Paris Saint-Germain (PSG) tidak mau setengah-setengah dalam mempersiapkan diri menjelang laga final Liga Champions 2025/2026 melawan Arsenal di Budapest pada 30 Mei mendatang. Demi meredam agresivitas wakil Inggris tersebut, raksasa Prancis ini sampai menerapkan metode latihan yang tidak biasa.
Menurut laporan media Inggris, skuad asuhan Luis Enrique sengaja mengadopsi menu latihan fisik khas olahraga rugby. Strategi ini diambil khusus untuk mengantisipasi skema set piece (situasi bola mati) yang selama ini menjadi senjata mematikan The Gunners.
Dalam sesi latihan terbaru, tim pelatih PSG tampak menggunakan bantalan pelindung tabrakan (collision mats) yang biasa dipakai atlet rugby. Alat ini digunakan untuk mensimulasikan duel fisik yang brutal di dalam kotak penalti.
Para penjaga gawang PSG dipaksa untuk saling bertubrukan dan menahan benturan keras saat mencoba memotong bola atau menghalau tendangan sudut.
Perubahan drastis dalam porsi latihan ini menjadi bukti bahwa Luis Enrique sangat mewaspadai taktik bola mati racikan Mikel Arteta. Sepanjang musim ini di Premier League, Arsenal tercatat sukses menggelontorkan 21 gol hanya dari situasi set piece. Catatan tersebut membuat mereka dinobatkan sebagai salah satu klub paling berbahaya di Eropa dalam urusan bola mati.
Taktik Bola Mati Arsenal yang Penuh Kontroversi
Meski mematikan, gaya bermain Arsenal dalam situasi bola mati kerap mengundang kontroversi. Contoh terbaru terjadi saat laga kontra West Ham pada 10 Mei lalu. Sejumlah penggawa Meriam London panen kritik karena kedapatan sengaja menarik baju dan mengunci pergerakan tangan pemain lawan di area terlarang.
Momen paling memicu perdebatan terjadi pada masa injury time. Gol dari Callum Wilson dianulir oleh wasit Chris Kavanagh setelah meninjau bahwa Pablo sengaja menghalangi pergerakan kiper David Raya yang ingin menangkap bola.
Keputusan tersebut langsung memicu perdebatan panas di ranah sepak bola Inggris, terlebih karena dampaknya yang krusial bagi persaingan gelar juara maupun zona degradasi. Kendati demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan “trik kotor” dan duel fisik yang sangat agresif dalam situasi bola mati kini sudah menjadi hal yang lumrah di Premier League.
Tren Adaptasi Klub: Dari MMA hingga Rugby
Fenomena ini membuat banyak klub Eropa memutar otak untuk beradaptasi, bukan hanya PSG. Sebelumnya, pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, bahkan sempat mengundang petarung MMA ke sesi latihan timnya untuk mengajari para pemain cara meredam benturan dan lolos dari kawalan ketat lawan.
Bagi Luis Enrique sendiri, mengadopsi filosofi olahraga rugby bukanlah hal baru. Juru taktik berusia 56 tahun ini memang dikenal visioner dan sering memasukkan unsur rugby ke dalam sepak bola. Salah satunya adalah kebiasaan Enrique menonton babak pertama dari tribun penonton untuk mendapatkan sudut pandang taktis yang lebih luas.
Ia juga kerap menginstruksikan pemainnya melakukan umpan panjang diagonal ke area sayap demi memenangi keunggulan posisi dan melancarkan pressing ketat.
Laga final di Budapest nanti akan menjadi pembuktian bagi eksperimen ekstrem ini. Jika berhasil menumbangkan Arsenal, PSG tidak hanya akan mempertahankan gelar, tetapi juga mengukir sejarah emas dengan menjuarai Liga Champions dua musim berturut-turut.
Scr/Mashable
















