Jose Mourinho dikabarkan siap kembali ke Santiago Bernabeu. Namun, pelatih asal Portugal tersebut meminta peran lebih besar dalam kebijakan transfer dan kontrol ketat terhadap ruang ganti Real Madrid.
Melansir laporan dari AS, Real Madrid kini tengah mempercepat rencana untuk memulangkan Jose Mourinho sebagai pelatih kepala guna menggantikan Alvaro Arbeloa setelah musim 2025/26 yang mengecewakan. Sang “Special One” kini muncul sebagai kandidat nomor satu dalam daftar belanja klub raksasa Spanyol tersebut.
Hingga saat ini, komunikasi baru terjalin antara agen Mourinho, Jorge Mendes, dengan manajemen Real Madrid. Mourinho sendiri belum melakukan negosiasi langsung dengan mantan klubnya tersebut karena ingin fokus sepenuhnya menuntaskan musim bersama Benfica.
Klub asal Portugal itu masih memiliki peluang untuk mengamankan tiket Liga Champions, dan Mourinho tidak ingin fokusnya terpecah. Benfica dijadwalkan menutup musim pada akhir pekan 16-17 Mei mendatang. Setelah tanggal tersebut, masa depan Mourinho baru akan diputuskan.
AS menyebutkan bahwa Benfica sebenarnya telah menyodorkan tawaran perpanjangan kontrak untuk Mourinho. Namun, prospek kembali ke Bernabeu diyakini cukup kuat untuk mengubah semua rencana tersebut.
Sumber dari Spanyol mengungkapkan bahwa Mourinho memiliki dua syarat utama jika ia menerima mandat memimpin Real Madrid untuk kedua kalinya dalam kariernya.
Pertama, ia ingin dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan skuad. Mourinho tidak menuntut hak mutlak untuk menentukan nama pemain yang harus dibeli, namun ia ingin memiliki suara dalam menentukan posisi mana saja yang perlu diperkuat. Dalam penilaiannya, skuad Real Madrid saat ini mengalami ketidakseimbangan yang serius antar lini.
Pada periode pertamanya di Madrid, Mourinho memang memberikan dampak besar pada kebijakan transfer klub. Nama-nama seperti Luka Modric, Sami Khedira, hingga Mesut Ozil didatangkan berdasarkan arahan strategisnya dan kemudian menjadi pilar penting tim.
Syarat kedua berkaitan dengan kontrol internal tim. Mourinho menuntut agar hierarki di dalam klub dihormati sepenuhnya, dan area tim utama harus berada di bawah kendali mutlak staf pelatih.Targetnya adalah untuk menghindari terulangnya masalah ketidakstabilan di ruang ganti Real Madrid musim ini, terutama ketegangan yang sempat melibatkan Vinicius dan Xabi Alonso.
Real Madrid kini memiliki waktu sekitar 10 hari setelah musim Benfica berakhir untuk mengaktifkan klausul pelepasan kontrak Mourinho yang bernilai 3 juta euro.
Benarkah Mourinho Jawaban yang Tepat untuk Real Madrid?
Pertanyaannya kini bukan lagi kapan Jose Mourinho datang, melainkan: Untuk apa Mourinho kembali ke Real Madrid?
Real Madrid saat ini tidak hanya sedang krisis pelatih hebat. Mereka sedang kehilangan identitas, harga diri, dan sangat membutuhkan revolusi total.
Kekalahan 0-2 dari Barcelona dalam duel El Clasico pada Sabtu (11/5) dini hari WIB mungkin terlihat tipis secara skor. Namun, angka tersebut tidak menggambarkan betapa kacau balanya permainan Los Blancos di Camp Nou.
Itu bukan lagi gambaran tim yang pernah mendominasi Eropa. Real Madrid saat ini tampak seperti tim yang kehilangan arah, tanpa energi, dan hampir tidak punya semangat juang. Bahkan, ketegangan antar pemain di lapangan terasa dipaksakan, seolah-olah mereka hanya mencoba menutupi wajah lesu dengan perlawanan yang hampa.
Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah krisis ini sudah merambah ke luar masalah teknis. Insiden adu mulut antara Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni di ruang ganti hanyalah puncak dari gunung es. Rumor perpecahan internal, rasa frustrasi para pemain pilar, hingga atmosfer berat di sekitar Bernabeu terus menggerogoti Madrid setiap harinya.
Di tengah situasi pelik inilah, nama Jose Mourinho tiba-tiba muncul sebagai “juru selamat” terakhir. Namun, pertanyaannya, apakah Mourinho masih relevan dengan kondisi Real Madrid saat ini?
Jawabannya mungkin tidak.
Real Madrid saat ini tidak butuh sekadar ikon untuk menenangkan emosi suporter. Mereka butuh rencana pembangunan ulang yang serius.
Mourinho memang pernah meletakkan fondasi bagi era keemasan Madrid modern. Ia menciptakan tim yang penuh karakter, haus kemenangan, dan mampu meladeni Barcelona terbaik sepanjang sejarah.
Namun, sepak bola telah berubah. Masalah Real Madrid sekarang bukan cuma soal siapa yang duduk di kursi pelatih.
Los Blancos kekurangan struktur, stabilitas, dan motivasi dari para bintang besarnya.
Kylian Mbappe absen di laga terpenting musim ini. Vinicius Junior dan Jude Bellingham seolah “menghilang” di bawah tekanan hebat di Camp Nou. Sementara itu, pelatih Alvaro Arbeloa tampak tidak berdaya untuk memberikan respons yang mampu mengubah keadaan.
Tim seperti ini tidak akan berubah hanya dengan mengandalkan aura masa lalu Mourinho. Memulangkan The Special One sekarang tak ubahnya melemparkannya ke dalam ruang ganti yang retak dan menuntutnya melakukan keajaiban lama.
Real Madrid tahun 2026 bukanlah Real Madrid yang dibangun Mourinho lebih dari satu dekade lalu. Bernabeu butuh revolusi jangka panjang yang radikal dan waktu agar semuanya bisa berjalan mulus kembali.
Jika tidak, pelatih mana pun—termasuk Mourinho sekalipun—hanya akan menjadi “tumbal” berikutnya di tengah reruntuhan kerajaan yang sedang terpuruk ini.
Scr/Mashable















