Luciano Spalletti mulai memberikan gambaran jelas mengenai arah pembangunan skuad Juventus menjelang musim baru. Pelatih asal Italia itu secara terbuka memuji Guglielmo Vicario dan Jhon Lucumi, sekaligus menjelaskan mengapa Alisson Becker serta Emiliano Martinez sempat menjadi target.
Pernyataan Spalletti muncul setelah pertandingan pramusim terakhir Juventus menghadapi tim Next Gen, laga tradisional yang berakhir lebih cepat karena suporter memasuki lapangan secara damai. Tim senior sebelumnya unggul 2-0 melalui Francisco Conceicao dan Weston McKennie.
Namun perhatian setelah pertandingan justru tertuju kepada dua pemain yang belum berada di lapangan, yakni mantan bek Bologna Jhon Lucumi dan kiper Tottenham Hotspur Guglielmo Vicario. Keduanya menjadi bagian penting dari perubahan wajah Juventus pada bursa transfer musim panas.
Dilansir Football Italia, Selasa (18/08/2026) Spalletti tidak menutupi kekagumannya terhadap karakter kedua pemain tersebut. Lucumi dinilai membawa kekuatan dan mentalitas yang dibutuhkan pertahanan Juventus, sedangkan Vicario disebut tetap berada dalam kategori penjaga gawang papan atas.
Spalletti melihat Jhon Lucumi bukan hanya sebagai tambahan kuantitas bagi lini belakang Juventus, tetapi pemain yang memiliki karakter kuat. Bek asal Kolombia tersebut dinilai membawa kombinasi agresivitas, kekuatan fisik, dan keberanian yang bisa memberikan warna berbeda dalam pertahanan Bianconeri.
Pelatih Juventus bahkan menggunakan istilah khas sepak bola Amerika Selatan, “garra”, untuk menggambarkan karakter permainan Lucumi. Istilah tersebut merujuk pada semangat bertarung, keberanian, dan kemampuan seorang pemain memaksakan karakternya terhadap jalannya pertandingan.
Karakter seperti itu menjadi penting karena Juventus membutuhkan bek yang bukan sekadar mampu membaca permainan, tetapi juga berani memenangkan duel. Spalletti tampaknya melihat Lucumi sebagai pemain yang dapat meningkatkan intensitas pertahanan sekaligus membawa mentalitas kompetitif ke dalam tim.
Pengalamannya bersama Bologna juga membuat proses adaptasi secara teoritis lebih mudah karena Lucumi telah memahami karakter Serie A. Juventus tidak harus menunggu sang pemain mengenal intensitas pertandingan Italia dari awal seperti pemain yang baru datang dari kompetisi berbeda.
Perhatian lebih besar kemudian mengarah kepada Guglielmo Vicario, penjaga gawang Tottenham yang sudah tiba untuk menyelesaikan pemeriksaan medis. Transfer tersebut disebut berupa pinjaman satu musim dengan opsi pembelian senilai sekitar delapan juta euro ditambah bonus dua juta euro.
Dengan struktur tersebut, Juventus mendapatkan kesempatan menguji Vicario selama semusim sebelum mengambil keputusan jangka panjang. Kesepakatan juga memberikan fleksibilitas finansial dibanding harus langsung membayar biaya transfer besar untuk seorang penjaga gawang pada musim panas ini.
Meski nilainya relatif lebih rendah dibanding sejumlah target sebelumnya, Spalletti sama sekali tidak melihat Vicario sebagai pilihan kelas dua. Sebaliknya, ia secara eksplisit menggambarkan kiper Timnas Italia tersebut sebagai pemain matang, cerdas, profesional, dan memiliki standar tinggi.
Pujian itu menjadi menarik karena Juventus sebelumnya dikaitkan dengan nama jauh lebih besar, termasuk Alisson Becker dari Liverpool dan Emiliano Martinez dari Aston Villa. Pada akhirnya, justru Vicario yang bergerak paling dekat menuju Turin.
Apa yang Membuat Spalletti Menyukai Vicario?
Spalletti menilai Vicario merupakan tipe pemain yang terus memikirkan sepak bola bahkan ketika sudah pulang dari latihan. Bagi sang pelatih, tingkat komitmen seperti itu menjadi pembeda antara pemain yang memperlakukan profesinya secara serius dan mereka yang menjalani karier dengan lebih santai.
Vicario juga dianggap telah melalui proses perkembangan yang tepat sepanjang kariernya sebelum berangkat ke Premier League. Pengalaman bermain di luar Italia bersama Tottenham dinilai membuatnya lebih matang, terutama dalam menghadapi tekanan kompetisi dengan tuntutan fisik dan intensitas tinggi.
Spalletti mengakui musim terakhir Vicario mungkin tidak berjalan dalam kondisi yang memungkinkan sang penjaga gawang menunjukkan performa terbaik. Meski demikian, penilaian Juventus terhadap kualitas dasarnya tidak berubah karena pelatih tetap menyebutnya sebagai “top goalkeeper”.
Komentar tersebut memperlihatkan bahwa Juventus tidak sekadar memanfaatkan kesempatan pasar akibat perubahan situasi Vicario di Tottenham. Bianconeri tampaknya tetap menilai kualitas sang kiper berada pada level yang dibutuhkan klub untuk bersaing di kompetisi domestik dan Eropa.
Lalu Mengapa Juventus Lebih Dulu Memburu Alisson?
Pertanyaan berikutnya muncul secara alami: jika Vicario dianggap sebagai penjaga gawang top, mengapa Juventus sebelumnya mencoba mendapatkan Alisson Becker? Spalletti tidak menghindari pertanyaan tersebut dan memberikan alasan yang cukup sederhana mengenai pertimbangan klub.
Menurut penjelasannya, Juventus awalnya mempertimbangkan sosok dengan pengalaman lebih besar karena pemain seperti Alisson dinilai dapat membawa sesuatu yang ekstra. Rekam jejak panjang di level tertinggi membuat kiper Liverpool tersebut dianggap mampu memberikan dampak langsung terhadap tim.
Alisson mempunyai pengalaman memainkan pertandingan besar, menghadapi tekanan gelar, serta berkompetisi secara konsisten di level tertinggi. Logika Juventus karena itu lebih berkaitan dengan tingkat pengalaman daripada ketidakpercayaan terhadap kualitas calon alternatif seperti Vicario.
Namun pasar transfer tidak selalu memungkinkan klub mendapatkan pilihan pertama, terutama ketika berhadapan dengan pemain bernilai tinggi dan klub besar. Juventus akhirnya bergerak menuju solusi yang dianggap tetap mampu memenuhi standar teknis serta mentalitas yang diinginkan Spalletti.
Emiliano Martinez Juga Masuk Pertimbangan
Nama lain yang sempat masuk perhitungan adalah Emiliano Martinez, penjaga gawang Aston Villa dan Argentina. Seperti Alisson, Martinez menawarkan faktor pengalaman serta reputasi sebagai pemain yang sudah terbiasa tampil dalam tekanan pertandingan besar.
Spalletti menjelaskan pertimbangan terhadap Alisson maupun Martinez berasal dari keyakinan bahwa pengalaman mereka bisa memberikan nilai tambah. Namun ia menegaskan Vicario juga sudah memenangkan turnamen dan memiliki pengalaman bermain di luar negeri bersama klub penting.
Karena itulah Spalletti akhirnya menempatkan Vicario pada level yang tidak jauh berbeda dalam penilaian Juventus. Sang pelatih menilai perjalanan kariernya sudah memberikan cukup pengalaman untuk mengambil tanggung jawab besar apabila benar-benar menjadi bagian skuad Bianconeri.
Penjelasan tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa Vicario sekadar target darurat setelah Juventus gagal mendapatkan dua nama besar. Dari perspektif Spalletti, Juventus memang mengganti target, tetapi tidak berarti menurunkan standar kualitas penjaga gawang yang mereka inginkan.
Transfer Vicario Bisa Jadi Kesempatan Kedua
Situasi Vicario juga mempunyai cerita menarik karena Spalletti menyadari pemain tersebut tidak memperoleh kondisi ideal dalam satu tahun terakhir. Pernyataan itu mengindikasikan Juventus melihat kesempatan mendapatkan pemain berkualitas ketika valuasi dan posisinya di klub lama sedang berubah.
Dalam dunia transfer, kondisi semacam ini sering memberikan keuntungan besar apabila pemain mampu menemukan kembali performa terbaiknya. Juventus tidak harus membeli kiper ketika nilainya sedang mencapai puncak, tetapi justru ketika peluang untuk melakukan transaksi dengan struktur lebih ringan terbuka.
Pinjaman dengan opsi pembelian sekitar delapan juta euro ditambah dua juta euro bonus membuat risikonya lebih terkendali. Apabila Vicario kembali menunjukkan level terbaiknya, Juventus berpotensi mendapatkan penjaga gawang berpengalaman Premier League dengan biaya yang relatif efisien.
Sebaliknya, satu musim pertama memberikan kesempatan kepada Spalletti menilai secara langsung kecocokannya dengan struktur permainan Juventus. Pendekatan tersebut membuat transfer Vicario bukan hanya soal kualitas, tetapi juga contoh bagaimana klub mencoba memanfaatkan dinamika pasar.
Spalletti Juga Puji Randal Kolo Muani
Perombakan Juventus tidak berhenti pada lini belakang dan posisi penjaga gawang karena Spalletti juga menyambut kedatangan Randal Kolo Muani. Sang pelatih ternyata sudah lama mengenal kemampuan penyerang Prancis tersebut bahkan sebelum bekerja bersama di Turin.
Spalletti mengingat pernah menghadapi Kolo Muani di Liga Champions ketika masih menangani Napoli dan sejak saat itu memperhatikan karakter permainannya. Penyerang tersebut dinilai memiliki paket atribut yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan lini depan Juventus.
Kolo Muani disebut mampu menyerang ruang, memiliki kecepatan, teknik, sekaligus tetap bekerja untuk kepentingan tim. Kombinasi tersebut menjadi alasan penting mengapa Spalletti melihatnya sebagai penyerang komplet, bukan sekadar pemain yang bertugas menyelesaikan peluang.
Bagi Juventus, keberadaan penyerang dengan mobilitas tinggi dapat membuat struktur serangan menjadi lebih dinamis. Kolo Muani bisa memberikan ruang kepada pemain lain melalui pergerakannya sekaligus menjadi ancaman ketika Bianconeri melancarkan serangan cepat.
Kerim Alajbegovic Juga Buat Spalletti Terpukau
Nama lain yang mendapatkan pujian adalah Kerim Alajbegovic, salah satu pemain baru Juventus musim panas ini. Spalletti menyoroti kreativitas, kualitas teknik, dan kemampuan memainkan beberapa peran yang membuat pemain muda tersebut memiliki prospek menarik.
Menurut sang pelatih, Alajbegovic mempunyai kualitas kaki yang sangat baik serta menyenangkan untuk disaksikan. Tantangan berikutnya adalah mengubah kemampuan teknik dan kreativitas tersebut menjadi kontribusi konkret ketika pertandingan kompetitif benar-benar dimulai.
Spalletti juga menekankan bahwa Alajbegovic tidak terpaku kepada satu posisi spesifik. Fleksibilitas tersebut dapat memberikan Juventus lebih banyak pilihan ketika pelatih ingin mengubah bentuk serangan tanpa harus merombak keseluruhan susunan pemain.
Namun seperti banyak pemain muda bertalenta, kualitas teknis saja belum cukup untuk menjamin tempat utama. Konsistensi dan efektivitas akan menentukan seberapa cepat Alajbegovic memperoleh kepercayaan reguler ketika musim Juventus mulai memasuki fase kompetitif.
Pergerakan Juventus musim panas ini memperlihatkan pola yang cukup menarik karena klub tidak hanya mengejar pemain berdasarkan reputasi. Lucumi dipilih karena karakter dan kekuatan fisik, Vicario karena profesionalisme serta pengalaman, sedangkan Alajbegovic menawarkan kreativitas dan potensi berkembang.
Kolo Muani berada di antara keduanya karena sudah mempunyai pengalaman pertandingan besar tetapi masih menawarkan kecepatan dan fleksibilitas yang dibutuhkan struktur serangan. Dengan kata lain, Spalletti tampaknya mencari pemain berdasarkan fungsi spesifik dalam sistemnya.
Situasi penjaga gawang menjadi contoh paling jelas dari pendekatan tersebut karena Juventus sempat mengejar Alisson dan Emiliano Martinez. Ketika dua opsi berpengalaman itu tidak diwujudkan, klub tidak memaksakan transfer mahal dan memilih Vicario dengan profil berbeda.
Scr/Mashable
















