Gelaran Piala Dunia 2026 memang belum resmi dimulai, namun tensi tinggi sudah mulai dirasakan di dunia kerja. Bukan karena persaingan bisnis, melainkan karena para bos di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kini tengah dilanda kecemasan massal.
Mereka pusing memikirkan taktik menghadapi gelombang karyawan yang diprediksi bakal bolos kerja, mendadak “izin sakit”, atau nekat nonton bola diam-diam di kubikal kantor.
Sebagai informasi, pesta sepak bola terbesar di jagat raya ini akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Untuk pertama kalinya, turnamen ini akan menggelar 104 pertandingan di tiga negara tuan rumah.
Masalahnya, perbedaan waktu dan jadwal tanding yang jatuh pada jam kerja efektif (jam kantor) berpotensi mengubah musim panas ini menjadi “ujian berat” bagi produktivitas perusahaan.
Bukan main-main, sebuah estimasi yang dikutip dari Business Insider menyebutkan bahwa aksi nekat karyawan yang mencuri waktu kerja demi nonton bola bisa memicu kerugian besar. Khusus di Amerika Serikat saja, penurunan produktivitas ini diproyeksi bisa membakar uang perusahaan hingga mencapai 4,5 miliar dolar AS (sekitar Rp80 triliun)!
Sepak Bola yang Mengacaukan Jam Kantor
Kekhawatiran para petinggi perusahaan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan survei ketenagakerjaan terbaru, banyak pekerja yang memang sudah menyusun strategi untuk mencocokkan jadwal kerja mereka dengan jadwal pertandingan negara jagoan mereka.
Ada yang berencana mengambil jatah cuti, ada pula yang bersiap mencari alasan medis demi bisa absen jika mendadak mendapatkan tiket pertandingan di menit-menit akhir (last-minute ticket).
Survei yang dirilis oleh UKG—perusahaan perangkat lunak manajemen SDM—terhadap 8.000 pekerja di 8 negara menunjukkan data yang mencengangkan. Sepertiga responden mengaku kemungkinan besar akan mengambil libur minimal satu hari penuh selama Piala Dunia.
Sementara itu, seperempatnya berencana “menghilang” di tengah-tengah jam kerja, dan 37% sisanya bersiap memutar otak untuk menggeser jadwal kerja mereka.
Menariknya, kelonggaran ini justru paling banyak dilakukan oleh level manajemen. Suresh Vittal, selaku Chief Product Officer di UKG, menyebutkan bahwa para manajer atau bos justru merasa memiliki kendali lebih besar atas waktu mereka untuk ikut menikmati euforia ini.
Dampaknya pun bervariasi di tiap negara. Di Meksiko, sebanyak 42% pekerja blak-blakan berencana mengambil libur minimal sehari. Di AS, lebih dari sepertiga pekerja berniat bolos di sebagian jam kerja mereka.
Sementara di Inggris, nuansanya lebih ekstrem; 52% warganya menuntut agar pemerintah memberikan hari libur nasional jika tim nasional mereka keluar sebagai juara dunia.
Bagi pencinta bola garis keras, Piala Dunia bukan cuma soal mencuri waktu satu atau dua jam. James Lewis (37), seorang pekerja di bidang layanan pelanggan asal Inggris, mengaku rela mengambil cuti penuh selama dua minggu pertama turnamen.
Karena perbedaan zona waktu, banyak laga yang tayang di malam hari tempatnya tinggal.
“Saya mending begadang semalaman lalu tidur seharian. Kalau dipaksakan masuk kerja, saya pasti bakal linglung seperti zombie di kantor,” seloroh James.
Ia bahkan sudah memesan slot cuti untuk hari final, jaga-jaga jika Timnas Inggris berhasil lolos ke partai puncak.
Siasat Perusahaan Hadapi Karyawan ‘Sakit’
Menghadapi fenomena ini, para pemilik perusahaan tidak tinggal diam. Marissa Mastroianni, seorang pengacara ketenagakerjaan di firma Cole Schotz di New Jersey, AS, mengingatkan bahwa kemacetan lalu lintas akan menjadi musuh utama di 11 kota penyelenggara di AS.
Pada hari H pertandingan, mobilitas warga akan lumpuh.
“Jika jenis pekerjaannya memungkinkan, memberikan izin kerja dari rumah (Work from Home/WFH) adalah solusi yang jauh lebih bijak daripada membiarkan karyawan terjebak macet, datang terlambat, atau pulang lebih cepat,” urai Marissa.
Bagi industri yang menuntut kehadiran fisik (tidak bisa WFH), perusahaan mulai memutar otak dengan menyediakan fasilitas makan siang di tempat, layanan jemputan karyawan, hingga penyesuaian giliran kerja (shift) demi menekan potensi absensi.
Lalu, bagaimana jika ada karyawan yang mendadak menelepon dan mengaku “sakit” tepat di hari laga besar? Ternyata, perusahaan juga tidak bisa sembarangan menuntut bukti.
Di beberapa negara bagian AS seperti New Jersey dan New York, aturan hukum membatasi hak perusahaan untuk meminta surat dokter jika karyawannya hanya absen kurang dari tiga hari berturut-turut.
Alhasil, banyak perusahaan yang mau tidak mau harus pasrah menerima alasan “sakit misterius” tersebut selama musim Piala Dunia.
Mengubah Sakit Kepala Menjadi Ruang Kebersamaan
Meski bikin pusing, tidak semua pihak melihat Piala Dunia sebagai ancaman. Lindsay Bousman, Wakil Presiden Budaya dan Keberhasilan Talenta di Dayforce, menilai momen ini justru bisa dimanfaatkan sebagai ajang mempererat solidaritas internal perusahaan.
Ketimbang membiarkan karyawan bermain “kucing-kucingan” dengan menonton pertandingan secara sembunyi-sembunyi di bawah meja atau lewat ponsel, perusahaan disarankan untuk merangkul euforia tersebut.
“Perusahaan bisa menggelar acara nonton bareng (nobar) resmi di kantor, memberikan jam kerja yang fleksibel, atau membuat kompetisi internal yang berkaitan dengan Piala Dunia. Pengorbanan dua jam waktu kerja untuk nonton bersama bisa dibayar tuntas dengan meningkatnya rasa kebersamaan, kesehatan mental yang segar, serta loyalitas karyawan yang lebih tinggi terhadap kantor,” pungkas Lindsay.
Dengan keterlibatan 48 tim nasional, 104 pertandingan, dan miliaran pasang mata yang menonton di seluruh dunia, badai Piala Dunia 2026 dipastikan akan mengguncang rutinitas perkantoran. Karena membendung antusiasme karyawan adalah hal yang mustahil, kunci utama bagi para bos saat ini hanyalah satu: bersiap fleksibel sejak dini agar tidak kaget saat kantor mendadak sepi.
Scr/Mashable


















