Musim tanpa gelar yang dialami Real Madrid saat ini bukan sekadar cerminan masalah teknis di atas lapangan. Lebih dari itu, kegagalan ini menyingkap retakan besar dalam kebijakan transfer yang selama ini menjadi kebanggaan klub raksasa Spanyol tersebut.
Kekalahan telak dari Barcelona di Camp Nou menjadi titik nadir yang secara praktis menutup perjalanan Real Madrid di musim 2025/26. Namun, yang memicu perdebatan panas di media Spanyol bukanlah sekadar skor akhir, melainkan komposisi skuad yang diturunkan oleh sang pelatih.
Dalam laga paling krusial musim ini, hanya satu dari enam pemain baru yang didatangkan sejak musim panas 2024 yang tampil sebagai starter, yakni Trent Alexander-Arnold. Bek asal Inggris tersebut diboyong dari Liverpool dengan biaya sekitar 8 juta euro demi mengejar pendaftaran FIFA Club World Cup.
Sementara itu, deretan pemain berbiaya fantastis lainnya seperti Dean Huijsen, Alvaro Carreras, hingga Franco Mastantuono hanya menghuni bangku cadangan. Padahal, total investasi yang dikucurkan Real Madrid untuk memboyong ketiganya menembus angka 170 juta euro (sekitar Rp2,9 triliun).
Laporan dari media ternama AS menyebutkan bahwa ini adalah sinyal nyata bahwa Real Madrid mulai kehilangan efektivitas yang selama ini menjadikan mereka kiblat di pasar transfer pemain.
Kehilangan Sentuhan Emas
Selama bertahun-tahun, Los Blancos seolah memiliki “sentuhan mendaras” dalam urusan transfer strategis. Nama-nama seperti Vinicius Junior, Rodrygo, Federico Valverde, Thibaut Courtois, hingga Aurelien Tchouameni sukses bertransformasi menjadi pilar tim tak lama setelah tiba di Bernabeu.
Puncaknya terjadi pada bursa transfer musim panas 2023, di mana manajemen Madrid melakukan langkah yang hampir sempurna. Jude Bellingham didatangkan dengan nilai lebih dari 100 juta euro dan langsung menjadi megabintang.
Arda Guler menunjukkan potensi besar, sementara Joselu hadir sebagai pelapis yang sangat efektif. Hasilnya? Madrid sukses mengawinkan gelar La Liga dan Liga Champions musim 2023/24.
Paradoks Kylian Mbappe
Namun, dua jendela transfer terakhir memberikan kesan yang jauh berbeda. Kylian Mbappe sejatinya tetap menunjukkan ketajamannya dengan catatan gol yang impresif sejak bergabung secara gratis. Namun, sebuah paradoks muncul: Real Madrid justru harus puasa gelar selama dua musim berturut-turut sejak kedatangan sang superstar Prancis tersebut.
Masalahnya bukan terletak pada Mbappe secara individu, melainkan cara Madrid membangun tim di sekelilingnya. Klub dinilai kehilangan keseimbangan yang sebelumnya membawa mereka mendominasi Eropa. Lini serang kini dipenuhi bintang-bintang besar namun minim koneksi, sementara posisi krusial lainnya justru luput dari peningkatan kualitas yang memadai.
Nasib Endrick menjadi contoh nyata dari ketidakefektifan ini. Talenta muda Brasil itu hampir tidak mendapatkan kesempatan pamer kemampuan sebelum akhirnya “dibuang” ke Lyon dengan status pinjaman. Investasi sebesar 60 juta euro untuk pemain berusia 19 tahun itu pun hingga kini belum memberikan nilai yang sepadan bagi klub.
Krisis Kepercayaan di Manajemen
Tekanan kini mulai mengarah tajam kepada Jose Angel Sanchez dan Juni Calafat, dua aktor utama di balik layar transfer Real Madrid. Mereka yang dulu dipuja karena kemampuan mengendus bakat-bakat terbaik, kini mulai menghadapi keraguan besar.
Tentu saja, Huijsen, Alvaro Carreras, maupun Mastantuono masih sangat muda dan memiliki waktu untuk membuktikan kualitas mereka. Namun, di level sepak bola setinggi Real Madrid, kesabaran adalah barang mewah yang jarang tersedia dalam waktu lama.Musim tanpa gelar selalu berujung pada evaluasi besar-besaran.
Kali ini, publik Santiago Bernabeu mulai mempertanyakan kebijakan transfer yang awalnya digadang-gadang akan membuka era baru bagi masa depan klub.
Scr/Mashable
















