Pelatih Bournemouth Minta Hadiah ke Mikel Arteta usai Bantu Arsenal Juara Liga Inggris

20.05.2026
Pelatih Bournemouth Minta Hadiah ke Mikel Arteta usai Bantu Arsenal Juara Liga Inggris
Pelatih Bournemouth Minta Hadiah ke Mikel Arteta usai Bantu Arsenal Juara Liga Inggris

Keberhasilan Arsenal menyegel gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 tidak lepas dari “bantuan” tak terduga Bournemouth. Usai berhasil menahan imbang Manchester City, manajer Bournemouth, Andoni Iraola, langsung melontarkan kelakar jenaka yang ditujukan khusus untuk sahabat masa kecilnya, Mikel Arteta.

Peta persaingan kasta tertinggi Liga Inggris musim ini akhirnya mencapai titik balik krusial. Kegembiraan luar biasa langsung meledak di kubu London Utara setelah Arsenal dipastikan mengunci takhta juara, mengakhiri dahaga gelar yang telah berlangsung selama 22 tahun.

Menariknya, sosok yang bertindak sebagai “pelayan” tidak langsung bagi pesta juara The Gunners adalah Andoni Iraola. Lewat racikan taktiknya yang brilian, Bournemouth sukses meredam agresivitas Manchester City dan memaksakan hasil imbang 1-1.

Kegagalan The Citizens meraih poin penuh di laga tersebut membuat perolehan poin Arsenal sudah tidak mungkin lagi terkejar. Trofi juara pun resmi terbang ke Emirates Stadium.

Guyonan Minta Hadiah

Usai laga sengit tersebut, Iraola langsung dicecar pertanyaan oleh awak media. Jurnalis penasaran apakah dirinya mengharapkan tanda terima kasih khusus dari Arteta atas “bantuan gratis” yang meloloskan Arsenal jadi juara. Menanggapi hal itu, juru taktik asal Spanyol tersebut menjawab dengan sangat jenaka.

“Wah, kalau itu (hadiah) tentu akan sangat luar biasa! Saya memang belum sempat memeriksa ponsel, tapi saya rasa minimal saya berhak mendapatkan satu pesan ucapan terima kasih atau sesuatu yang mirip dengan itu,” ujar Iraola sembari tertawa lepas.

Meski demikian, Iraola langsung merendah. Ia menegaskan bahwa The Gunners memang sangat layak berdiri di podium tertinggi sepak bola Inggris musim ini tanpa perlu mendompleng hasil pertandingan tim lain.

“Sejujurnya, Arsenal juara bukan karena hasil imbang kami hari ini. Dengan performa luar biasa yang mereka tunjukkan, mereka cepat atau lambat pasti akan menentukan nasibnya sendiri. Saya sangat ikut berbahagia untuk Arteta. Apa yang ia bangun di sana sungguh luar biasa. Dalam beberapa musim terakhir, Arsenal mampu menunjukkan konsistensi yang sangat mengagumkan,” puji Iraola.

Persahabatan Sejak Kecil

Candaan dan kehangatan di antara kedua manajer ini bukanlah tanpa alasan. Iraola dan Mikel Arteta memiliki ikatan emosional yang sangat mendalam karena sudah bersahabat sejak masa kanak-kanak.

Keduanya tumbuh bersama dan saling bahu-membahu saat menimba ilmu di akademi sepak bola yang sama di Spanyol. Kini, takdir membawa dua sahabat kecil tersebut ke panggung tertinggi untuk mengukir cerita indah di kompetisi sepak bola paling kompetitif di jagat raya.

Bedah Formula Rahasia Arsenal Angkat Trofi Juara Liga Inggris

Arsenal menjuarai Liga Inggris setelah pesaing terdekat Manchester City diimbangi Bournemouth 1-1 di Stadion Vitality, Bournemouth, Rabu 20 Mei 2026 dini hari WIB.

Dengan hasil ini, Arsenal unggul 82 poin, sementara City tertahan di 78 poin, menyisakan satu laga lagi yang tidak memungkinkan City mengejar

Keberhasilan Arsenal menjuarai Liga Inggris menyudahi penantian 22 tahun setelah terakhir kali menjuarai liga pada 2004, demikian catatan Premier League.

Selain itu, Arsenal bangga memiliki lini pertahanan paling kokoh di liga musim ini. Meriam London tercatat hanya kebobolan 26 gol—tujuh gol lebih sedikit dari pesaing terdekat mereka, Manchester City—sekaligus sukses mengemas 19 catatan tanpa kebobolan (clean sheet).

Rekrutmen Pemain yang Jitu

Manajemen Arsenal jor-joran mendukung visi Mikel Arteta dengan menggelontorkan dana lebih dari £250 juta (sekitar Rp5 triliun) untuk mendatangkan delapan pemain baru pada bursa transfer musim panas lalu. Di bawah komando Direktur Olahraga baru, Andrea Berta, Viktor Gyokeres mendarat sebagai rekrutan bintang klub.

Meski sempat dihujani kritik di awal kedatangannya, torehan 21 gol dari Gyokeres berhasil menjawab tuntas kebutuhan Arsenal akan sosok striker yang haus gol.

Selain itu, sihir Eberechi Eze kerap menghadirkan momen krusial di lapangan, sementara Martin Zubimendi menjelma menjadi pilar yang nyaris tak tergantikan di lini tengah. Christian Mosquera, yang diboyong dengan harga miring sebesar £13 juta, bersama pemain pinjaman Piero Hincapie, berhasil mempertebal tembok pertahanan Arsenal yang memang sudah tangguh.

Jangan lupakan pula kehadiran Declan Rice yang ditebus dari West Ham dengan rekor klub £100 juta pada 2023 lalu, yang kontribusinya terbukti tak ternilai harganya.

Mentalitas Juara

Setelah tiga musim berturut-turut hanya menjadi runner-up dan sempat puasa trofi sejak tahun 2020, kekuatan mental para penggawa Arsenal benar-benar diuji secara ekstrem. Begitu mereka kalah di final Carabao Cup dari City, tersingkir dari FA Cup oleh Southampton, dan sempat kehilangan puncak klasemen Premier League, anak asuh Arteta langsung dicemooh dan dituduh “membuang peluang juara” (bottling).

Seorang suporter City bahkan sempat mengejek dengan gestur ‘meminum’ dari botol berlogo Arsenal, disusul oleh gelombang rundungan yang jauh lebih riuh di media sosial. Namun, para pemain Arsenal memilih menutup telinga dari segala kebisingan luar. Mereka fokus di lapangan dan berhasil tertawa paling akhir di podium juara.

Tembok Pertahanan Kokoh

Arsenal menjelma menjadi tim dengan lini belakang paling ‘pelit’ di liga setelah hanya kebobolan 26 gol (unggul 7 gol dari Man City) dan meraih 19 clean sheet. Saat pertama kali didatangkan dari Brentford untuk menggeser Aaron Ramsdale, kedatangan David Raya sempat diragukan dan dinilai layaknya petasan basah yang gagal meledak.

Namun, Raya membuktikan kelasnya dan membawa Arsenal ke level yang lebih tinggi lewat serangkaian penyelamatan krusial penentu kemenangan, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai salah satu kiper terbaik di dunia saat ini.

Di depan Raya, duet Gabriel Magalhaes dan William Saliba terus berkembang menjadi salah satu kemitraan bek tengah terbaik yang pernah disaksikan dalam sejarah Premier League. Dampak instan ini juga tidak lepas dari tangan dingin Gabriel Heinze yang bergabung sebagai pelatih khusus pertahanan musim panas lalu.

Masalah indisipliner yang sempat merugikan klub pada musim sebelumnya pun berhasil dibenahi; terbukti Arsenal belum menerima satu pun kartu merah sepanjang musim ini.

Master Skema Bola Mati

Di bawah arahan pelatih taktik Nicolas Jover, Arsenal bertransformasi menjadi master bola mati yang sangat mematikan. Gol penentu kemenangan Kai Havertz saat melawan Burnley menjadi gol ke-18 Arsenal yang lahir dari situasi sepak pojok di liga musim ini—sebuah rekor baru yang menyumbang 26% dari total 69 gol mereka. Ditambah lagi, ada lima gol lain yang lahir dari skema tendangan bebas.

Menariknya, Arsenal tercatat hanya mencetak 41 gol dari situasi permainan terbuka (open play). Angka ini akan menjadi yang terendah bagi seorang juara Premier League, kecuali jika mereka mampu menggelontorkan lima gol ke gawang Crystal Palace di laga pamungkas untuk menyamai rekor Leicester City pada tahun 2016 (46 gol).

Atmosfer Magis Stadion Emirates

Sejak pertama kali menakhodai klub, salah satu prioritas utama Arteta adalah mengubah atmosfer Stadion Emirates dan menyatukan kembali basis suporter yang sempat kecewa. Arteta berperan besar dalam memperkenalkan lagu karya Louis Dunford, musisi kelahiran Islington, yang berjudul “The Angel”—atau yang lebih dikenal suporter dengan tajuk “North London Forever”—sebagai lagu wajib sebelum pertandingan dimulai.

Meski awalnya sempat dicibir, lagu ini terbukti ampuh menyatukan para pendukung dan kini telah mengalir dalam DNA klub. Declan Rice bahkan menggambarkan atmosfer stadion saat Arsenal membungkam Atletico Madrid di laga semifinal baru-baru ini sebagai atmosfer paling luar biasa dan bising sepanjang 20 tahun sejarah berdirinya Stadion Emirates.

Percaya Proses

Minimnya perolehan trofi di awal karier Arteta serta metode kepelatihannya yang aneh kerap kali mengundang kritik tajam. Mulai dari taktik menggunakan bola lampu untuk memotivasi tim, memutar lagu “You’ll Never Walk Alone” dengan pelantang suara keras saat latihan sebelum bertandang ke Anfield, hingga instruksi janggal agar para pemain memegang pena dalam sebuah sesi latihan tak biasa.

Kritik juga sering datang karena timnya dianggap terlalu ketergantungan pada bola mati, belum lagi aksi emosional Arteta di pinggir lapangan.

Namun, hasil akhir tidak pernah berbohong. Tepat 2,342 hari sejak pertama kali ditunjuk sebagai manajer, Arteta akhirnya sukses mempersembahkan trofi liga pertama bagi Arsenal dalam 22 tahun terakhir.

Dengan partai final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain yang sudah menanti pada 30 Mei mendatang, Arteta berpeluang mengukir sejarah baru sebagai manajer pertama yang membawa Arsenal rajah di panggung tertinggi Eropa. Kontrak pelatih asal Spanyol ini akan habis pada tahun 2027, tetapi penandatanganan perpanjangan kontrak pada musim panas ini diyakini hanyalah formalitas belaka.

Scr/Mashable





Don't Miss