Gara-gara Arsenal, FIFA Bakal Terapkan Aturan Baru yang Lebih Kejam di Piala Dunia 2026

19.05.2026
Gara-gara Arsenal, FIFA Bakal Terapkan Aturan Baru yang Lebih Kejam di Piala Dunia 2026
Gara-gara Arsenal, FIFA Bakal Terapkan Aturan Baru yang Lebih Kejam di Piala Dunia 2026

FIFA siap mengambil langkah radikal demi menjaga sportivitas di lapangan. Induk sepak bola dunia itu dilaporkan tengah mempersiapkan regulasi khusus untuk Piala Dunia 2026 guna memberantas habis aksi tarik baju dan dorong-mendorong di dalam kotak penalti sebelum bola ditendang.

Menurut laporan media Inggris, para petinggi FIFA kini sedang merumuskan instruksi baru bagi korps baju hitam di Piala Dunia 2026. Langkah ini diambil setelah mengamati rentetan kontroversi yang terjadi di kompetisi Premier League musim ini.

Poin paling krusial dari aturan baru ini adalah wewenang penuh bagi wasit untuk langsung meniup peluit pelanggaran, bahkan sebelum bola dalam situasi sepak pojok atau tendangan bebas resmi bergulir.

Efek Taktik Licik Arsenal

Rencana perubahan regulasi ini mencuat tidak lama setelah insiden gol penyeimbang Callum Wilson dalam laga West Ham United melawan Arsenal dibatalkan oleh VAR. Gol tersebut dianulir karena adanya pelanggaran fisik terhadap penjaga gawang Arsenal, David Raya.

Sepanjang musim ini, Arsenal memang dikenal sering menerapkan taktik khusus yang mengganggu pergerakan kiper lawan demi menciptakan keuntungan dalam situasi bola mati.

FIFA menegaskan tidak ingin Piala Dunia berubah menjadi “arena gulat” yang dipenuhi aksi tarik-menarik dan blokade pemain yang kacau di area terlarang. Oleh karena itu, seluruh wasit yang bertugas di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada nanti diinstruksikan untuk bertindak jauh lebih tegas.

Jika regulasi ini resmi disahkan, tim yang melanggar bisa langsung dijatuhi sanksi penalti, tendangan bebas, hingga kartu kuning atau kartu merah, meskipun bola belum ditendang. Ini merupakan perombakan besar-besaran, mengingat hukum sepak bola saat ini hanya mengizinkan wasit menjatuhkan sanksi disiplin untuk pelanggaran non-kekerasan setelah bola bergulir.

Video Assistant Referee (VAR) juga akan diberi tugas tambahan untuk memantau secara jeli setiap pergerakan ilegal tanpa bola. Sebagai bahan evaluasi, FIFA bahkan mengambil contoh dari laga persahabatan antara Inggris dan Uruguay pada Maret lalu. Kala itu, gol Ben White tetap disahkan meski didahului benturan fisik antara Adam Wharton dan bek Uruguay, Jose Maria Gimenez.

Anggota Kelompok Studi Teknis FIFA, Pascal Zuberbuhler, mengakui bahwa wasit dituntut untuk lebih galak dalam meredam tren duel fisik yang semakin brutal di dalam kotak penalti.

Meski bertujuan baik, keputusan untuk mengubah implementasi aturan secara mendadak—hanya kurang dari sebulan sebelum kick-off Piala Dunia 2026—dipastikan akan memicu gelombang perdebatan sengit di jagat sepak bola internasional.

FIFA Akan Ubah Aturan kartu Kuning di Piala Dunia 2026

Tak hanya itu, Piala Dunia 2026 akan menerapkan serangkaian perubahan besar, terutama sistem kartu kuning baru yang bertujuan untuk mencegah pemain bintang absen di semifinal karena skorsing.

Penambahan 16 tim lagi berarti akan ada lebih banyak pertandingan di Piala Dunia 2026, yang juga berarti risiko lebih besar bagi pemain untuk diskors karena mengumpulkan kartu kuning.

Menurut rencana baru, FIFA akan menerapkan dua periode penghapusan kartu kuning dalam turnamen. Periode pertama akan berlangsung setelah babak penyisihan grup, dan yang kedua setelah perempat final. Ini adalah solusi untuk membatasi jumlah pemain bintang yang absen di semifinal hanya karena mereka telah mengumpulkan cukup banyak kartu dalam beberapa pertandingan.

Pada Piala Dunia sebelumnya, pemain yang menerima dua kartu kuning sebelum semifinal akan diskors satu pertandingan. Dengan format baru, jika aturan lama tetap berlaku, seorang pemain bisa harus bermain hingga lima pertandingan sebelum semifinal, yang secara signifikan meningkatkan risiko skorsing. FIFA mempertimbangkan untuk menaikkan ambang batas menjadi tiga kartu kuning, tetapi opsi untuk menghapus dua kartu kuning dianggap lebih masuk akal.

Namun, pemain yang menerima kartu kuning dalam dua dari tiga pertandingan babak penyisihan grup tetap akan dikenai sanksi skorsing satu pertandingan. Demikian pula, jika seorang pemain menerima dua kartu kuning di babak gugur dari babak 32 besar hingga perempat final, sanksi tersebut tetap berlaku.

Selain masalah kartu kuning dan merah, FIFA juga ingin mempercepat tempo permainan. Pemain hanya memiliki waktu 5 detik untuk melakukan lemparan ke dalam atau tendangan gawang. Pemain pengganti harus meninggalkan lapangan dalam waktu 10 detik. Pemain yang membutuhkan perawatan medis di lapangan harus meninggalkan lapangan selama satu menit, kecuali jika lawan mendapat kartu kuning karena pelanggaran.

Poin penting lainnya adalah VAR akan memiliki kewenangan intervensi yang lebih luas, termasuk meninjau kartu kuning kedua dan bahkan situasi tendangan sudut yang kontroversial.

Scr/Mashable





Don't Miss