Chelsea tampaknya sudah jengah dengan kegagalan. Penunjukan Xabi Alonso sebagai nakhoda anyar di Stamford Bridge bukan sekadar upaya untuk mendongkrak posisi di klasemen.
Manajemen The Blues ingin pria asal Spanyol tersebut menghentikan budaya saling menyalahkan dan menyudahi kekacauan panjang yang mendominasi era kepemilikan BlueCo.
Setelah bertahun-tahun terjebak dalam eksperimen bongkar-pasang pelatih dan membakar miliaran euro di bursa transfer tanpa hasil, Chelsea akhirnya memutuskan untuk berhenti berspekulasi. Manajemen The Blues kini menaruh nasib mereka di tangan seorang pria yang tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi para pemain untuk mencari-cari alasan. Pria itu adalah Xabi Alonso.
Kehadiran Alonso membawa pesan yang sangat berbeda dibanding suksesi manajer sebelumnya di era BlueCo. Kali ini, Chelsea tidak sekadar mencari seorang “pelatih kepala” (head coach). Mereka memberikan otoritas penuh kepada mantan bos Bayer Leverkusen tersebut dengan jabatan “manajer” (manager).
Kebijakan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak konsorsium asal Amerika Serikat tersebut mengambil alih klub. Pesan dari petinggi klub sangat jernih: Alonso adalah penguasa tertinggi di bidang teknis, dan ruang ganti Stamford Bridge wajib tunduk pada aturannya.
Langkah tegas ini krusial mengingat Chelsea telah lama terjebak dalam budaya manja, di mana setiap kekalahan selalu diiringi dengan apologi. Saat tim tampil buruk, kambing hitam dengan mudah ditemukan: pelatih dianggap kurang kompeten, minim pengalaman, belum punya tradisi juara, atau terlalu lembek untuk menjinakkan ego para pemain.
Namun, kedatangan Alonso otomatis membungkam semua dalih tersebut. Rekam jejak mentereng sang manajer baru sudah cukup untuk membuat ruang ganti Chelsea senyap.
Chelsea Butuh Pemimpin Sejati
Gelandang Chelsea, Enzo Fernandez, boleh saja bangga dengan statusnya sebagai juara Piala Dunia 2022. Namun, Alonso juga memegang trofi Piala Dunia bersama timnas Spanyol, lengkap dengan dua gelar Euro.
Ketika beberapa penggawa Chelsea memamerkan lencana FIFA Club World Cup di dada mereka, Alonso dengan santai bisa menunjukkan dua trofi Liga Champions dalam lemari koleksinya. Di saat para pemain muda Chelsea bermimpi untuk mengenakan jersi Real Madrid, Alonso sudah kenyang bermain selama lima tahun di Santiago Bernabeu dan sangat memahami standar kejam yang berlaku di klub raksasa Spanyol tersebut.
Inilah kepingan teka-teki yang hilang dari Chelsea dalam beberapa musim terakhir: sosok figur besar yang memiliki karisma dan wibawa untuk mengendalikan ruang ganti.
Di bawah kendali BlueCo, Stamford Bridge sempat berubah menjadi mesin pemecat pelatih. Thomas Tuchel, Graham Potter, Frank Lampard, Mauricio Pochettino, Enzo Maresca, hingga Liam Rosenior datang dan pergi silih berganti. Tragisnya, Chelsea tetap saja semenjana dan terlempar dari persaingan papan atas.
Uang tunai lebih dari 1,7 miliar euro telah digelontorkan untuk belanja pemain. Namun, klub London Barat ini justru menutup musim dengan kekalahan menyakitkan dari Manchester City di final Piala FA, melengkapi performa buruk mereka di Premier League.
Hal yang lebih mencemaskan adalah lunturnya identitas Chelsea sebagai klub raksasa. Tindakan indisipliner seperti kartu merah bodoh, protes berlebihan yang kekanak-kanakan, dan hilangnya organisasi permainan menjadi pemandangan yang terlalu sering tersaji di lapangan.
Bahkan, ada momen di mana pemain muda bertalenta, Estevao Willian, sempat berseloroh bahwa dia tidak percaya Liam Rosenior dulunya adalah pemain sepak bola profesional setelah melihat sang pelatih salah mengontrol bola di pinggir lapangan. Klub sebesar Chelsea tidak bisa terus hidup dalam atmosfer sekacau itu, dan BlueCo sadar mereka harus melakukan revolusi total.
Ujian Terbesar Proyek BlueCo
Chelsea tidak merekrut Alonso hanya untuk memoles taktik atau menyajikan sepak bola indah yang memanjakan mata. Mereka butuh Alonso untuk menghidupkan kembali mentalitas juara yang telah menguap dari Stamford Bridge. Itulah alasan mengapa Chelsea secara khusus menekankan aspek “karakter dan integritas” saat mengumumkan kedatangan pria berusia 44 tahun tersebut.
Alonso diharapkan mampu menegakkan kedisiplinan, memulihkan rasa tanggung jawab, dan menerapkan standar profesionalisme baru. Dia bukan tipe pelatih yang suka menjilat pemain demi menjaga keharmonisan semu atau mencari aman untuk menghindari konflik.
Saat menukangi Real Madrid, Alonso terbukti berani mengonfrontasi para pemain bintang di ruang ganti meskipun keputusannya sempat membuat hubungan internal memanas. Namun, Chelsea yang sekarang justru membutuhkan sosok “tangan besi” seperti itu. The Blues butuh pelatih yang membuat para pemain cemas memikirkan penilaian sang manajer terhadap mereka, bukan sebaliknya.
Menariknya, manajemen Chelsea tampaknya mulai sadar bahwa akar masalah klub selama ini bukan sekadar urusan taktik di atas lapangan atau komposisi skuad. Setelah fase evaluasi internal yang mendalam, BlueCo akhirnya paham bahwa klub membutuhkan seorang pemimpin sejati, bukan lagi eksperimen setengah hati.
Kendati demikian, menunjuk Alonso tetaplah sebuah perjudian besar. Periode singkatnya di Real Madrid tidak berjalan sesukses yang diharapkan.
Selain itu, atmosfer Premier League jauh lebih ganas dan menguras fisik ketimbang Bundesliga, tempat di mana ia mengukir sejarah domestik lewat rekor tak terkalahkan bersama Bayer Leverkusen. Namun, setidaknya Chelsea akhirnya mengambil keputusan berani yang mencerminkan status mereka sebagai klub besar.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi seberapa genius taktik yang dimiliki Alonso. Tantangan sesungguhnya adalah apakah manajemen Chelsea memiliki kesabaran dan keberanian untuk memberikan otoritas penuh kepadanya.
Jika BlueCo kembali tergoda untuk mengintervensi urusan teknis, hobi gonta-ganti pelatih, dan tidak memberikan kepercayaan penuh seperti musim-musim sebelumnya, maka pelatih berkarakter sekuat Xabi Alonso pun tidak akan mampu menyelamatkan Chelsea dari pusaran kehancuran.
Scr/Mashable


















