Kabar mengejutkan datang dari Anfield. Kapten utama Liverpool, Virgil Van Dijk, dilaporkan sangat tidak bahagia dan kecewa berat setelah mengetahui rencana manajemen klub yang ingin menjualnya pada bursa transfer musim panas ini.
Langkah ini diambil The Reds seiring kontrak bek veteran tersebut yang menyisakan 12 bulan terakhir.
Manajemen Liverpool kabarnya sangat berharap ada tawaran konkret yang datang dari klub-klub Saudi Pro League maupun kompetisi Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat. Rumor panas ini diungkapkan secara eksklusif oleh mantan Chief Executive Officer (CEO) Everton, Keith Wyness.
Wyness menilai, kepindahan ke MLS bisa menjadi opsi yang sangat masuk akal bagi pemain berusia 35 tahun tersebut di fase akhir kariernya.
Informasi ini mencuat di tengah laporan kuat bahwa manajemen Liverpool sedang mempertimbangkan secara serius untuk mendepak kapten mereka. Wyness menekankan bahwa Van Dijk dan agennya merasa “tidak dihargai” dengan rencana pengusiran ini.
Kekecewaan sang bek sangat mendasar, terutama setelah ia menunjukkan loyalitas tinggi dengan tampil penuh tanpa melewatkan satu menit pun di kompetisi Premier League musim lalu.
The Reds sendiri tampaknya sedang menggalakkan perombakan skuad secara radikal pada musim panas ini. Setelah resmi berpisah dengan dua pilar penting, Andy Robertson dan Mohamed Salah, kini giliran Virgil Van Dijk yang bersiap angkat kaki dari Anfield.
Manajer anyar Liverpool, Andoni Iraola, dilaporkan sedang berusaha keras menanamkan filosofi baru dan meremajakan skuad. Konsekuensinya, sejumlah pemain senior kaya pengalaman terpaksa dicoret dari proyek masa depan klub.
Meski demikian, Liverpool diprediksi tidak akan mudah melepas Van Dijk ke Timur Tengah. Wyness, yang pernah memimpin Everton pada periode 2004–2009 dan kini aktif mengelola perusahaan konsultan sepak bola, menilai pasar Arab Saudi kini jauh lebih selektif.
Klub-klub Saudi Pro League mulai mengubah strategi transfer mereka dengan menghindari pembelian pemain gaek berbiaya selangit, meskipun pemain tersebut memiliki nama besar.
“Saya yakin manajemen Liverpool berharap Arab Saudi datang mengetuk pintu. Namun, pasar Saudi saat ini tampak jauh lebih ketat untuk pemain yang sudah berumur. Amerika Serikat (MLS) bisa menjadi alternatif yang layak,” ujar Wyness dalam podcast Inside Track milik Football Insider.
“Tapi saya rasa Virgil tidak akan senang karena dia dipaksa mencari jalan keluar. Agennya harus bekerja ekstra keras. Tidak banyak klub di luar sana yang sanggup memenuhi tuntutan paket kontrak dan gaji sebesar yang ia minta,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wyness membocorkan bahwa Liverpool hampir mustahil mendapatkan dana besar dari penjualan Van Dijk. Di pasar transfer saat ini, nilai jual sang bek diperkirakan tidak akan lebih dari £10 juta (sekitar Rp244 miliar).
Faktor usia yang sudah menginjak 35 tahun dan situasi kontrak yang menyisakan satu tahun menjadi titik lemah Liverpool dalam posisi tawar. Di sisi lain, kubu Merseyside Merah sama sekali tidak sudi kehilangan sang pemain secara gratis tahun depan.
Oleh karena itu, manajemen The Reds dilaporkan siap menerima tawaran apa pun yang berada di atas angka £10 juta pada musim panas ini. Bagi klub, nominal tersebut sudah dianggap sebagai sebuah keuntungan besar karena berhasil memotong beban gaji raksasa pemain asal Belanda itu.
Virgil Van Dijk telah mengukir sejarah dan memberikan tahun-tahun terbaiknya untuk Liverpool. Namun kini, ia harus menerima kenyataan pahit berada di ambang pintu keluar Anfield sebagai korban revolusi skuad berikutnya.
Scr/Mashable















