Arsenal disebut-sebut sebagai salah satu tim yang paling diuntungkan oleh teknologi Video Assistant Referee (VAR) di Liga Inggris musim ini.
Berdasarkan studi terbaru dari AceOdds, posisi The Gunners di puncak klasemen saat ini mungkin akan sangat berbeda jika VAR tidak pernah ada.
Jika hasil pertandingan tidak diintervensi oleh asisten wasit video, Manchester City seharusnya berada dalam posisi yang lebih menguntungkan dengan selisih hanya satu poin di bawah Arsenal, namun masih mengantongi satu tabungan pertandingan.
Bukti paling nyata dari “bantuan” VAR ini terjadi saat Arsenal menumbangkan West Ham di pekan ke-36 Liga Inggris 2025/2026, 10 Mei lalu. Pada menit ke-90+5, Callum Wilson berhasil menggetarkan jala gawang Arsenal.
Namun, gol tersebut dianulir VAR karena kiper David Raya dianggap dilanggar lebih dulu. Hasilnya, Arsenal tetap mengamankan tiga poin dan menjaga keunggulan 5 poin atas rival terdekat mereka, Man City.
Pergeseran Peta Persaingan Eropa
Sistem VAR juga mengubah wajah papan tengah dan perburuan tiket kompetisi Eropa secara signifikan. Studi tersebut mengungkapkan bahwa Brighton seharusnya mengantongi tambahan 7 poin dan menduduki peringkat ke-4 jika tanpa VAR.
Sementara itu, Bournemouth bakal meroket ke peringkat 5. Sebaliknya, Aston Villa dan Liverpool justru mengalami penurunan peringkat yang drastis jika poin-poin yang mereka dapatkan dari keputusan VAR dihapus.
Di zona degradasi, Nottingham Forest menjadi tim yang paling “selamat” berkat teknologi ini dengan tambahan 6 poin. Di sisi lain, Tottenham Hotspur justru harus kehilangan 4 poin dan terancam terjerumus ke zona bahaya jika VAR tidak melakukan intervensi dalam pertandingan-pertandingan mereka.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa skuad asuhan Pep Guardiola seharusnya bisa menjadi juara dengan selisih 2 poin jika Liga Inggris dijalankan tanpa bantuan video asisten wasit. Namun, pada realitanya, Arsenal kini tetap memegang kendali penuh atas nasib mereka sendiri untuk menyudahi puasa gelar selama 22 tahun.
Arsenal Kini Punya “Keberuntungan” Sang Calon Juara
Arsenal semakin dekat dengan takhta juara Premier League lewat sebuah keputusan VAR yang sangat kontroversial. Ironisnya, mereka justru diselamatkan oleh teknologi yang selama bertahun-tahun sering mereka kritik sendiri.
Menit ke-95 di London Stadium, seluruh nasib musim Premier League seolah dipadatkan dalam layar monitor VAR. West Ham baru saja menggetarkan jala gawang Arsenal. Stadion bergemuruh. Para pemain tuan rumah merayakan gol dengan emosi meluap, seolah baru saja menemukan harapan hidup.
Namun, wasit Chris Kavanagh melangkah ke tepi lapangan. Ia berdiri terpaku di depan monitor VAR selama beberapa menit, sebelum akhirnya menganulir gol Callum Wilson karena dianggap melakukan pelanggaran terhadap kiper David Raya.
Skor yang harusnya 1-1 kembali menjadi 0-1. Dari harapan West Ham, berubah menjadi keuntungan raksasa bagi Arsenal dalam pacuan gelar juara. Hanya dalam hitungan menit, julukan baru menggema di jagat media sosial Inggris: “VARsenal”.
Diselamatkan Oleh Hal yang Pernah Dibenci
Debat panas yang meledak bukan sekadar soal keputusan itu benar atau salah. Banyak pengamat mengakui ada kontak fisik terhadap Raya.
Masalahnya, Premier League musim ini telah menyaksikan banyak insiden serupa yang dibiarkan begitu saja oleh wasit. Terlebih, Arsenal sendiri dikenal sebagai tim yang kerap bermain fisik dan agresif dalam situasi bola mati.
Inilah ironi terbesarnya. Legenda kiper Peter Schmeichel bahkan angkat bicara, menyebut Arsenal tidak akan berada di puncak klasemen jika semua kontak fisik seperti itu dianggap pelanggaran.
Selama bertahun-tahun, skuad asuhan Mikel Arteta membangun kekuatan lewat situasi set-piece di mana pemain mereka sering menghalangi pergerakan lawan atau menciptakan kekacauan di kotak penalti. Namun kali ini, Arsenal justru “selamat” karena pandangan wasit bahwa kontak semacam itu adalah pelanggaran.
Sepak bola modern memang penuh dengan paradoks seperti ini.
Mikel Arteta tentu tidak ambil pusing. Ia menyebutnya sebagai “pelanggaran yang jelas” dan memuji keberanian tim VAR yang memberikan kesempatan bagi wasit untuk mengubah keputusan.
Di sisi lain, West Ham meradang. Jarrod Bowen menyindir bahwa jika VAR diperiksa cukup lama, wasit pasti akan selalu menemukan alasan untuk memberikan hukuman.
Menang dengan Cara Tim Juara
Jika mengesampingkan drama VAR, Arsenal sebenarnya memang layak menang. Sebagian besar laga dikendalikan oleh taktik Arteta. Declan Rice tampil luar biasa saat bereuni dengan mantan klubnya, dan Leandro Trossard kembali menunjukkan taji di momen krusial.
Yang paling penting, Arsenal kini menunjukkan kualitas yang selama ini absen: kemampuan untuk “bertahan hidup”. Musim lalu, mereka sering hancur saat tekanan mencapai puncaknya. Mereka bermain indah, tapi kurang tangguh saat laga menjadi kacau.
Sekarang, Arsenal mulai menang dengan cara tim juara sejati. Mereka tahu cara menahan tekanan, cara melewati pertandingan yang “jelek”, dan terkadang, mereka tahu cara memanfaatkan keberuntungan. Inilah pembeda besarnya.
Tidak ada tim yang menjuarai Premier League hanya dengan sepak bola indah semata. Manchester City asuhan Pep Guardiola atau Liverpool racikan Jurgen Klopp pun pernah merasakan keuntungan dari momen kontroversial.
Arsenal kini memasuki wilayah tersebut. Sejarah mungkin akan mencatat debat panjang soal gol West Ham yang dianulir dan sebutan “VARsenal”. Namun, sejarah sepak bola tidak pernah mengingat bagaimana cara sebuah tim menang secara detail.
Dunia hanya akan mengingat siapa yang mengangkat trofi di akhir musim. Dan saat ini, Arsenal sudah sangat dekat dengan momen itu.
Scr/Mashable















