Tolak Chelsea demi Juventus, Kerim Alajbegovic Ungkap Alasan yang Membuatnya Mantap ke Turin

14.08.2026
Tolak Chelsea demi Juventus, Kerim Alajbegovic Ungkap Alasan yang Membuatnya Mantap ke Turin
Tolak Chelsea demi Juventus, Kerim Alajbegovic Ungkap Alasan yang Membuatnya Mantap ke Turin

Kerim Alajbegovic sebenarnya mempunyai jalan terbuka menuju Premier League ketika Chelsea bergerak serius memburunya pada bursa transfer musim panas 2026. Namun, pemain berusia 18 tahun itu justru memilih Juventus karena melihat kesempatan bermain dan berkembang yang dianggap lebih jelas.

Keputusan tersebut menarik karena Kerim Alajbegovic juga sempat dikaitkan dengan AC Milan, AS Roma, Napoli, hingga sejumlah klub lain setelah tampil menonjol bersama RB Salzburg. Chelsea bahkan disebut berada sangat dekat sebelum Juventus bergerak cepat mengambil kesempatan.

Bagi pemain muda, keputusan seperti ini memperlihatkan bahwa besarnya nama klub dan kekuatan finansial ternyata bukan satu-satunya pertimbangan ketika menentukan masa depan. Alajbegovic tampaknya lebih tertarik kepada pertanyaan sederhana: di mana dirinya akan mendapatkan kesempatan bermain dan berkembang paling cepat.

Juventus kemudian memberikan jawaban yang lebih meyakinkan dibanding Chelsea, terutama melalui rencana yang disiapkan Luciano Spalletti terhadap dirinya. Faktor tersebut membuat transfer ini bukan sekadar kemenangan Juventus di pasar pemain muda, melainkan keberhasilan menawarkan jalur karier yang lebih konkret.

Dalam wawancara yang dikutip GOAL dari Tuttosport, Jumat (14/08/2026) Kerim Alajbegovic mengakui daya tarik Juventus sulit untuk ditolak karena status klub tersebut dalam sepak bola Eropa. Namun, kepercayaan yang ditunjukkan Bianconeri justru menjadi faktor yang paling memengaruhi keputusannya.

Situasinya berbeda dengan Chelsea, tempat persaingan mendapatkan menit bermain dipandang lebih sulit bagi pemain yang baru memasuki sepak bola level tertinggi. Alajbegovic membutuhkan proyek yang memberinya kemungkinan terlibat langsung, bukan sekadar menjadi investasi jangka panjang yang menunggu giliran.

Pertimbangan tersebut cukup masuk akal jika melihat fase kariernya karena Alajbegovic baru berusia 18 tahun dan belum mempunyai pengalaman panjang di liga elite. Satu musim dengan banyak pertandingan bisa lebih bernilai untuk perkembangannya dibanding kontrak besar tetapi minim kesempatan tampil.

Juventus akhirnya membeli Kerim Alajbegovic dari Bayer Leverkusen dengan nilai dasar 30 juta euro, sementara kontraknya berlaku selama lima tahun. Reuters melaporkan kesepakatan tersebut mengikat pemain internasional Bosnia dan Herzegovina itu bersama Bianconeri hingga 2031.

Juventus Sebenarnya Membayar Mahal untuk Pemain 18 Tahun

Angka tersebut menunjukkan bahwa Juventus tidak sekadar memberikan janji mengenai pengembangan pemain, tetapi melakukan investasi finansial yang cukup besar. Sky Sport Italia sebelumnya melaporkan paket transfer dapat meningkat hingga sekitar 35 juta euro apabila seluruh bonus dalam kesepakatan terpenuhi.

Komitmen finansial sebesar itu memberikan pesan kepada Kerim Alajbegovic bahwa dirinya bukan perekrutan pelengkap untuk memperbesar skuad. Juventus hampir pasti mempunyai rencana olahraga tertentu karena mengeluarkan puluhan juta euro untuk pemain yang baru memasuki usia 19 tahun.

Keputusan Alajbegovic juga semakin menarik karena Bayer Leverkusen sebenarnya baru mengaktifkan klausul pembelian kembali dirinya dari Salzburg pada Maret 2026. Leverkusen bahkan mengikat pemain kelahiran Köln tersebut dengan kontrak lima tahun sebelum Juventus datang beberapa bulan kemudian.

Artinya, Juventus berani mengambil pemain yang oleh Leverkusen sendiri diproyeksikan sebagai bagian penting masa depan mereka. Direktur olahraga Bayer Simon Rolfes sebelumnya mengatakan Alajbegovic telah melampaui ekspektasi selama berada di Salzburg dan menunjukkan performa bagus di kompetisi Eropa.

Musim di Salzburg Mengubah Nilai Kerim Alajbegovic

Keberanian Juventus juga memiliki dasar statistik karena perkembangan Kerim Alajbegovic bersama RB Salzburg berlangsung sangat cepat. Reuters mencatat pemain Bosnia tersebut menghasilkan 13 gol dari 44 pertandingan di seluruh kompetisi sepanjang musim sebelum kembali menjadi milik Bayer Leverkusen.

Itu merupakan angka menarik untuk pemain berusia 18 tahun yang tidak hanya mengandalkan produktivitas di kompetisi usia muda. Pengalaman menghadapi lawan senior di Austria dan kompetisi Eropa membuat proses adaptasinya menuju Juventus tidak sepenuhnya dimulai dari nol.

Bundesliga menggambarkan Kerim Alajbegovic sebagai pemain sayap kiri dengan teknik elegan, akselerasi, serta keberanian mengambil keputusan dalam pertandingan besar. Ia lahir pada 21 September 2007 dan sebelumnya berkembang di akademi Köln sebelum bergabung dengan Leverkusen pada 2021.

Bayer juga mencatat tinggi badannya mencapai 1,86 meter, mempunyai kemampuan menggunakan kedua kaki, serta mampu dimainkan sebagai winger kiri maupun gelandang serang. Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan profilnya sangat menarik untuk sistem Juventus di bawah Spalletti.

Luciano Spalletti Jadi Faktor yang Sulit Ditandingi Chelsea

Di sinilah Luciano Spalletti mempunyai peran paling menarik dalam cerita transfer Kerim Alajbegovic karena pemain muda biasanya membutuhkan kejelasan mengenai posisinya. Sang pemain mengaku sudah melihat secara langsung betapa detailnya tuntutan Spalletti dalam setiap sesi latihan Juventus.

Alajbegovic mengatakan latihan menuntut ketepatan umpan, pergerakan, serta posisi yang terus diperbaiki karena Spalletti selalu mengejar kesempurnaan. Baginya, bekerja dalam lingkungan seperti itu memberi peluang mempelajari sesuatu yang baru pada hampir setiap sesi latihan.

Bagi Juventus, pendekatan tersebut berpotensi menjadi senjata ketika bersaing dengan klub Premier League memburu talenta muda. Klub mungkin tidak selalu menawarkan kontrak paling besar, tetapi mereka bisa memberikan sesuatu yang sama berharganya berupa akses lebih cepat menuju tim utama.

Bagi Kerim Alajbegovic sendiri, memilih Spalletti berarti menerima tuntutan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mendapatkan menit bermain. Kesempatan tidak datang secara gratis karena kualitas teknik, pemahaman ruang, disiplin posisi, dan keputusan dengan bola harus berkembang secara bersamaan.

Miralem Pjanic Ikut Mengarahkan Jalan ke Juventus

Ada pula faktor emosional yang membuat Juventus mempunyai keuntungan dalam negosiasi, yakni kehadiran Miralem Pjanic dalam proses kepindahan tersebut. Mantan gelandang Juventus dan tim nasional Bosnia itu bahkan mendampingi Alajbegovic ketika menjalani pemeriksaan medis di Turin.

Kerim Alajbegovic mengakui Pjanic memiliki pengaruh penting terhadap keputusannya karena mengetahui Juventus dari dalam setelah bertahun-tahun mengenakan kostum Bianconeri. Sang ayah juga terlibat dalam pertimbangan keluarga sebelum akhirnya mereka sepakat Turin merupakan pilihan terbaik.

Kehadiran figur seperti Pjanic tentu tidak menentukan keberhasilan seorang pemain, tetapi informasi dari seseorang yang memahami lingkungan klub bisa mengurangi ketidakpastian. Untuk remaja yang pindah negara dan memasuki ruang ganti raksasa Eropa, faktor tersebut tidak bisa dianggap sepele.

Juventus pada akhirnya menawarkan kombinasi yang sulit ditandingi: nilai transfer besar yang menunjukkan keseriusan klub, kepercayaan pelatih, serta dukungan figur Bosnia yang memahami Turin. Itulah yang membuat keputusan menolak Chelsea terlihat lebih rasional daripada sekadar pilihan sentimental.

Piala Dunia 2026 Membuktikan Alajbegovic Tidak Sekadar Prospek

Perjalanan Kerim Alajbegovic bersama Bosnia dan Herzegovina juga membuat namanya semakin besar sebelum resmi bergabung dengan Juventus. Pada Piala Dunia 2026, ia menjadi bagian dari skuad Bosnia yang untuk kedua kalinya sepanjang sejarah tampil dalam putaran final.

Reuters mencatat Alajbegovic mencetak gol pembuka ketika Bosnia mengalahkan Qatar 3-1, kemenangan yang membawa mereka menuju fase gugur untuk pertama kalinya. Perjalanan tersebut akhirnya dihentikan Amerika Serikat dengan kemenangan 2-0 pada babak 32 besar.

Sebelumnya, Alajbegovic juga ikut dalam keberhasilan Bosnia melewati Wales dan Italia melalui adu penalti pada play-off menuju Piala Dunia. Pengalaman tersebut membuat pemain berusia 18 tahun itu sudah merasakan tekanan internasional yang jarang diperoleh pemain seusianya.

Data UEFA juga memperlihatkan perkembangannya di level internasional, dengan satu gol dan tiga assist dalam tujuh pertandingan European Qualifiers yang tercatat pada 2026. Ia mencapai kecepatan tertinggi 32,25 km/jam, menunjukkan bahwa kualitas tekniknya disertai kemampuan atletis cukup baik.

Pujian Del Piero Membuat Ekspektasi Meningkat

Belum lama bergabung, Kerim Alajbegovic sudah mendapatkan pujian dari salah satu simbol terbesar Juventus, Alessandro Del Piero. Mantan kapten Bianconeri tersebut menyebut pemain Bosnia itu sebagai talenta nyata, sebuah pengakuan yang tentu semakin meningkatkan perhatian publik terhadap dirinya.

Alajbegovic merespons pujian tersebut dengan hati-hati karena merasa perjalanan kariernya masih panjang dan dirinya harus terus membuktikan kemampuan. Sikap tersebut menjadi penting mengingat harga transfer dan label wonderkid dapat berubah menjadi tekanan besar apabila hasil di lapangan tidak segera muncul.

Menariknya, pemain yang menjadi referensi terbesar Kerim Alajbegovic bukan legenda Juventus, melainkan Lionel Messi. Ia mengaku masih sering menonton rekaman permainan Messi untuk mengagumi sekaligus mencoba mengambil beberapa ide yang dapat diterapkan dalam permainannya sendiri.

Referensi itu cukup menggambarkan tipe pemain yang ingin dikembangkannya, yakni penyerang kreatif yang mampu menciptakan perbedaan melalui teknik dan keputusan. Namun, Juventus tentu tidak membutuhkan “Messi baru”, melainkan Alajbegovic yang berkembang sesuai kualitas dan karakter permainannya sendiri.

Kenan Yildiz Bisa Jadi Kunci Adaptasinya

Juventus juga mempunyai keuntungan lain melalui keberadaan Kenan Yildiz, yang dengan cepat menjadi teman dekat Kerim Alajbegovic di ruang ganti. Keduanya sama-sama tumbuh besar di Jerman sehingga dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Jerman sejak hari pertama bersama Bianconeri.

Alajbegovic mengakui Yildiz banyak membantunya beradaptasi dan menggambarkan pemain Turki tersebut sebagai pesepak bola hebat sekaligus pribadi yang menyenangkan. Keduanya bahkan sudah menyatakan keinginan bermain bersama untuk membawa Juventus kembali menuju level tertinggi.

Secara teknis, kombinasi keduanya juga menarik karena Juventus kini mempunyai dua pemain muda kreatif yang mampu beroperasi di belakang penyerang. Tantangan Spalletti adalah menciptakan struktur yang membuat keduanya saling melengkapi, bukan justru mencari ruang permainan yang sama.

Jika berhasil, Yildiz dan Kerim Alajbegovic bisa memberikan wajah baru kepada lini serang Juventus selama beberapa musim ke depan. Namun, potensi tersebut baru merupakan modal karena keduanya masih harus membuktikan diri menghadapi tekanan Serie A dan tuntutan klub sebesar Juventus.

Menolak Chelsea Bisa Jadi Keputusan Terpenting Kariernya

Pilihan Kerim Alajbegovic pada akhirnya bukan cerita sederhana mengenai seorang pemain yang lebih menyukai Juventus daripada Chelsea. Keputusan tersebut memperlihatkan bagaimana pemain muda mulai mempertimbangkan jalur menuju lapangan sebagai bagian terpenting ketika memilih klub besar berikutnya.

Juventus menang karena mampu memberikan gambaran peran, investasi besar, kepercayaan Luciano Spalletti, dukungan Miralem Pjanic, serta lingkungan yang membantu proses adaptasi. Chelsea memiliki daya tarik Premier League, tetapi Alajbegovic tampaknya melihat Turin sebagai tempat yang lebih tepat untuk tumbuh sekarang.

Risikonya tentu tetap besar karena banderol mencapai puluhan juta euro membuat kesabaran publik Juventus tidak akan berlangsung tanpa batas. Kerim Alajbegovic harus mengubah potensi, 13 gol bersama Salzburg, dan pengalaman Piala Dunia menjadi kontribusi nyata dalam pertandingan kompetitif.

Namun, jika keputusan tersebut menghasilkan menit bermain dan perkembangan seperti yang diharapkannya, menolak Chelsea bisa dikenang sebagai momen penting dalam kariernya. Kerim Alajbegovic tidak memilih klub yang sekadar menginginkannya, melainkan klub yang berhasil membuatnya merasa benar-benar dibutuhkan.

Scr/Mashable





Don't Miss