PT Pasifik Satelit Nusantara resmi mengoperasikan Satelit Nusantara Lima (N5) setelah sukses diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada September 2025 lalu.
Kehadiran Satelit N5 menjadi tonggak penting dalam memperkuat konektivitas digital nasional sekaligus mendukung kemandirian antariksa Indonesia.
Satelit berkapasitas terbesar di Asia ini diharapkan mampu memperluas akses internet berkualitas tinggi hingga ke wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T), sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri satelit regional.
Dukung Pemerataan Internet Nasional
Peresmian operasional Satelit N5 turut dihadiri oleh Meutya Hafid, sejumlah pejabat pemerintah, hingga perwakilan industri antariksa internasional.
Dalam sambutannya, Meutya Hafid menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati layanan internet yang merata, tidak hanya di wilayah perkotaan atau Pulau Jawa.
Menurutnya, saat ini konektivitas digital nasional baru menjangkau sekitar 80 persen populasi. Artinya, masih ada sekitar 20 persen masyarakat yang membutuhkan akses internet berkualitas.
“Keinginan kami agar seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk wilayah 3T, dapat menikmati layanan internet yang sama baiknya,” ujar Meutya.
Satelit Internet Terbesar di Asia
Satelit N5 hadir dengan spesifikasi Very High Throughput Satellite (VHTS) berkapasitas 160 Gbps. Teknologi ini memungkinkan distribusi internet dengan kapasitas besar dan kecepatan tinggi ke berbagai wilayah Indonesia hingga negara ASEAN seperti Malaysia dan Filipina.
Satelit ini menggunakan platform Boeing 702MP dan didukung 101 spot beam berbasis frekuensi Ka-band.
Menariknya, Satelit N5 juga memakai sistem propulsi hybrid yang menggabungkan propulsi kimia dan Xenon-Ion Propulsion System (XIPS). Teknologi ini disebut hingga 10 kali lebih efisien dibanding satelit konvensional.
Dengan bobot mencapai 7,8 ton, Satelit N5 dirancang memiliki masa operasional lebih dari 15 tahun.
Perkuat Kedaulatan Antariksa Indonesia
Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, menyebut operasional Satelit N5 bukan sekadar proyek bisnis, melainkan simbol penting kemandirian Indonesia di sektor antariksa.
Menurutnya, teknologi satelit kini menjadi salah satu indikator kekuatan bangsa dalam menjaga kepentingan nasional, terutama di era transformasi digital yang semakin pesat.
“Kita harus berani mengandalkan kapasitas nasional sendiri. Antariksa adalah simbol kedaulatan bangsa,” kata Adi Rahman.
Indonesia sendiri kini tercatat sebagai pemain terbesar industri satelit internet di Asia dengan total kapasitas mencapai 403 Gbps.
Dilengkapi 7 Stasiun Bumi di Indonesia
Untuk mendukung layanan internet berbasis satelit, PSN telah menyiapkan tujuh stasiun bumi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, hingga Kupang.
Distribusi stasiun bumi ini dirancang agar konektivitas internet dari Satelit N5 dapat menjangkau kawasan Indonesia Barat, Tengah, hingga Timur secara optimal.
Keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, ekonomi digital, hingga pertahanan dan keamanan nasional.
PSN Perkenalkan Cerdiq, Internet Satelit Buatan Lokal
Selain meresmikan operasional Satelit N5, PSN juga memperkenalkan layanan internet berbasis satelit terbaru bernama Cerdiq.
Cerdiq merupakan user terminal hasil pengembangan tim Research & Development PSN dengan konsep sederhana dan ringan. Produk ini nantinya akan menggunakan konektivitas Satelit N5.
PSN menyebut pengembangan Cerdiq menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sekaligus memperkuat daya saing produk teknologi Indonesia di pasar global.
Beroperasinya Satelit N5 menandai langkah besar Indonesia dalam memperkuat infrastruktur digital nasional berbasis teknologi antariksa.
Scr/Mashable

















