Juventus kini berada dalam situasi darurat menyusul rangkaian hasil minor yang mengancam partisipasi mereka di Liga Champions musim 2026/2027. Setelah babak belur di pekan krusial Serie A, pertanyaan besar kini muncul: seberapa besar kerugian materi yang harus ditanggung Si Nyonya Tua jika sampai terlempar dari kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut?
Petaka terbaru hadir saat skuad asuhan Luciano Spalletti dipaksa menyerah 0-2 dari Fiorentina di markas sendiri, Stadion Allianz. Ironisnya, di saat Juventus terjungkal, para rival berburu tiket Eropa seperti Napoli, AC Milan, AS Roma, hingga tim kejutan Como justru kompak mengamankan poin penuh.
Hasil buruk akhir pekan kemarin melempar Bianconeri ke peringkat keenam klasemen sementara. Dengan menyisakan satu laga pamungkas, Juve tertinggal dua poin dari zona empat besar. Nasib mereka kini tak lagi di tangan sendiri; Dusan Vlahovic dan kolega wajib menang di pekan terakhir sembari berdoa agar AS Roma dan Como terpeleset.
Memori Kelam Musim 2023/2024: Kerugian Rp3,3 Triliun
Bagi Juventus, absen di Liga Champions adalah mimpi buruk yang sangat ingin mereka hindari. Terakhir kali mereka absen dari panggung tertinggi Eropa adalah pada musim 2023/2024 lalu. Kala itu, Juve dijatuhi sanksi pengurangan 10 poin di Serie A dan dilarang tampil di kompetisi UEFA akibat pelanggaran regulasi finansial (Financial Fair Play).
Di luar musim kelam tersebut, Juventus merupakan langganan tetap Liga Champions yang tak pernah absen sejak musim 2012/2013.
Efek absennya Juve pada musim 2023/2024 langsung menghantam neraca keuangan klub secara brutal. Juventus mencatatkan rekor kerugian terbesar mereka dalam tiga tahun terakhir, dengan angka kerugian bersih mencapai €199 juta (sekitar Rp3,39 triliun). Pendapatan klub pun merosot tajam hingga €78 juta (sekitar Rp1,33 triliun) hanya dalam satu musim.
Berikut adalah potret pasang-surut keuangan Juventus selama tiga musim terakhir:
Pendapatan Juventus:
- 2022/2023: €438 juta (Rp7,46 Triliun)
- 2023/2024 (Tanpa Liga Champions): €360 juta (Rp6,13 Triliun)
- 2024/2025: €420 juta (Rp7,15 Triliun)
Kerugian Bersih Juventus:
- 2022/2023: -€124 juta (-Rp2,11 Triliun)
- 2023/2024 (Tanpa Liga Champions): -€199 juta (-Rp3,39 Triliun)
- 2024/2025: -€58 juta (-Rp988 Miliar).
Liga Malam Jumat Bukan Solusi Finansial
Berbeda dengan musim 2023/2024 saat mereka dilarang tampil di Eropa sama sekali, musim depan Juventus setidaknya sudah mengunci satu tiket aman ke Liga Europa (kondisi terburuk).
Namun, bermain di kompetisi kasta kedua atau “Liga Malam Jumat” jelas tidak bisa menambal lubang finansial klub. Secara bisnis, hadiah dan hak siar Liga Europa kalah jauh kelasnya dibanding Liga Champions.
Melansir laporan dari La Gazzetta dello Sport, perbandingan kasarnya sangat jorok. Jika Juventus diasumsikan mampu melaju hingga babak 16 besar Liga Champions, pendapatan yang mereka terima masih jauh lebih besar ketimbang skenario jika mereka berhasil lolos hingga perempat final atau semifinal Liga Europa.
Selisih kehilangan pendapatan yang harus ditelan Juventus akibat turun kasta ini diperkirakan mencapai €55 juta hingga €60 juta (berkisar antara Rp937 miliar hingga Rp1,02 triliun). Kehilangan angka sebesar ini dipastikan akan mengacaukan rencana belanja pemain mereka di bursa transfer musim panas mendatang.
Kini, laga pamungkas Serie A akhir pekan nanti bukan lagi sekadar perebutan gengsi, melainkan laga hidup mati demi menyelamatkan masa depan finansial sang raksasa Turin.
Scr/Mashable















