Barcelona Tersingkir dari Liga Champions karena Hilangnya Sosok Pemain yang Kikuk dan lambat

16.04.2026
Barcelona Tersingkir dari Liga Champions karena Hilangnya Sosok Pemain yang Kikuk dan lambat
Barcelona Tersingkir dari Liga Champions karena Hilangnya Sosok Pemain yang Kikuk dan lambat

Kekalahan Barcelona 2-3 dari Atletico Madrid di perempat final Liga Champions 2025/2026 meninggalkan banyak konsekuensi yang menggugah pikiran.

Pada leg kedua di kandang lawan, tim asuhan Hansi Flick hanya mampu meraih kemenangan tipis 2-1, hasil yang jauh dari cukup untuk membalikkan kekalahan 0-2 di leg pertama. Namun, melihat bagaimana mereka runtuh, para penggemar akan menyadari kelemahan besar dalam sistem taktik mereka yang telah lama gagal diatasi oleh tim tersebut.

Dominasi Penuh Tidak Akan Mengisi Kekosongan yang Ada

Di kandang Atletico Madrid, Barcelona menampilkan performa yang benar-benar dominan. Sepanjang 90 menit, mereka mengontrol penguasaan bola sebesar 71%, dan angka ini bahkan mencapai 78% di babak kedua.

Tim tamu melepaskan total 15 tembakan dengan expected goals (xG) sebesar 2,28. Pencetakan 2 gol mereka merupakan hasil yang sangat wajar mengingat kejadian sebenarnya.

Namun, pertahanan tim Catalan tersebut memperlihatkan celah yang sangat besar. Kelemahan terbesar mereka terletak pada pertahanan terhadap serangan balik.

Meskipun menguasai bola jauh lebih sedikit, Atletico masih berhasil melepaskan 15 tembakan ke gawang. Metrik expected goals tim tuan rumah adalah 1,78, yang berarti mencetak hanya satu gol masih relatif sedikit mengingat peluang jelas yang tercipta.

Kelengahan di lini pertahanan membuat gawang Barcelona terus-menerus terancam. Oleh karena itu, tersingkir dari turnamen tak terhindarkan, dan tim bergaris merah dan biru itu tidak punya alasan untuk mengeluh atau menyesal.

Di lini serang, Lamine Yamal semakin menunjukkan performa yang gemilang, membuktikan bahwa ia layak mengenakan nomor punggung 10, seperti yang pernah dilakukan Lionel Messi sebelumnya. Namun, Messi memiliki rekan setim yang lambat namun dapat diandalkan, yang saat ini belum dimiliki Yamal.

Kelambatan Seorang “Pemain Terhormat yang Dapat Diandalkan”

Yang paling dibutuhkan sistem Barcelona saat ini adalah gelandang bertahan kelas atas, seseorang yang mampu mengontrol tempo seperti yang biasa dilakukan Sergio Busquets. Sepanjang era keemasan klub, Busquets sering dianggap sebagai pemain yang paling kurang menonjol, bahkan dipandang canggung dan lambat ketika bermain bersama para jenius penyerang seperti Lionel Messi, Xavi, atau Iniesta.

Namun, justru kelambatan, pengendalian diri, dan ketenangannya itulah yang menjadi andalan terpentingnya. Ia berperan sebagai “pria terhormat yang dapat diandalkan,” berdiri di tempat yang tepat untuk mencegat bola, menyingkirkan potensi ancaman sejak awal, dan menjaga persatuan tim.

Berkat kemampuan Busquets dalam membaca permainan dan ketenangannya dalam melindungi lini belakang, para bintang penyerang di lini depan memiliki cukup kebebasan untuk beraksi dan menciptakan kekacauan tanpa khawatir akan terekspos. Gaya permainan penguasaan bola yang terkenal, yang membawa mereka meraih tiga gelar Liga Champions pada tahun 2009, 2011, dan 2015, sangat bergantung pada performa puncaknya.

Barcelona saat ini memiliki pemain-pemain berbakat di lini tengah seperti Gavi dan Pedri. Kedua pemain muda ini sangat serbaguna, memiliki teknik individu yang luar biasa, dan dapat melampaui Busquets dalam kemampuan eksplosif. Namun, mereka kurang memiliki ketenangan dan kemudahan yang banyak orang salah artikan sebagai kecanggungan pada rekan setim senior mereka.

Duet Gavi-Pedri berfungsi seperti mesin dua tak. Mereka mendorong tempo permainan hingga mencapai puncaknya, berlari kencang di babak pertama dan dengan cepat mencetak dua gol. Kelemahan fatal mereka adalah ketidakmampuan untuk memperlambat permainan, mencegah tim bermain aman ketika diperlukan. Tempo tinggi yang konsisten membuat celah di pertahanan mereka terbuka.

Akibatnya, Barcelona menderita serangan balik yang menyakitkan, yang berujung pada gol penentu Ademola Lookman, atau serangan balik Alexander Sorloth yang memaksa Eric Garcia melakukan pelanggaran dan menerima kartu merah. Kurangnya pemain yang tahu cara memperlambat permainan adalah alasan mengapa tim Spanyol mendorong diri mereka sendiri ke ambang kekalahan. Ini akan menjadi penyebab kekhawatiran bagi Spanyol di Piala Dunia 2026.

Scr/Mashable





Don't Miss