Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengumumkan kebijakan verifikasi gender wajib dan pengecualian atlet transgender dari ajang olahraga wanita, untuk melindungi keadilan dan keselamatan dalam kompetisi.
IOC baru saja mengeluarkan peraturan baru mengenai kriteria kelayakan untuk cabang olahraga putri. Sesuai dengan peraturan tersebut, atlet transgender tidak lagi diizinkan untuk berkompetisi dalam kategori ini, dan semua atlet wajib menjalani tes gender.
Inti dari kebijakan ini adalah tes genetik SRY, yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. IOC berpendapat bahwa metode ini secara jelas mengidentifikasi faktor biologis, sehingga melindungi keadilan, keselamatan, dan integritas olahraga wanita.
Peraturan baru ini juga berlaku untuk atlet dengan disforia gender (DSD). Individu-individu ini harus menunjukkan bahwa mereka tidak mendapatkan manfaat dari faktor-faktor terkait testosteron yang dapat memengaruhi performa mereka.
Langkah IOC ini mengikuti tren peraturan yang lebih ketat dari federasi olahraga internasional. Sebelumnya, Federasi Atletik Dunia mewajibkan atlet wanita untuk menjalani pengujian serupa agar memenuhi syarat untuk kompetisi besar.
Presiden IOC, Kirsty Coventry, menekankan bahwa keputusan ini didasarkan pada bukti ilmiah dan dikembangkan oleh para ahli medis. Ia berpendapat bahwa bahkan perbedaan kecil pun dapat menentukan kemenangan atau kekalahan di Olimpiade, sehingga memastikan keadilan sangatlah penting. Lebih jauh lagi, dalam beberapa cabang olahraga, keselamatan adalah yang utama.
Namun, kebijakan baru ini tidak lepas dari kontroversi. Lebih dari 80 organisasi hak asasi manusia dan olahraga telah menyerukan kepada IOC untuk membatalkan rencana pengujian gender wajib, tetapi usulan ini tidak diterima.
Sebagian pihak berpendapat bahwa peraturan tersebut membantu melindungi atlet wanita dari kekurangan fisik. Namun, pihak yang menentang khawatir peraturan tersebut dapat merugikan dan menciptakan hambatan lebih lanjut bagi para atlet.
Faktanya, kontroversi telah muncul sejak Olimpiade Paris 2024, yang melibatkan dua petinju, Imane Khelif dan Lin Yu-ting. Keduanya awalnya dipertanyakan tentang orientasi seksual mereka setelah tes yang dilakukan oleh Asosiasi Tinju Internasional, meskipun ada perkembangan yang saling bertentangan mengenai keabsahan hasilnya.
Sementara itu, kasus Laurel Hubbard, atlet angkat besi transgender yang berkompetisi di Olimpiade Tokyo 2021, dipandang sebagai tonggak sejarah yang mendorong para administrator olahraga untuk mempertimbangkan kembali sistem regulasi yang berlaku saat ini.
Menurut IOC, tes gen SRY dapat dilakukan menggunakan air liur, darah, atau usapan pipi, dengan biaya sekitar £185. Namun, belum jelas apakah atlet harus membayar biaya ini sendiri.
Salah satu poin penting adalah bahwa peraturan baru ini saat ini hanya berlaku di tingkat Olimpiade dan belum diperluas ke sistem olahraga akar rumput. Ini berarti bahwa perdebatan tentang keadilan dalam olahraga wanita kemungkinan akan terus berlanjut di masa mendatang.
Scr/Mashable


















