Paul Scholes Sebut Arsenal Juara Liga Inggris Terburuk, Statistik Malah Bongkar Dosa Masa Lalu Manchester United

22.05.2026
Paul Scholes Sebut Arsenal Juara Liga Inggris Terburuk, Statistik Malah Bongkar Dosa Masa Lalu Manchester United
Paul Scholes Sebut Arsenal Juara Liga Inggris Terburuk, Statistik Malah Bongkar Dosa Masa Lalu Manchester United

Komentar miring legenda Manchester United, Paul Scholes, mengenai Arsenal sempat mengguncang jagat sepak bola pada Januari 2026 lalu. Pernyataan tersebut viral, memicu perdebatan panas, dan tanpa disadari membangun sentimen negatif yang terus membayangi anak asuh Mikel Arteta di sepanjang sisa musim 2025/26.

Kala itu, Scholes melontarkan kritik pedas. Ia mengklaim bahwa andai Arsenal keluar sebagai juara, The Gunners berpotensi menjadi juara terburuk dalam sejarah Premier League. Mantan gelandang Setan Merah itu menilai lini serang armada Arteta sangat minim pemain depan yang benar-benar berkelas dunia.

Ucapan Scholes langsung memantik pro-kontra. Kini, setelah kompetisi resmi berakhir dan trofi Premier League 2025/26 resmi mendarat di Emirates Stadium, sebuah pertanyaan besar pun muncul ke permukaan: Apakah performa Arsenal memang seburuk itu hingga layak dilabeli sebagai juara paling semenjana sepanjang sejarah liga?

Arsenal Tidak Seburuk Itu!

Untuk menjawab skeptisisme tersebut, kita harus menyingkirkan faktor sentimen subjektif dan murni membedah data di lapangan. Perbandingan yang adil antar-juara dari berbagai era bisa dilihat melalui lima indikator dasar: jumlah poin, total kemenangan, jumlah kekalahan, produktivitas gol, serta rekor kebobolan.

Dari aspek perolehan poin, Arsenal musim 2025/26 sama sekali tidak berada di posisi terbawah. Mereka bahkan menempati peringkat kedelapan dalam daftar juara dengan poin terendah sepanjang sejarah Premier League.

Catatan ini pun masih bisa membaik mengingat Meriam London masih menyisakan satu laga pamungkas kontra Crystal Palace.

Menariknya, rekor torehan poin terendah saat menjadi juara justru bukan milik Arsenal, melainkan klub yang pernah dibela Scholes sendiri. Manchester United musim 1996/97 sukses mengangkat trofi dengan koleksi hanya 75 poin.

Sebuah ironi yang menggelitik, mengingat sosok yang melempar kritik justru merupakan bagian dari skuad yang memegang rekor statistik terburuk di kategori ini.

Dalam hal jumlah kemenangan, skuad besutan Arteta bertengger di peringkat ke-11 dengan raihan 25 kemenangan. Angka ini menegaskan bahwa mereka jauh dari kelompok juara terburuk.

Rekor minor ini lagi-lagi dipegang oleh Manchester United era 1996/97. Bersama Scholes di lini tengah, The Red Devils kala itu hanya mampu mengamankan 21 kemenangan dari 38 pertandingan.

Beralih ke jumlah kekalahan, rapor Arsenal juga tidak berada di dasar sejarah. Saat ini, Bukayo Saka dan kolega baru menelan 5 kekalahan, masih lebih baik ketimbang Blackburn Rovers musim 1994/95 yang menderita 7 kekalahan saat juara.

Di sisi lain, Manchester United bahkan tercatat pernah tiga kali menjuarai liga dengan rapor 6 kali kalah dalam semusim.

Sorotan Tajam Lini Serang vs Tembok Kokoh Lini Pertahanan

Sektor penyerangan memicu kritik paling tajam bagi Arsenal musim ini. Lini depan mereka dinilai kurang meledak-ledak jika disandingkan dengan barisan tim juara di masa lalu. Namun, saat disandingkan dengan data historis, produktivitas gol mereka rupanya bukan yang paling seret.

Gelar juara dengan gol tersedikit masih dipegang oleh Manchester United musim 1992/93 yang hanya mengemas 67 gol. Padahal, Premier League format lama saat itu masih diikuti oleh 22 tim dengan total 42 pertandingan dalam semusim.

Sementara itu, Arsenal saat ini sudah mendulang 69 gol dan punya kans menambah pundi-pundi gol mereka di pekan terakhir.

Sebaliknya, lini pertahanan justru menjadi panggung unjuk gigi yang luar biasa bagi Arsenal. Statistik mencatat mereka hanya kebobolan 26 gol, menempatkan pertahanan The Gunners ke dalam kelompok tim juara dengan pertahanan terbaik sepanjang sejarah Premier League.

Kontras dengan hal tersebut, MU lagi-lagi memegang rekor pertahanan juara terburuk setelah kecolongan hingga 45 gol pada musim 1999/2000.

Angkat Trofi Adalah Jawaban Berkelas

Jika merangkum kelima indikator di atas, performa Arsenal memang memperlihatkan beberapa celah, namun mereka juga memiliki rapor yang sangat impresif, khususnya di sektor pertahanan. Secara objektif, tidak ada satu pun data valid yang bisa membenarkan label “juara terburuk sepanjang sejarah Premier League” disematkan kepada mereka.

Sebuah paradoks yang menggelitik justru mencuat ke permukaan: tim yang paling sering mendominasi statistik merah di daftar tim juara tersebut adalah Manchester United musim 1996/97—skuad yang dihuni oleh Paul Scholes sendiri. Dari lima aspek yang dibedah, tim legendaris MU tersebut masuk ke dalam barisan terburuk di setidaknya tiga kategori utama.

Kritik tajam yang semula dilemparkan untuk menjatuhkan mental Arsenal, pada akhirnya justru berbalik menjadi bumerang yang memojokkan sejarah klub sang pengkritik sendiri.

Namun, di luar perdebatan statistik tersebut, ada hal yang jauh lebih penting untuk direnungkan. Sepak bola tidak pernah diukur dari opini subjektif atau sekadar komentar kontroversial di media sosial.

Hasil akhir sepak bola abadi di dalam tabel klasemen akhir—satu-satunya hal yang tidak akan pernah berubah oleh waktu.

Sejarah selalu mencatat hasil akhir dengan dingin. Publik tidak akan terus-menerus mengingat siapa yang bermain lebih indah, siapa yang tampil lebih dominan, apalagi mengingat kebisingan kritik di pertengahan musim.

Sejarah hanya akan mengingat satu hal: siapa sang juara. Arsenal era Mikel Arteta, meski sempat diragukan dan dipandang sebelah mata, sukses menuntaskan misi paling krusial, yaitu merengkuh trofi Liga Inggris. Dan dalam dunia sepak bola, mengangkat piala di akhir musim selalu menjadi jawaban paling telak untuk membungkam segala bentuk keraguan.

Scr/Mashable





Don't Miss