Michael Carrick terus-menerus diremehkan oleh mantan rekan setimnya di Manchester United yang diduga ‘iri’. Namun, sang manajer interim tersebut tampaknya akan segera tertawa paling akhir.
Klaim mengejutkan ini mencuat dalam program Inside Devils di talkSPORT, seiring melonjaknya reputasi Carrick setelah sukses membawa Setan Merah mengamankan tiket Liga Champions musim depan.
Menurut laporan talkSPORT, manajemen Carrick dijadwalkan akan segera membuka pembicaraan dengan pihak klub untuk mengangkatnya sebagai manajer permanen di Old Trafford.
Meski diskusi formal belum dimulai—dan Manchester United kabarnya juga mempertimbangkan bos Aston Villa, Unai Emery—pria asal Inggris tersebut kini berada di posisi terdepan untuk memimpin proyek jangka panjang klub.
Lonjakan Performa di Bawah Carrick
Sejak mengambil alih kursi kepelatihan sementara pada Januari lalu, Carrick berhasil membawa perubahan luar biasa bagi performa Man United.
Kepastian tiket Liga Champions didapat setelah mereka menumbangkan Liverpool dengan skor ketat 3-2. Hasil ini sekaligus mengunci posisi Setan Merah yang hampir dipastikan finis di peringkat ketiga Liga Inggris.
Dari 15 pertandingan yang ia pimpin di pinggir lapangan, Carrick mencatatkan rekor impresif: 10 kemenangan, 3 hasil imbang, dan hanya menelan 2 kekalahan. Total, ia sukses meraup 33 poin berharga bagi klub.
Namun, di balik dampak positif yang ia bawa, mantan bintang United ini terus menghadapi keraguan terkait kelayakannya menjadi manajer jangka panjang. Ironisnya, kritik paling keras justru datang dari deretan mantan rekan setimnya yang kini menjadi pundit ternama.
Dianggap ‘Adik Kecil’ dan Dijadikan Bahan Candaan
Para ikon Old Trafford seperti Paul Scholes, Roy Keane, dan Gary Neville, kompak memperingatkan manajemen United agar tidak mempermanenkan Carrick di musim panas nanti. Bahkan, Neville secara terang-terangan mendesak pria berusia 44 tahun itu untuk mundur setelah berhasil mengamankan posisi empat besar.
“Cara beberapa anggota Class of 92 membicarakannya sangat menarik. Saya melihat Gary Neville mengatakan sesuatu beberapa minggu lalu di The Overlap,” ujar pembawa acara talkSPORT, Flex.
Flex menambahkan, “Saya merasa mereka seperti menganggap Carrick sebagai ‘adik kecil’ (little bro), seperti sedang merundung atau mencandainya. Mereka seolah bilang, ‘Dia itu Michael yang dulu di ruang ganti—dia tidak pernah bicara keras. Dia tidak punya potongan sebagai bos besar.’ Ini sangat tidak adil bagi seseorang yang sudah memenangkan lima gelar Premier League.”
“Apakah Anda merasa ada stigma yang melekat pada Carrick, seolah-olah dia bukan sosok yang tepat untuk posisi ini?” tanya Flex.
Kecemburuan Para Legenda Setan MerahMenanggapi hal tersebut, Jamie Jackson, koresponden sepak bola Manchester untuk The Guardian, menilai situasinya lebih ekstrem. Ia menduga para legenda United tersebut merasa cemburu dengan kesuksesan Carrick.
Jackson menyoroti bagaimana para pundit ini jauh lebih suportif ketika Ole Gunnar Solskjaer menjabat sebagai manajer, berbeda dengan perlakuan dingin yang diterima Carrick.
“Ada bagian dari diri saya yang berpikir mereka tidak akan se-subjektif atau se-tidak adil itu. Tapi saat mendengar komentar tersebut, saya berpikir, ‘Apa sebenarnya yang mereka bicarakan?'” kata Jackson.
“Tampaknya kesalahan terbesar Carrick adalah dia tidak mencetak gol kemenangan di final Liga Champions 1999 seperti Ole, sosok yang sangat mereka puja karena momen itu. Saya sangat terkejut.”
Gagal di Karier Manajerial Sendiri?
Di antara para peragu, mantan kapten legendaris Roy Keane dikenal memiliki hubungan yang renggang dengan Carrick. Keduanya bahkan sempat terlibat perseterihan publik yang menyeret istri Carrick pada tahun 2014 silam—momen yang dinilai banyak pihak menjadi alasan mengapa Keane enggan melihat Carrick sukses.
Namun, Jackson berargumen bahwa penolakan para mantan pemain ini berakar dari kegagalan karier kepelatihan mereka sendiri yang tidak secemerlang Carrick.
“Ini sangat menarik karena Michael Carrick sebenarnya adalah karakter yang paling kalem dan jauh dari konflik di era keemasan United dulu,” jelas Jackson.
“Dia adalah pemain hebat dan memenangkan segalanya. Musim 2008 saat United menjuarai Liga Champions, dia adalah starternya. Jadi, penolakan ini terasa sangat aneh. Kita harus berani menyimpulkan bahwa ada sedikit rasa iri karena Carrick berhasil melakukan apa yang gagal mereka lakukan.”
Jackson kemudian membandingkan rekam jejak kepelatihan para pundit tersebut.
“Gary Neville mengalami bencana saat melatih Valencia. Roy Keane terhitung lumayan saat membawa Sunderland promosi, tapi itu level yang berbeda. Di level tertinggi sepak bola, Carrick telah melampaui mereka, dan mereka tampaknya tidak menyukai fakta tersebut.”
“Sementara dengan Ole, mereka bersikap berbeda karena faktor gol sejarah itu. Ole mungkin sosok yang lebih ceria dan lebih sering mengalah kepada mereka saat masih bermain. Di mata mereka, Ole tahu tempatnya. Sedangkan Michael adalah sosok yang sangat percaya diri, mandiri, dan tenang. Mungkin ada dinamika ego yang bermain di sini,” tutup Jackson.
Scr/Mashable
















