Carrick tak bisa menyembunyikan amarahnya : ” Itu keputusan yang mengejutkan. Martinez hanya menyentuh rambut lawannya saat terhuyung dan kehilangan keseimbangan, namun mereka mengubahnya menjadi kekerasan dan mengusirnya. VAR merusak pertandingan ini.”
Kehilangan pemimpin lini pertahanan mereka selama 30 menit terakhir pertandingan benar-benar mengacaukan formasi taktik Manchester United.
2. Kebangkitan fenomenal Noah Okafor dan kelemahan pertahanan Manchester United
Saat lini serang Manchester United kesulitan, Noah Okafor dari Leeds menampilkan permainan terbaik dalam hidupnya. Striker tersebut hanya membutuhkan 5 menit untuk membuka skor dan menyelesaikan brace-nya pada menit ke-29.
Harus diakui secara jujur bahwa lini pertahanan Manchester United, terutama Leny Yoro, mengalami babak pertama yang buruk. Yoro terlalu terlibat dalam pergerakan Calvert-Lewin, menciptakan celah mematikan yang dapat dimanfaatkan Okafor.
Kurangnya kekompakan antara bek tengah dan kedua bek sayap sangat merugikan Setan Merah, mengakibatkan dua gol kebobolan di babak pertama dan memaksa mereka bermain di bawah tekanan serta mengejar ketertinggalan.
3. Absennya Kobbie Mainoo dan dilema lini tengah
Sebelum pertandingan dimulai, kabar cedera ringan Kobbie Mainoo menjadi pertanda buruk bagi lini tengah Manchester United. Duet berpengalaman Casemiro dan Manuel Ugarte kurang memiliki kelincahan dan kemampuan untuk melepaskan diri dari tekanan lawan, sesuatu yang dimiliki Mainoo.
Ugarte bahkan dicemooh oleh penggemarnya sendiri karena penguasaan bolanya yang lambat, yang mengganggu ritme serangan tim.
Kebuntuan di lini tengah terlihat jelas dari statistik, dengan MU hanya mencapai metrik expected goals (xG) sebesar 0,19 di babak pertama, angka yang sangat rendah untuk tim yang bermain di kandang sendiri.
4. Dominic Calvert-Lewin – Seorang pahlawan yang tidak terlupakan
Meskipun namanya tidak tercantum di papan skor, Calvert-Lewin adalah pemain yang paling merepotkan MU. Dia adalah pemain yang memenangkan duel terbanyak dalam pertandingan (7 kali).
Namun, momen paling berharga dari sang striker adalah kemampuan bertahannya. Pada menit ke-85, ketika Casemiro mengalahkan kiper Darlow dengan sundulan berbahaya, Calvert-Lewin muncul di saat yang tepat untuk menyapu bola dari garis gawang.
Seandainya bukan karena tekel putus asa dari striker Inggris itu, MU setidaknya bisa mengamankan satu poin di Old Trafford.
5. Tekanan dari “hantu” sejarah dan beban psikologis
Saat pertandingan mendekati akhir, tekanan untuk mempertahankan rekor tak terkalahkan di kandang sendiri tampaknya menjadi beban psikologis bagi para pemain Manchester United. Selama 45 tahun, Leeds belum pernah mengalahkan Manchester United di Old Trafford dalam pertandingan liga, dan para pemain Setan Merah tampak terlalu percaya diri dengan kutukan sejarah ini.
Ketidaksabaran dalam upaya penyelesaian akhir dari Matheus Cunha atau Amad Diallo menunjukkan bahwa MU telah kehilangan ketenangan yang diperlukan.
Meskipun memiliki pemain bintang yang mampu membalikkan keadaan, melawan tim Leeds yang berani dan disiplin, MU menyerah karena ketidaksabaran mereka sendiri dan tekanan untuk mempertahankan status mereka sebagai tim favorit.
Kekalahan 1-2 ini merupakan pelajaran berharga bagi Michael Carrick dan para pemainnya. Ini menunjukkan bahwa di Liga Inggris, rekor atau keuntungan bermain di kandang sendiri tidak dapat menjamin kemenangan jika tim kurang fokus dan kemampuan beradaptasi terhadap kejadian tak terduga di lapangan.
Scr/Mashable















