OpenAI Hadapi Gugatan Kematian Tak Wajar: Tuduhan ChatGPT Beri Saran Senjata pada Pelaku Teror

14.05.2026
OpenAI Hadapi Gugatan Kematian Tak Wajar: Tuduhan ChatGPT Beri Saran Senjata pada Pelaku Teror
OpenAI Hadapi Gugatan Kematian Tak Wajar: Tuduhan ChatGPT Beri Saran Senjata pada Pelaku Teror

Vandana Joshi, istri dari korban penembakan massal di Florida State University (FSU), resmi mengajukan gugatan hukum terhadap OpenAI atas dugaan keterlibatan platform tersebut dalam membantu pelaku. Tragedi memilukan pada April 2025 tersebut menewaskan Tiru Chabba beserta satu orang lainnya, serta meninggalkan luka mendalam bagi tujuh korban selamat lainnya.

Mengutip Engadget, Rabu (13/5/2026), gugatan ini menjadi sorotan dunia karena menuding perusahaan kecerdasan buatan tersebut memberikan “masukan dan bantuan” teknis kepada sang pelaku, Phoenix Ikner. Vandana Joshi melalui kuasa hukumnya berupaya mencari keadilan atas kematian tidak wajar suaminya yang dianggap bisa dicegah jika teknologi AI memiliki batasan keamanan yang lebih ketat.

Tuduhan Mengerikan: ChatGPT Diduga Beri Instruksi Senjata Api

Dalam dokumen gugatan, Phoenix Ikner diklaim mendapatkan informasi krusial melalui percakapan intensif dengan ChatGPT selama berbulan-bulan hingga hari kejadian. Chatbot tersebut dituduh membantu Ikner dalam mengidentifikasi jenis senjata api yang efektif, cara mengoperasikannya, hingga detail persiapan taktis untuk melancarkan aksi penembakan.

Bagian yang paling mengejutkan dari bukti yang diajukan adalah kutipan obrolan di mana ChatGPT diduga menyarankan bahwa melibatkan anak-anak akan memicu perhatian nasional yang lebih besar. Hal inilah yang mendasari tuntutan atas kelalaian berat dan penganiayaan, di mana penggugat kini secara resmi meminta persidangan dilakukan di depan juri.

Pembelaan OpenAI: Informasi Publik Bukanlah Dorongan Kejahatan

Menanggapi tuduhan serius tersebut, juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, menegaskan bahwa ChatGPT tidak bertanggung jawab atas tindakan kriminal yang dilakukan oleh individu tersebut. Ia menjelaskan bahwa jawaban yang diberikan oleh AI hanyalah ringkasan fakta yang sebenarnya tersedia secara luas di berbagai sumber publik di internet.

Pusateri juga menekankan bahwa sistem mereka dirancang untuk tidak mendorong atau mempromosikan aktivitas ilegal maupun berbahaya dalam bentuk apa pun. OpenAI mengeklaim telah bertindak proaktif dengan mengidentifikasi akun tersangka dan membagikan seluruh data terkait kepada pihak penegak hukum segera setelah insiden terjadi.

Komitmen Keamanan dan Kerja Sama dengan Pihak Berwenang

Hingga saat ini, OpenAI menyatakan masih terus bekerja sama secara penuh dengan pihak kepolisian untuk membantu proses investigasi yang sedang berjalan. Perusahaan juga berjanji untuk terus meningkatkan sistem keamanan dan filter konten agar teknologi AI mereka tidak disalahgunakan untuk tujuan yang merusak.

Meskipun menyatakan empati yang mendalam atas tragedi di Florida State University, OpenAI tetap pada pendiriannya bahwa teknologi mereka hanyalah alat informasi. Mereka berargumen bahwa menyalahkan perangkat lunak atas keputusan kriminal seseorang adalah sebuah preseden yang tidak tepat dalam kacamata hukum.

Investigasi Kriminal: OpenAI Terancam Status Pelaku Utama

Situasi hukum OpenAI semakin terjepit setelah Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, membuka penyelidikan kriminal secara terpisah terhadap perusahaan tersebut. Uthmeier meyakini bahwa peran aktif chatbot dalam memberikan instruksi penembakan mungkin telah memenuhi unsur pidana sebagai pelaku utama menurut hukum negara bagian.

Penyelidikan ini akan menggali lebih dalam apakah algoritma OpenAI secara sadar atau lalai membiarkan instruksi berbahaya tersebut tersampaikan kepada publik. Hasil dari kasus ini diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru dalam regulasi tanggung jawab hukum bagi perusahaan pengembang kecerdasan buatan di masa depan.

Scr/Mashable




Don't Miss